infosatu.co
Samarinda

Banjir Langganan di Perum Loa Janan Indah, Warga Soroti Hilangnya Daerah Resapan

Teks: Kondisi Banjir Perum Loa Janan Indah (Infosatu.co/Andika)

Samarinda, Infosatu.co — Adrian, Warga Perumahan (Perum) Loa Janan Indah atau lebih dikenal dengan Perum Haji Saleh di Kecamatan Loa Janan, Samarinda menyebut, banjir yang kerap melanda kawasan tempat tinggalnya merupakan persoalan tahunan yang kini semakin parah dalam satu hingga dua tahun terakhir.

Menurutnya, peningkatan intensitas hujan dan berkurangnya daerah resapan air menjadi faktor utama terjadinya genangan yang berlangsung berhari-hari.

“Banjir di sini memang rutin tiap tahun, tapi dulu jarang dan tidak separah sekarang. Sekarang hujan deras beberapa jam saja, air sudah tergenang cukup tinggi di jalan,” kata Adrian, Selasa 2 Februari 2026.

Ia menjelaskan, selain faktor iklim yang tidak stabil, kondisi lingkungan dinilai lebih berpengaruh.

Berkurangnya area resapan air membuat air hujan tidak terserap maksimal dan menggenang lama, terutama jika hujan turun secara beruntun.

Adrian mengakui pemerintah pernah melakukan penanganan banjir di wilayah tersebut, seperti perbaikan saluran irigasi pada 2019 serta peninggian dan perbaikan jalan.

Upaya tersebut sempat memberikan dampak positif karena aliran air menjadi lebih lancar.

“Waktu itu cukup efektif tapi tidak bertahan lama. Karena di sisi lain, daerah resapan air seperti hutan juga terus berkurang,” ujarnya.

Ia juga menyebut banjir di Perum hajisaleh tidak sepenuhnya berasal dari wilayah setempat, melainkan merupakan banjir kiriman dari dataran yang lebih tinggi, seperti kawasan Kilometer 4 Loa Janan.

Dampak banjir, lanjut Adrian sangat dirasakan warga khususnya mereka yang memiliki rumah lebih rendah dari badan jalan.

Sejak banjir kerap terjadi pada rentang 2013–2015, sejumlah warga terpaksa merenovasi rumah dengan meninggikan bangunan.

Menurutnya, puncak banjir terparah terjadi pada 2018 saat hujan deras turun hampir satu pekan penuh. Saat itu ketinggian air mencapai pinggang hingga perut orang dewasa.

“Warga sampai mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau ke rumah yang bertingkat. Aktivitas lumpuh dan banyak yang mengalami kerugian materi,” katanya.

Adrian menilai, hingga kini belum ada langkah serius pemerintah dalam menjaga dan memulihkan daerah resapan air. Justru kawasan hutan di sekitar permukiman semakin terkikis akibat alih fungsi lahan.

Ia berharap pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama dalam mengatasi persoalan banjir.

Pemerintah diminta melakukan revitalisasi saluran irigasi, jalan, serta kawasan resapan air, sementara masyarakat diharapkan lebih peduli menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Kalau saling jalan, banjir ini seharusnya bisa dikurangi,” pungkasnya.

Related posts

LBH Samarinda Terima 39 Aduan GratisPol, dari Dana Telat hingga Pembatalan Sepihak

Andika

Dari Rumah ke Pelanggan, Kasnidar Bangun UMKM Kuliner dengan Modal Terbatas

Andika

Isran Noor Nilai Organisasi Adat Penting untuk Jaga Martabat Kalimantan

Andika

Leave a Comment

You cannot copy content of this page