infosatu.co
Samarinda

Dari Rasa Takut hingga Keyakinan, Cerita Mita Menapaki Dunia Keperawatan

Teks: Mita fresh graduate jurusan Keperawatan

Samarinda, Infosatu.co — Rasa takut menjadi hal pertama yang dirasakan Mita setelah menyelesaikan pendidikannya di jurusan Keperawatan.

Bukan tanpa alasan dunia kesehatan baginya bukan sekadar tempat bekerja melainkan ruang penuh tanggung jawab besar yang menuntut kesiapan mental dan profesional.

Mita mengungkapkan, tantangan terbesar setelah lulus kuliah adalah keberanian untuk memulai.

Ia mengaku lebih banyak dihantui ketakutan, mulai dari rasa tidak percaya diri kekhawatiran tidak sesuai antara ekspektasi dan realita kerja, hingga takut mengecewakan orang-orang yang telah mendukungnya selama masa kuliah.

“Yang paling terasa itu sebenarnya takut memulai. Takut tidak sesuai harapan dan takut mengecewakan orang-orang yang sudah berjuang bersama aku selama kuliah,” ujarnya, Rabu 28 Januari 2026.

Meski demikian, Mita menilai profesi perawat tetap relevan dan akan selalu dibutuhkan.

Menurutnya tenaga kesehatan memiliki peran yang tidak akan pernah tergantikan oleh waktu maupun perkembangan zaman.

“Kalau menurut aku pribadi, profesi perawat itu sangat relevan sampai kapan pun. Tenaga kesehatan pasti akan selalu dibutuhkan dan justru ke depannya akan terus berkembang,” katanya.

Ketertarikan Mita terhadap dunia kesehatan berawal dari rasa penasaran. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang sebagian besar berprofesi sebagai tenaga kesehatan.

Meski berasal dari latar belakang Sekolah Menengah Atas (SMA) tanpa dasar keperawatan ia memberanikan diri mencoba jalur yang sama.

Awal menjalani pendidikan keperawatan bukanlah hal mudah baginya. Tanpa bekal dasar Mita harus beradaptasi dengan materi, praktik, dan ritme dunia kesehatan yang menuntut kedisiplinan tinggi.

Namun seiring waktu ia justru menemukan banyak pengalaman baru yang membuatnya semakin yakin dengan pilihannya.

“Awalnya pasti sulit, apalagi tidak punya basic sama sekali. Tapi setelah dijalani, ternyata seru,’ katanya. Banyak hal baru, banyak pengalaman, dan di situ aku yakin kalau ini pilihan terbaik buat masa depan aku,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar profesi Mita memandang dunia kesehatan sebagai ruang pembentukan karakter.

Baginya menjadi perawat bukan hanya soal keterampilan medis, tetapi juga tentang empati, kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama.

“Banyak orang sakit di luar sana yang benar-benar membutuhkan tenaga medis. Dari situ aku belajar jadi pribadi yang lebih sederhana dan punya empati,” tuturnya.

Saat ini, Mita menilai apa yang ia jalani sudah sejalan dengan harapannya.

Bahkan ia merasakan peningkatan terutama dari segi pelayanan dan pemahaman terhadap tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan.

“Kalau sekarang aku merasa masih sejalan, bahkan sudah jauh lebih baik dari segi pelayanan dalam bekerja,” katanya.

Mita menyampaikan harapan yang sederhana namun bermakna. Ia tidak menargetkan hal muluk, selain ingin melihat orang-orang yang ia sayangi hidup sehat dan bahagia.

Related posts

Isran Noor Nilai Organisasi Adat Penting untuk Jaga Martabat Kalimantan

Andika

Kereta Hantu Pertama Hadir di Samarinda, Pelajar Akui Seram dan Menantang

Firda

Buka Tutup Jembatan, Polisi Simulasikan Rekayasa Lalu Lintas Malam Hari

Andika

Leave a Comment

You cannot copy content of this page