Tianjin, infosatu.co – Menjelang Festival Qingming atau Hari Bersih-Bersih Makam di China, Lim Jessica Kalyani, seorang mahasiswi asal Indonesia yang belajar di Universitas Tianjin, universitas ternama di China, mengikuti ritual bersih-bersih makam keluarganya melalui panggilan video.
“Qingming bukan hanya soal ritual penghormatan, melainkan ikatan batin yang tulus untuk mengungkapkan rasa rindu,” ungkap mahasiswi asal Indonesia berusia 20 tahun itu.

Dia pernah melihat beberapa keluarga di China berziarah ke makam dengan membawa bunga, buah-buahan, dan persembahan sederhana, kemudian membersihkan batu nisan dengan hati-hati dan berbicara dengan lembut, seolah-olah sedang berbincang dengan orang-orang terkasih mereka yang telah tiada.
“Kasih sayang yang tulus itu sangat menyentuh hati dan membuat saya merasakan betapa dalamnya masyarakat China menghargai asal-usul mereka,” ujar Jessica.
Jessica juga mengikuti kebiasaan setempat dengan melakukan piknik musim semi dan mencicipi qingtuan (bola nasi hijau) untuk merasakan makna budaya Qingming.
“Yang membuat Qingming menyentuh hati saya adalah bagaimana perayaan ini mengubah kenangan menjadi hubungan yang aktif dan berkelanjutan. Masyarakat China masih mempertahankan kebiasaan untuk dekat dengan alam, merayakan kehidupan dengan cara yang positif sambil menghargai masa lalu,” kata Jessica.
Ia menuturkan Qingming merupakan bukti keberlanjutan dan ketahanan peradaban China. Dari zaman kuno hingga sekarang, adat istiadat Qingming telah berevolusi, tetapi semangat intinya tetap tidak berubah.
“Baik melalui kegiatan bersih-bersih makam, piknik musim semi, atau peringatan ramah lingkungan (green memorial) dan penghormatan daring yang kini banyak dilakukan, bentuknya mungkin berubah seiring waktu, tetapi akar budayanya tetap bertahan<‘ujarnya.
Kemampuan untuk memperbarui sambil melestarikan, dan untuk melindungi sambil beradaptasi, adalah manifestasi penting dari vitalitas peradaban China yang abadi.
Jessica percaya Qingming melampaui budaya karena menyentuh emosi manusia yang paling universal, yakni kerinduan akan orang yang telah berpulang, penghormatan terhadap kehidupan, dan pencarian asal-usul.
“Tidak peduli dari negara mana anda berasal atau bahasa apa yang anda gunakan, ketika berdiri di depan makam leluhur atau mengenang orang yang anda cintai dalam diam, perasaan itu tidak membutuhkan terjemahan,” ungkap Jessica.
Qingming, yang jatuh setiap tanggal, 5 April, merupakan periode matahari (solar term) sekaligus festival tradisional dengan sejarah lebih dari 2.500 tahun. Perayaan ini diperingati secara luas di seluruh China dengan ritual bersih-bersih makam dan mengenang keluarga.
Hong Chang, seorang profesor di Universitas Studi Luar Negeri Tianjin, menjelaskan tradisi bersih-bersih makam mencerminkan filosofi China tentang “menghormati mereka yang telah wafat dan merenungkan makna hidup”.
“Memberikan penghormatan kepada leluhur melambangkan ikatan keluarga yang mendalam dan mendorong refleksi mengenai makna hidup,”ungkap Hong Chang.
Athena Aileen Lengkong (21), yang berasal dari Surabaya, Jawa timur, mengatakan Indonesia memiliki keberagaman agama yang tinggi, dan banyak keluarga berdoa serta menabur bunga di makam sesuai dengan kepercayaan agama masing-masing.

“Dalam keluarga saya yang menganut Katolik, orang-orang terkasih biasanya dikremasi, dan abunya dilarung di laut. Karena kampung halaman saya merupakan kota pelabuhan. Pada peringatan satu tahun kematian mereka, kami berkumpul di pelabuhan, menaiki perahu ke laut, dan menaburkan bunga ke air sebagai bentuk penghormatan kepada mereka,”ucap Athena Aileen.
Pada tahun-tahun berikutnya, biasanya memilih tanggal peringatan kematian orang terkasih yang paling baru sebagai hari bersama untuk melaksanakan ritual ini guna menghormati semua orang, termasuk para leluhur.
Athena yakin bahwa inti budaya Qingming bukan hanya tradisi China, melainkan juga perayaan cinta yang melampaui rasa kehilangan, sesuatu yang dapat dirasakan oleh setiap manusia.
Wang Yi, seorang lektor kepala di Universitas Tianjin, menyebutkan Qingming bukan hanya tentang penghormatan pribadi kepada mereka yang telah tiada, melainkan juga merupakan momen khidmat untuk peringatan publik dan mengenang kembali memori bangsa.
Inklusivitas festival Qingming inilah yang diapresiasi oleh Athena. “Orang-orang memanfaatkan hari ini untuk memberikan penghormatan kepada siapa pun yang mereka sayangi atau anggap penting dalam hidup mereka maupun sejarah keluarga.
Hal ini termasuk membersihkan makam para pahlawan nasional, yang menurutnya merupakan ungkapan indah dari rasa syukur kolektif.
Wang Yi, mengatakan bahwa bahasa dan adat istiadat mungkin berbeda, tetapi ketika orang-orang mengungkapkan duka dengan cara membersihkan makam dan mempersembahkan bunga, sebuah koneksi spiritual yang melebihi kata-kata muncul secara perlahan.
Hal ini memungkinkan berbagai budaya untuk bertemu dan saling memahami melalui emosi manusia yang sama, memperdalam apresiasi dan toleransi terhadap peradaban yang beragam.
Selain bersih-bersih makam, Qingming juga merupakan waktu untuk piknik musim semi, menanam pohon dedalu, dan menabur benih.
“Ketika orang asing memahami konotasi budaya dari pemujaan leluhur, ritual bersih-bersih makam, dan pandangan terhadap alam selama Qingming, mereka dapat lebih menyadari takdir bersama umat manusia, sehingga memperkuat kerja sama dan pemahaman global, serta menumbuhkan akar yang lebih kuat dalam kesamaan takdir manusia,” tutur Wang.
Sementara itu, Ma Zhiyao, seorang pakar budaya rakyat China, mengatakan Qingming bukanlah festival kesedihan. Festival ini mengandung ungkapan duka cita kepada para leluhur dan kegembiraan merangkul alam dan kehidupan.
Festival ini tiba bersamaan dengan angin musim semi yang hangat dan vitalitas baru. Orang-orang menikmati sinar matahari dan meregangkan tubuh mereka, merasakan siklus pembaruan tanpa akhir.
Ia mengatakan tradisi piknik musim semi yang sudah lama dilakukan tersebut mencerminkan bagaimana masyarakat China mengaitkan keberlangsungan hidup dengan ritme alam, mewakili filosofi hidup yang menghargai kelahiran kembali.
Tema kehidupan dan kematian, ikatan keluarga, dan alam yang diwujudkan dalam Qingming adalah tema yang dimiliki bersama oleh seluruh umat manusia.
