Samarinda, infosatu.co — Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari rencana yang matang. Sebagian justru lahir dari penolakan, ketidakpastian, dan keberanian untuk melangkah ke tempat yang sama sekali asing.
Itulah yang dialami Adi Rizki Ramadhan, wartawan Media Sukri Indonesia (MSI) Group, yang telah menekuni dunia jurnalistik selama dua tahun lebih.
Lahir di Cimahi, 2 November 2002, Adi tumbuh sebagai anak yang memiliki cita-cita sederhana namun kuat: ingin masuk dunia hukum dan menjadi pengacara. Namun hidup tidak selalu membuka pintu yang sama dengan apa yang kita ketuk.
“Saya mencoba untuk bisa kuliah hukum, namun ditolak hingga lima kali,” ujarnya.
Akhirnya, ia memilih Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka (UT), Tasikmalaya. Bukan karena ingin menjadi wartawan, melainkan karena satu prinsip yang ia pegang saat itu: yang penting ada jalan.
Berangkat sebagai Uploader, Bertahan sebagai Wartawan
Langkah besar dalam hidup Adi dimulai bukan di ruang redaksi, melainkan di lingkungan pondok pesantren. Bersama enam orang lainnya, ia ditugaskan secara hybrid jarak jauh untuk membantu media yang dikelola oleh jaringan MSI.
Peran awalnya sangat teknis: uploader berita. Hampir setengah tahun ia menjalani peran tersebut di media Wartasia.
Namun pada Agustus 2023, situasi berubah. Kebutuhan media akan wartawan lapangan membuka peluang baru.
Kesepakatan antara pimpinan pondok pesantren, Ahmad Munzir, dan pengelola media, Sukri, mengubah arah hidup Adi.
“Kami yang awalnya hanya uploader diberangkatkan ke Samarinda untuk jadi wartawan,” ujarnya.
Statusnya pun masih magang tiga bulan. Tidak ada jaminan bertahan. Hanya proses yang harus dijalani.
Setelah menyelesaikan masa magang, Adi pulang ke kampung halaman pada Desember 2023. Namun jarak rupanya tidak memutus ikatan. Januari 2024, ia kembali dipanggil. Bukan sendiri, melainkan bersama 6 teman lainnya.
Adi kembali ke Samarinda, kembali ke MSI Group, dan berperan aktif di media Narasi.
Meninggalkan Kampung Halaman, Menguatkan Niat
Keputusan-keputusan besar itu tentu tidak ringan. Adi harus berulang kali meninggalkan tempat yang sudah memberinya rasa rumah: Bandung, lalu Tasik Malaya, demi Samarinda, tempat yang sama sekali belum diketahui bagaimana kondisi ke depannya.
”Tiba-tiba pada satu waktu yang sebenarnya tidak pernah di rencanakan. Saya harus memilih, apakah tetap tinggal di Bandung dengan kondisi yang mungkin akan berjalan begitu-begitu saja dalam jangka panjang. Atau melakukan sebuah pengorbanan yang membuka kemungkinan hasil lain di masa depan,” kenangnya.
Sejujurnya kepercayaan orang tua menjadi tantangan terbesar.
”Orang tua tentu tidak yakin akan mengizinkan jika mereka tidak yakin dengan kepastian kondisi anaknya di tempat tujuan,” katanya.
Dengan keyakinan yang ia bangun perlahan, ia meyakinkan orang tuanya bahwa Samarinda bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan awal yang bisa ia jalani dengan baik.
Adi percaya, tidak ada pertumbuhan tanpa pengorbanan. “Kalau ingin sesuatu yang lebih besar, pasti ada yang harus dikorbankan,” tegasnya.
Jurnalisme dan Kepekaan yang Terasah
Dua tahun menjadi wartawan mengubah Adi secara fundamental. Ia tidak lagi melihat dunia secara hitam-putih. Jurnalisme mengajarkannya membaca realitas dengan lapisan-lapisan makna.
“Dulu saya mudah percaya pada apa yang terlihat. Setelah menjadi wartawan, saya selalu bertanya: apa yang sebenarnya tidak terlihat?” ujarnya dengan raut serius, menegaskan perubahan cara pandangnya.
Laki-laki berusia 23 tahun tersebut menjadi lebih peka terhadap isu sosial, politik, dan problematika masyarakat. Ia belajar bahwa kebenaran tidak selalu berdiri sendiri, melainkan harus dicari dengan kesabaran.
Menulis sebagai Proses Bertutur
Salah satu titik balik penting adalah ketika Adi mengikuti pelatihan jurnalistik bersama mantan wartawan Tempo. Di sana ia memahami bahwa berita bukan sekadar laporan peristiwa, tetapi cerita yang dituturkan dengan kesadaran.
“Kita tidak perlu menceritakan semuanya kepada pembaca, tetap cukup menyampaikan bagian paling menarik, seperti menceritakan adegan terbaik dalam sebuah film,” terangnya.
Ia mulai menghindari berita seremonial yang kosong. Bahkan dalam acara resmi, ia selalu mencari substansi.
“Saya tidak mau berhenti di formalitas. Saya cari makna dari apa yang disampaikan,” tegasnya.
Pendekatan itu membawanya meraih Juara I Lomba menulis berita pada event Arus Bawah.
Menurutnya, nilai-nilai yang ditemui di lapangan harus sampai ke dalam tulisan, termasuk intonasi, suasana, bahkan ekspresi kecil narasumber.
Bagi Adi, proses itu justru menjadi bagian paling menyenangkan dalam profesinya sebagai wartawan.
Jurnalisme tidak ia jalani sebagai rutinitas yang membosankan, melainkan sebagai ruang hidup yang terus bergerak dan mempertemukannya dengan banyak pengalaman baru.
“Menariknya, pekerjaannya ini tidak monoton dan tidak berulang setiap hari. Selalu ada perubahan, dinamika, dan relasi baru,” ujarnya antusias.
Wartawan sebagai Wakil yang Tidak Bersuara
Bagi Adi, wartawan bukan sekadar penyampai pernyataan pejabat. Wartawan adalah wakil suara masyarakat.
“Pejabat bisa bicara aman. Tapi masyarakat sering tidak punya ruang. Di situlah wartawan harus berdiri,” katanya tanpa ragu.
Ia menemukan kepuasan batin ketika tulisannya mampu menyampaikan kegelisahan publik, bahkan pada isu-isu sensitif.
Bertahan dengan Integritas
Menutup refleksinya, Adi tidak berbicara soal popularitas atau karier cepat. Ia justru menekankan keteguhan.
“Jurnalisme itu penuh tekanan. Kalau setengah-setengah, kita akan tumbang,” katanya dengan mantap.
Pesannya sederhana namun tegas: jaga integritas, berpihak pada masyarakat, dan tetap berimbang.
“Ini tempat yang baik untuk bertumbuh. Jangan berhenti di tengah jalan. Terus menulis, terus belajar,” ujarnya menyampaikan harapan untuk rekan-rekannya di MSI Group.
Jika harus dirangkum dalam satu kalimat tentang hidupnya sebagai wartawan selama dua tahun, Adi tersenyum tipis menyimpulkan dengan tenang:
“Menjadi wartawan adalah perjalanan panjang dengan tantangan dari awal hingga akhir. Karena itu, satu-satunya cara bertahan adalah dengan menjaga integritas dan berusaha memudahkan urusan orang lain.” pungkasnya.
