Samarinda, infosatu.co – Among Kurnia Eboq berkali-kali menyinggung bahwa hidup dan bisnis tidak hanya bekerja secara logika, tetapi juga mengikuti hukum energi.
“Artinya, bagaimana pikiran manusia itu ditangkap dan dipantulkan kembali oleh Semesta,” kata Among Kurnia Eboq.
Pandangan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Entrepreneur University yang digelar di Hotel Ibis Samarinda.
Ketika itu, ia mengajak peserta melihat bahwa pola pikir, keyakinan, dan niat memiliki peran besar dalam menentukan arah hidup dan usaha.
Ia menggambarkan bahwa pikiran yang kotor, ragu, dan penuh ketakutan akan memperlambat jalan hidup, sementara pikiran yang jernih akan mempercepat kejadian.
“Kecepatan hidup itu mengikuti kejernihan pikiran,” ujarnya.
Among menyebut bahwa di tempat-tempat tertentu yang ia analogikan sebagai ruang dengan energi bersih, doa dan niat terasa jauh lebih cepat terwujud.
Ia mencontohkan pengalaman spiritualnya, ketika seseorang tidak membawa pikiran buruk, tidak menghakimi, dan tidak dipenuhi prasangka, maka realitas bergerak lebih cepat.
Ia bahkan menyebut analogi bahwa satu kebaikan di ruang tertentu bisa berlipat hingga ribuan kali, karena tidak ada gangguan pikiran negatif.
“Bukan karena doanya panjang, tapi karena tidak ada pikiran kotor,” tegasnya.
Untuk memperjelas gagasannya, Among juga menuturkan kisah masa kecil Syekh Abdurrahman As-Sudais.
Syekh As-Sudais dari kecil dikenal sangat aktif dan sulit diam, bahkan dalam satu kisah disebut pernah menaburkan pasir ke makanan yang disiapkan ibunya untuk tamu.
Namun, sang ibu tidak membalas dengan kemarahan atau doa buruk. Ia justru mendoakan kebaikan bagi anaknya.
“Semoga Allah menjadikanmu imam di Masjidil Haram”. Ditengah perasaan marahnya karena tidak bisa lagi menasehati anak.
Seiring waktu, doa itu menjadi kenyatan. Anak semasa kecil yang dikenal nakal itu tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dan kemudian dikenal luas sebagai imam besar di Masjidil Haram.
Menurut Among, kisah tersebut menunjukkan bahwa doa, pikiran, dan keyakinan yang terus dipelihara akan menemukan jalannya sendiri, meski prosesnya panjang dan tidak selalu langsung terlihat.
Dalam penjelasannya, Among menegaskan bahwa Semesta bekerja mengikuti frekuensi pikiran manusia.
Karena itu, terlalu banyak mengeluh, mencurigai, atau memikirkan kegagalan justru membuat kegagalan semakin dekat.
Ia menyebut, orang sering tidak sadar bahwa apa yang terus diucapkan dan dipikirkan itulah yang sedang “dipesan” ke Semesta.
“Kalau yang dipikirkan kecil, yang datang kecil. Kalau yang dipikirkan sempit, jalannya sempit,” ujarnya.
Dalam konteks bisnis, Among menilai banyak orang gagal bukan semata karena sistem atau modal, melainkan karena pola pikirnya sudah kalah sebelum bertanding.
Ia mencontohkan orang yang terlalu fokus pada ketakutan rugi, ditipu, atau gagal—yang pada akhirnya benar-benar mengalami hal-hal tersebut.
Sebaliknya, ia mengisahkan bahwa ketika seseorang fokus pada solusi, manfaat, dan keberanian melangkah, maka orang, peluang, dan jalan akan datang sendiri, sering kali dari arah yang tidak disangka.
Ia menegaskan bahwa Semesta selalu merespons, tetapi sesuai dengan isi pikiran manusia.
“Semesta itu nurut. Kita yang sering tidak sadar sedang memesan apa,” tegasnya.
Among juga mengaitkan hal ini dengan kebiasaan bersyukur dan membersihkan pikiran.
Ia menyebut bahwa pikiran bersih membuat keputusan lebih cepat, dan keputusan cepat mempercepat hasil.
“Kalau pikiran ribut, keputusan lambat. Kalau pikiran bersih, jalan dibukakan,” pungkasnya.
