infosatu.co
Samarinda

Sopir Truk Keluhkan Penutupan Jembatan Dipercepat, Rugi Waktu dan Penghasilan

Teks: Jarno, Sopir Truk muatan Tawas

Samarinda, Infosatu.co – Sejumlah sopir truk mengeluhkan penutupan lebih awal akses kendaraan berat di Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) yang dinilai merugikan waktu kerja dan penghasilan mereka.

Penutupan yang sebelumnya diinformasikan berlaku pukul 12.00, ternyata sudah diterapkan sejak sekitar pukul 10.30 WITA.

Salah satu sopir truk, Jarno mengaku kecewa karena perubahan waktu penutupan tersebut tidak sesuai dengan informasi awal yang diterimanya.

Akibatnya, ia dan sopir lain terpaksa tertahan dan tidak dapat menyelesaikan pengantaran barang.

“Bilangnya jam 12.00 siang, tapi jam 10.00 sudah ditutup. Kalau memang mau tutup, ya tutup sekalian semuanya. Mobil kecil dan besar jangan ada yang lewat,” ujarnya, Kamis, 29 Januari 2026.

Jarno, pengemudi truk pengangkut tawas dari Pelabuhan Peti Kemas menuju kawasan Jalan Jakarta, Samarinda ini mengatakan bahwa penundaan perjalanan ini berdampak langsung pada pendapatannya yang menggunakan sistem upah berdasarkan jumlah rit pengantaran barang.

“Sekali jalan itu dibayar Rp500 ribu. Biasanya bisa satu sampai dua kali. Kalau begini, ya rugi,” katanya.

Teks: Adi Surya, Sopir Truk muatan Sembako

Keluhan serupa turut disampaikan sopir lainnya, Adi Surya yang mengangkut sembako dari Pelabuhan Peti Kemas menuju pergudangan di kawasan Jalan Sutami.

Ia mengaku sudah memperhitungkan waktu perjalanan karena mendapat informasi bahwa akses masih dibuka hingga pukul 12.00 WITA.

“Kita berani muat karena infonya sampai jam 12.00. Nyatanya setengah sebelas sudah nggak bisa lewat. Hari ini hancur nasib driver,” ungkapnya.

Menurut Adi, kondisi tersebut menyulitkan sopir karena distribusi barang menjadi tertunda, sementara biaya operasional tetap berjalan.

Selain itu, jika truk tiba terlalu malam, sebagian buruh bongkar muat di gudang pun sudah pulang yang mengakibatkan kerugian lainnya.

Ia juga khawatir penutupan yang disebut sementara justru akan berlangsung lama, seperti yang pernah terjadi di jembatan lain.

“Katanya sementara, tapi takutnya kayak portal di jembatan lainnya, sementara tapi lama,” keluhnya.

Adi menilai kebijakan tersebut bukan kesalahan sopir, melainkan dampak dari pengaturan yang berubah mendadak.

Ia berharap ada kejelasan dan sosialisasi yang lebih baik agar sopir dapat menyesuaikan jadwal kerja dan pengiriman.

Para sopir berharap pemerintah dapat mempertimbangkan dampak ekonomi yang mereka rasakan, terutama bagi pengemudi yang menggantungkan penghasilan harian dari distribusi logistik di Samarinda.

Related posts

Isran Noor Nilai Organisasi Adat Penting untuk Jaga Martabat Kalimantan

Andika

Kereta Hantu Pertama Hadir di Samarinda, Pelajar Akui Seram dan Menantang

Firda

Buka Tutup Jembatan, Polisi Simulasikan Rekayasa Lalu Lintas Malam Hari

Andika

Leave a Comment

You cannot copy content of this page