Samarinda, infosatu.co – Persaingan bisnis kedai kopi atau “coffee shop” di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) kian kompetitif seiring menjamurnya berbagai merek baru.
Meski demikian, bagi sebagian besar pecinta kopi lokal, harga yang terjangkau dengan kualitas rasa yang tetap terjaga masih menjadi faktor utama dalam memilih tempat bersantai, salah satunya kedai Kopi Lima (Koplim).
Hal tersebut terungkap dari penuturan para pengunjung setia Koplim, yang dikenal sebagai salah satu titik kumpul populer di Kota Tepian yang berlokasi di Komplek Citra Niaga Samarinda.

Aditya Putra Seno, salah seorang pelanggan tetap, mengaku kerap menghabiskan waktu di Koplim, terutama pada malam hari selepas bekerja pukul 22.00 Wita.
Menurutnya, daya tarik utama kedai ini terletak pada nilai ekonomis yang sesuai dengan kantong masyarakat tanpa mengurangi kenyamanan bersantai.
Ia menyebutkan, harga menu kopi di Koplim relatif terjangkau, yakni berkisar Rp15.000 per gelas.
“Untuk harga, bersahabat lah. Maksudnya, di tempat yang hampir sama, bisa dapat harga yang lebih murah di sini,” ujar Aditya, Jum’at 26 Desember 2025.
Senada dengan Adit, pengunjung rutin lainnya, Jack Aryawan, menilai kualitas menu Koplim mampu bersaing dengan kedai kopi lain di Samarinda.
Beberapa menu favorit yang kerap ia pesan antara lain Vanilla Coffee, Baby Matcha, hingga Lemon Banana.
Menurut Jack, fasilitas yang disediakan juga sebanding dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen.
“Sesuai sih fasilitas dan harga. Cuma kalau orang yang pendapatannya kurang sesuai, ya mending langsung ke yang lebih mahal. Soal rasa, bisa bersaing lah,” tambahnya.
Meski mendapatkan apresiasi dari sisi harga dan menu, para pengunjung turut memberikan catatan terkait pelayanan.
Mereka menilai keramahan staf cenderung menurun pada jam operasional larut malam, terutama menjelang tengah malam.
“Tergantung jam sih. Biasanya kalau sudah mau jam 12 malam, kasirnya kadang jutek. Mungkin pengaruh kerja juga, capek,” ungkap Aditya.
Saat ini, Koplim telah memiliki beberapa cabang di Kota Samarinda, salah satunya di kawasan Alaya, dengan tetap mempertahankan konsep harga yang merakyat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah tren gaya hidup ngopi, efisiensi biaya masih menjadi pertimbangan krusial bagi konsumen di Samarinda dalam menentukan destinasi favorit mereka.
