Samarinda, Infosatu.co – Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat berdampak pada penurunan curah hujan di Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang pertengahan hingga akhir 2026.
Kondisi ini membuat sejumlah wilayah mengalami periode kering dengan curah hujan di bawah kondisi normal.
Penurunan curah hujan mulai terjadi pada Juli 2026 dan mencapai titik terendah pada Agustus.
Berdasarkan paparan Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda, anomali penurunan curah hujan pada Agustus mencapai lebih dari 80 persen.
Kondisi tersebut berlanjut hingga September 2026. Pada dasarian III atau periode 20-30 September, sebagian wilayah Kaltim masih mengalami curah hujan kategori rendah. Sejumlah daerah juga mencatat hari tanpa hujan dengan durasi beragam, bahkan terdapat wilayah yang masuk kategori kekeringan ekstrem.
Prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda Bai’at Alhadid menjelaskan penurunan curah hujan tersebut berkaitan dengan penguatan El Nino.
Berdasarkan analisis suhu muka laut di wilayah Nino 3.4, anomali periode Juli-September 2026 mencapai plus 2,70 yang menunjukkan El Nino kategori sangat kuat.
“Memang dampaknya cukup terasa terhadap curah hujan di Kaltim. Penurunannya mulai terlihat sejak Juli, kemudian Agustus menjadi periode dengan curah hujan paling rendah,” kata Bai’at dalam konferensi pers prediksi musim hujan 2026-2027 di Kalimantan Timur melalui Zoom Meeting, Jumat, 9 Oktober 2026.
Dia menjelaskan, kondisi hari tanpa hujan di Kaltim bervariasi. Wilayah dengan periode hari tanpa hujan terpanjang umumnya berada di Paser, Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat.
Pengaruh El Nino terhadap curah hujan juga terlihat pada kejadian serupa pada 1997 dan 2015. Berdasarkan pola pada kedua tahun tersebut, curah hujan di Kaltim umumnya masih mengalami penurunan hingga Oktober, sebelum mulai meningkat pada November dan Desember.
Meski demikian, peningkatan curah hujan pada akhir tahun perlu dilihat berdasarkan perkembangan kondisi atmosfer. BMKG memprakirakan El Nino masih bertahan hingga awal 2027 sehingga perubahan kondisi cuaca tetap perlu dipantau.
“Kalau melihat kejadian El Nino pada 1997 dan 2015, curah hujan biasanya mulai meningkat pada November dan Desember. Namun, untuk kondisi sekarang, kita tetap perlu mengikuti perkembangan cuaca karena El Nino diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027,” tandasnya.
