Samarinda, infosatu.co – Ketua Umum Perhimpunan Pembina Kesehatan Olahraga Indonesia (PPKORI), Hario Tilarso mengungkapkan bahwa profesi dokter dan tenaga pendukung olahraga masih dipandang sebelah mata di dalam negeri.
Menurutnya, industri olahraga Indonesia tidak hanya kekurangan fasilitas, tetapi juga menghadapi krisis tenaga medis ahli yang serius.
Hal tersebut mengakibatkan banyak praktisi medis lebih memilih jalur praktik umum dibandingkan terjun ke lapangan untuk menangani atlet.
Hario mengungkapkan, masalah utama yang mengemuka adalah persepsi bahwa sektor olahraga tidak menjanjikan secara finansial.
Ia menyebutkan bahwa banyak profesional medis yang ragu untuk bergabung karena prospek kesejahteraan yang tidak jelas dibandingkan dengan praktik medis konvensional.
Kondisi tersebut diperparah dengan kurangnya perhatian dari pemerintah daerah maupun pusat dalam menyokong kebutuhan operasional tenaga medis di lapangan.
“Masalahnya di kita adalah biasanya sport ini kurang menarik untuk beberapa profesi yang lain. Mereka mikir ngapain sih di olahraga gitu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa koordinasi dengan pihak regulator seperti Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang sering kali menemui jalan buntu.
Padahal, PPKORI telah berdiri sejak tahun 1971 dan memiliki afiliasi internasional.
Lemahnya pengakuan terhadap organisasi resmi ini membuat penanganan atlet di Indonesia sering kali dilakukan secara amatir atau tidak terintegrasi dengan baik.
“Pemerintah pusat dan daerah tidak menyokong betul-betul. Jadi semisal dokternya tiap hari di lapangan tetapi katakanlah keluar uang sendiri. Pelatih enggak dibayar dengan baik, bagaimana bisa melatih dengan baik?” tambahnya.
Harlo menegaskan tanpa adanya perubahan kebijakan yang memberikan jaminan kesejahteraan dan pengakuan yang layak bagi tim pendukung medis ke depannya, prestasi olahraga Indonesia dikhawatirkan akan terus tertinggal dari negara lain yang sudah menerapkan “sport science” secara profesional.
