infosatu.co
PEMKOT SAMARINDA

Wajah Baru Masjid Raya Darussalam, Andi Harun: Tak Sekadar Bangunan, Ini Pusat Peradaban Umat

Teks: Wali Kota Samarinda, Andi Harun (Infosatu.co/Firda)

Samarinda, infosatu.co – Wajah baru Masjid Raya Darussalam Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kini resmi diperkenalkan kepada masyarakat.

Teks: Foto bersama masyarakat (Infosatu.co/Firda)

Renovasi tahap II yang telah dirampungkan menjadi penanda komitmen Pemerintah Kota Samarinda menghadirkan rumah ibadah.

Tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga kuat sebagai pusat peradaban dan pemersatu umat.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan bahwa masjid tersebut memiliki nilai sejarah panjang yang tak terpisahkan dari perjalanan kota.

Menurutnya, berdirinya Masjid Raya Darussalam merupakan hasil proses sosial, ekonomi, budaya, dan rohani masyarakat yang terus tumbuh dari masa ke masa.

Ia mengisahkan, pada awalnya masjid ini bernama Masjid Jami’ yang dibangun pada 1920 dengan ukuran 25×25 meter persegi.

Bangunannya terbuat dari kayu ulin dengan atap sirap berbahan serupa.

Saat itu, masjid belum memiliki halaman; serambi kanan langsung menghadap jalan, sementara serambi kiri berhadapan dengan Sungai Mahakam.

Memasuki periode 1952–1955, para tokoh terdahulu seperti almarhum Datuk Madjo Oerang, almarhum APT Pranoto, dan almarhum KH Abdullah Marisi.

Merekalah yang menggagas renovasi agar daya tampung masjid lebih memadai, terutama untuk Salat Jumat.

Di bawah arahan APT Pranoto, panitia pembangunan dibentuk, sementara desainnya dirancang arsitek Dinas PU Kalimantan Timur, Van Der Vyl.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 9 November 1953 oleh AM Parikesit selaku Kepala Daerah Istimewa Kutai dengan biaya Rp2.500.000 (dua juta lima ratus ribu rupiah).

Menurut Andi Harun, posisi masjid yang berada di jantung aktivitas ekonomi sempat menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya kekhusyukan ibadah.

Namun, kondisi tersebut justru menghadirkan makna tersendiri.

“Di tengah kesibukan umat mencari rezeki di kawasan Pelabuhan, Citra Niaga, dan Pasar Pagi, Masjid Raya mampu menjadi oase penghilang dahaga umat Islam di tengah padang kehidupan yang serba duniawi,” ujarnya, Jumat 13 Februari 2026.

Ia menambahkan, pemerintah berkomitmen menghadirkan fasilitas ibadah yang nyaman, indah, dan fungsional di atas lahan seluas 15.000 meter persegi.

Renovasi tahap II telah dituntaskan dengan cakupan pekerjaan menyeluruh.

“Tahap ini bukan sekadar angka dan spesifikasi, melainkan wujud nyata cinta kita pada masjid sebagai jantung umat,” tegasnya.

Dengan penggunaan material berkualitas serta dukungan teknologi modern, masjid ini diharapkan menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Seluruh proses pembangunan, lanjutnya, merupakan bentuk rahmat Allah Swt yang terwujud melalui gotong royong pemerintah daerah, masyarakat, dan para donatur.

Ia juga mengungkapkan rasa syukur atas kelengkapan fasilitas yang kini dimiliki masjid, mulai dari speaker Wharfedale yang menggema saat azan hingga partisi wudu praktis seluas 10,56 meter persegi.

Hal tersebut, menurutnya, sejalan dengan pesan dalam QS An-Nur ayat 36–37 tentang fungsi masjid sebagai tempat mengingat nama Allah.

“Syukur kami melimpah karena Samarinda kini punya ikon keimanan, persatuan, dan peradaban umat Islam dalam mendukung visi kota yang harmonis, berkelanjutan, dan inklusif,” pungkasnya.

Related posts

Pemkot Prioritaskan Drainase dan Trotoar, Penataan Citra Niaga Berlanjut

Dhita Apriliani

Andi Harun Ajak Masyarakat Makmurkan Masjid Raya Darussalam Usai Renovasi

Firda

Andi Harun: Kontrol Kualitas Dapur SPPG Bhayangkari dari Bahan Baku sampai Distribusi

Firda

Leave a Comment

You cannot copy content of this page