Samarinda, infosatu.co – Buku “Berani Tidak Disukai” karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga, bukan sekadar buku motivasi pengembangan diri.
Buku international bestseller ini adalah dialog filosofis yang mengangkat pemikiran psikologi Alfred Adler tentang kebebasan, tanggung jawab, dan keberanian menjadi diri sendiri.
Percakapan dalam buku ini berlangsung antara seorang filsuf dan seorang pemuda. Sang pemuda datang dengan kegelisahan.
Ia merasa hidup berjalan tidak adil, relasi sosialnya rumit, dan masa lalunya menyakitkan. Ia meyakini trauma dan pengalaman pahitlah yang membentuk dirinya hari ini.
Namun sang filsuf menantangnya dengan gagasan yang tidak biasa, bahwa manusia tidak hidup ditentukan oleh masa lalu, melainkan oleh tujuan dan makna yang ia pilih sekarang.
Bukan Dunia yang Rumit
Salah satu kalimat yang kuat berbunyi, “Bukan dunia yang rumit. Tapi kamulah yang membuat dunia ini rumit.”
Pernyataan ini menjadi fondasi utama buku ini. Dunia pada dasarnya netral. Ia menjadi rumit ketika seseorang memandangnya dengan ketakutan, prasangka, dan keyakinan yang membatasi dirinya sendiri.
Saat dunia terasa misterius dan tidak bersahabat, buku ini mengingatkan bahwa persoalannya bukan tentang bagaimana dunia ini, tetapi tentang bagaimana kamu.
Perubahan, menurut pemikiran Adler yang diangkat dalam buku ini, selalu dimulai dari diri sendiri. Ketika seseorang mengubah cara pandangnya, dunia yang sama bisa terasa berbeda.
Kita Tidak Ditentukan oleh Pengalaman
Buku ini menolak pandangan bahwa masa lalu adalah penentu utama kehidupan.
“Kita tidak ditentukan oleh pengalaman kita, namun makna yang kita berikan pada pengalaman-pengalaman itulah yang menentukan dengan sendirinya.”
Artinya, pengalaman hanyalah fakta. Yang menentukan adalah interpretasi.
Hidup, sebagaimana ditegaskan dalam buku ini, bukanlah sesuatu yang diberikan orang lain.
Hidup adalah pilihan. Manusia bebas menentukan sikapnya, bahkan terhadap peristiwa yang tidak bisa ia ubah.
Terjebak pada Kekurangan, Mengabaikan Kelebihan
Salah satu pembahasan yang relevan dengan banyak orang adalah soal rasa rendah diri.
Buku ini menunjukkan bahwa sering kali seseorang “keliru” dalam memandang dirinya.
“Kamu hanya memperhatikan kekuranganmu agar memiliki alasan untuk tidak menyukai dirimu sendiri. Kamu tidak mau melihat poin-poin yang menjadi kelebihanmu dan hanya fokus pada kekurangan.”
Pada bagian ini terlihat ada dua hal yang ditekankan penulis.
Pertama, bahwa rasa rendah diri bukanlah takdir, melainkan terbentuk dari cara kita memandang diri.
Kedua, ketika seseorang terus-menerus hanya fokus kepada kekurangannya, ia sebenarnya sedang membangun pembenaran untuk tidak berubah.
Pemikiran ini terasa menantang, karena buku ini tidak memberi ruang untuk menyalahkan keadaan.
Sebaliknya, ia mengajak pembaca bertanya, apakah selama ini kita benar-benar melihat diri kita secara utuh, atau hanya memilih bagian yang membuat kita merasa lemah?
Menerima Diri sebagai Langkah Awal
Penerimaan diri disebut sebagai langkah pertama yang vital. Dalam salah satu bagian tertulis:
“Sekurang-kurangnya, aku tidak merasa ingin menjadi orang lain dan aku menerima diriku apa adanya.”
Menerima diri bukan berarti pasrah atau berhenti berkembang. Justru sebaliknya, penerimaan diri adalah fondasi untuk bertumbuh. Ketika seseorang berhenti membandingkan diri dan berhenti mencari pengakuan berlebihan, ia mulai hidup dengan lebih ringan.
Memilih untuk Bahagia
Buku ini juga menghadirkan gagasan yang cukup mengejutkan, pada tahap tertentu kehidupan, seseorang bisa memilih untuk “menjadi tidak bahagia”.
Bukan karena dilahirkan dalam keadaan yang tidak membahagiakan, melainkan karena ia menilai kondisi tersebut sebagai pilihan yang aman atau sesuai dengan tujuannya.
“Yang penting bukanlah dengan apa kamu dilahirkan. Sebaliknya, kamu justru harus berfokus pada bagaimana kamu bisa memanfaatkannya.”
Pesan ini menegaskan bahwa latar belakang bukanlah vonis. Setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan makna dan arah hidupnya.
Hidup di Sini dan Saat Ini
Pada bagian yang tidak kalah kuat, buku ini menyebut, “Dusta kehidupan yang terbesar dari semuanya adalah tidak hidup di sini pada saat ini.”
Terlalu sibuk menyesali masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan membuat seseorang mengabaikan momen yang sedang dijalaninya.
Padahal, hidup yang nyata hanya terjadi di sini dan saat ini.
Keberanian untuk Tidak Disukai
Pada akhirnya, “Berani Tidak Disukai” tidak menghadirkan kisah yang mudah. Buku ini justru menempatkan tanggung jawab kembali pada diri masing-masing.
Di situlah letak keberaniannya, bahwa menjadi diri sendiri, menerima kekurangan dan kelebihan secara utuh, mungkin berarti tidak selalu disukai. Namun dari situlah kebebasan dimulai.
