Pasuruan, infosatu.co – Pemberangkatan 1.634 jemaah haji asal Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (Jatim), tak hanya menjadi momen sakral, tapi juga panggung totalitas pengabdian Wakil Bupati Pasuruan, Gus Shobih.
Di tengah padatnya jadwal pelepasan 10 kloter, Gus Shobih tak memilih berdiri di balik meja protokoler. Ia justru turun langsung, menyatu dengan jemaah, memastikan satu per satu proses berjalan aman, nyaman, dan tanpa hambatan.
Puncaknya, saat 372 jamaah kloter 6 diberangkatkan pukul 16.10 WIB, Gus Shobih hadir langsung memimpin pelepasan. Bukan sekadar simbolis, kehadirannya menjadi bukti nyata bahwa pemerintah hadir sepenuh hati untuk warganya.
Namun yang membuat publik tersentuh, komitmennya tak berhenti di tanah air.
“Kalau sudah di sana tidak ada stempel Wabup. Tapi membantu jemaah haji Kabupaten Pasuruan dengan sekuat tenaga,” tegas Gus Shobih, Rabu 22 April 2026.
Pernyataan itu menjadi penegas bahwa di Tanah Suci, ia bukan pejabat, melainkan pelayan jemaah.
Hari pertama pemberangkatan sendiri berlangsung dinamis. Sejak pagi, jamaah kloter 3 dan 4 sudah diberangkatkan.
Siang hari, 62 jemaah kloter 5 dilepas Asisten Pemerintahan dan Kesra Diano Vela Fery. Sore hingga malam, giliran kloter 6 dan 7, dengan kehadiran langsung Gus Shobih dan Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo.
Seluruh jemaah terbagi dalam kloter 3 hingga 12 serta kloter 37, dengan jadwal keberangkatan bertahap hingga 1 Mei 2026.
Plt Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Pasuruan, Akhmad Marzuqi, memastikan seluruh persiapan telah matang.
Pemeriksaan dokumen, kesiapan fisik, hingga pengaturan .jadwal dilakukan secara ketat dan terkoordinasi.
Tak hanya itu, perhatian khusus juga diberikan kepada 70 jemaah kategori rentan. Pendampingan berlapis disiapkan, mulai dari keluarga, pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), hingga petugas haji daerah.
Di tengah kompleksitas tersebut, figur Gus Shobih tampil menonjol. Bukan karena jabatan, tapi karena keberpihakannya. Ia hadir, bekerja, dan berkomitmen mendampingi jemaah hingga ke Tanah Suci.
Sebuah pesan kuat pun tersirat: kepemimpinan bukan sekadar posisi, tapi aksi nyata melayani bahkan di momen paling sakral sekalipun.
