
Samarinda, infosatu.co — Persoalan penanganan sampah yang belum optimal serta kondisi drainase yang memicu banjir, menjadi aspirasi paling mendesak yang disampaikan masyarakat dalam kegiatan reses masa persidangan tahun 2026.

Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) dari Fraksi NasDem, Kamaruddin, yang dilaksanakan di Sungai Kapih.
Kegiatan reses Daerah Pemilihan (Dapil) I tersebut dihadiri masyarakat dari Kecamatan Samarinda Ilir, Sambutan, dan Samarinda Kota yang menyampaikan langsung berbagai keluhan dan usulan terkait persoalan lingkungan di wilayah
mereka.
Salah satu yang paling banyak disoroti ialah penanganan sampah di kawasan Gunung Mangah dan Jelawat yang dinilai belum optimal.
Warga menilai penumpukan sampah masih kerap terjadi dan memerlukan penanganan yang lebih serius dari pemerintah.
Warga mengusulkan Pemkot Samarinda beralih dari sistem penumpukan konvensional ke pengolahan sampah terpadu yang lebih modern.
Mereka menekankan pentingnya teknologi daur ulang untuk mengubah sampah menjadi kompos atau bahan bakar guna mencegah penumpukan, bau, dan risiko penyakit.
Selain isu lingkungan, sektor infrastruktur juga menjadi sorotan tajam Ketua Rukun Tetangga (RT) 21 Kelurahan Selili, Darwis, khususnya mengenai kondisi drainase di lingkungannya.
Ia mengeluhkan kondisi parit yang sudah tidak layak dan sering kali mengakibatkan banjir saat musim hujan meski intensitas air tidak terlalu tinggi.
“Kami berharap pemerintah segera melakukan normalisasi parit dan karena genangan air yang terus-menerus dikhawatirkan akan mempercepat kerusakan konstruksi jalan di wilayah tersebut,” ungkap Darwis, Minggu Malam, 8 Februari 2026.
Persoalan infrastruktur drainase yang lebih pelik melanda kawasan RT 09 Perumahan Kalimanis, khususnya di area sekitar gedung sekolah dasar.
Warga melaporkan bahwa ketiadaan parit di jalur menanjak menuju sekolahan telah menyebabkan limbah rumah tangga atau air pecomberan meluap dan mengalir bebas ke badan jalan setiap harinya.
Kondisi ini memaksa warga yang melintas, harus berhadapan dengan genangan air kotor bekas cucian piring dan pakaian yang menebarkan bau tidak sedap.
Kondisi akan semakin memprihatinkan saat hujan turun, di mana wilayah tersebut kerap terendam banjir dengan ketinggian mencapai lutut hingga pinggang.
Menanggapi sejumlah aspirasi tersebut, Kamaruddin, memberikan jawaban konkret terhadap keluhan warga.
“Terkait masalah lingkungan, saya memastikan akan segera berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk menangani penumpukan sampah di kawasan Gunung Mangga. Kita pasti akan mencarikan solusi terbaik” ujarnya.
Sementara itu, menanggapi kebuntuan masalah drainase di pemukiman warga, Kamaruddin akan menjadwalkan sidak lapangan bersama perangkat kelurahan dan kecamatan guna mencari solusi teknis terkait ketiadaan parit yang menyebabkan luapan limbah rumah tangga ke jalanan.
Dalam hal tertib administrasi aspirasi, Kamaruddin juga menyarankan agar Ketua RT 21 Kelurahan Selili segera mengirimkan surat resmi sebagai dasar untuk menginput usulan pembangunan ke dalam Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD).
Langkah ini diambil agar usulan warga tidak terhambat oleh birokrasi berjenjang di tingkat Musrenbang Kelurahan maupun Kecamatan, sehingga pembangunan yang diharapkan dapat lebih pasti terealisasi melalui jalur reses.
Selain merespons keluhan baru, dalam kesempatan tersebut juga dipaparkan sejumlah proyek infrastruktur yang telah terealisasi pada tahun anggaran 2026 ini dengan total nilai mencapai miliaran rupiah.
“Proyek tersebut mencakup pengaspalan jalan dengan anggaran Rp2 miliar, pembuatan drainase 400 juta, serta pemasangan lampu jalan sekitar 200 juta,” ungkapnya.
Pemaparan tersebut menegaskan komitmen legislatif dalam mengawal distribusi anggaran pembangunan agar menyentuh langsung kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat di tingkat RT.
