infosatu.co
PEMKOT SAMARINDA

Cegah Difteri dan Tetanus, Puskesmas Palaran Dorong Siswa SD Dapatkan Imunisasi DT

Teks: Puskesmas Palaran mengedukasi sekaligus memberikan vaksinasi DT kepada siswa kelas 1 sekolah dasar sebagai upaya mencegah penyakit difteri dan tetanus.(Foto: Dok/Pemkot Samarinda)

Samarinda, Infosatu.co – Perlindungan kesehatan anak sejak usia sekolah menjadi salah satu langkah penting dalam membangun generasi yang sehat dan tangguh.

Melalui pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), UPTD Puskesmas Palaran mengedukasi sekaligus siap memberikan vaksinasi DT kepada siswa kelas 1 sekolah dasar sebagai upaya mencegah penyakit difteri dan tetanus.

Kepala UPTD Puskesmas Palaran, Setyo Nugroho, menyampaikan imunisasi DT merupakan bagian dari upaya perlindungan kesehatan anak terhadap dua penyakit infeksi yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dicegah sejak dini.

Menurutnya, pemberian vaksinasi pada usia sekolah menjadi langkah penting untuk memperkuat kekebalan tubuh anak.

“Imunisasi DT diberikan untuk melindungi anak-anak dari penyakit difteri dan tetanus. Kami ingin memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan kesehatan yang optimal, sehingga mereka dapat menjalani aktivitas belajar dan tumbuh kembang dengan lebih sehat,” ungkap Setyo, Sabtu, 7 November 2026.

Setyo menerangkan, difteri merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan, gagal jantung, bahkan kematian.

Sementara itu, tetanus merupakan infeksi akibat bakteri Clostridium tetani yang menyerang sistem saraf dan dapat memicu kejang otot berbahaya hingga berakibat fatal.

“Pencegahan melalui imunisasi jauh lebih baik daripada menunggu penyakit muncul. Karena itu, kami mengimbau para orang tua untuk mendukung pelaksanaan BIAS dan memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan,” jelas Setyo.

Selain memberikan perlindungan melalui vaksinasi, Puskesmas Palaran juga memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai kemungkinan terjadinya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Reaksi yang dapat muncul umumnya bersifat ringan dan sementara, seperti demam ringan dengan suhu di bawah 38 derajat Celsius, kemerahan, pembengkakan atau nyeri pada lokasi suntikan, anak menjadi lebih rewel, serta sakit kepala yang jarang terjadi.

“Orang tua tidak perlu panik apabila anak mengalami reaksi ringan setelah imunisasi. KIPI merupakan respons yang mungkin terjadi dan umumnya akan membaik dalam satu hingga tiga hari. Namun, apabila muncul keluhan yang tidak biasa atau kondisinya semakin berat, segera hubungi tenaga kesehatan,” ujar Setyo.

Selain itu, Setyo menambahkan, penanganan KIPI dilakukan melalui pemantauan kondisi anak, pemberian obat sesuai indikasi medis apabila diperlukan, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan jika ditemukan reaksi yang membutuhkan penanganan lebih serius.

Edukasi dan pendampingan kepada orang tua juga menjadi bagian penting agar penanganan dapat dilakukan secara tepat di rumah.

“Keberhasilan imunisasi bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan orang tua, pihak sekolah, dan masyarakat. Kami berharap melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah ini, semakin banyak anak mendapatkan perlindungan sejak dini demi mewujudkan generasi yang sehat, kuat, dan siap meraih masa depan,” tutup Setyo. (ADV)

Related posts

Andi Harun Tekankan Pentingnya Persaudaraan dan Toleransi Di Acara Penahbisan Gereja Toraja Jemaat Bukit Harapan Loa Janan

Musriva

Perkuat Pemberdayaan Warga, Kelurahan Sidodamai Dampingi Penyerahan Sarpras kepada Kelompok Masyarakat

Musriva

Bangga Prestasi Generasi Muda, Andi Harun Beri Apresiasi atas Medali Perak Muhammad Jerry

Musriva