Samarinda, infosatu.co – Anggota Komisi II DPR RI Aus Hidayat Nur menjadi perbincangan sebagian masyarakat Benua Etam dengan usulan pemindahan Ibu Kota Kaltim dari Samarinda ke Balikpapan.
Hal ini pun ditanggapi Ketua Umum Pemuda Banjar Kalimantan Timur (PBKT) Fahrian Nur. Ia berpendapat jika usulan yang dibuat legislator Senayan tersebut hanya asal bunyi (asbun).
Seharusnya, Aus lebih memprioritaskan masalah lain ketimbang usulan yang dirasa tidak krusial. Contohnya, mengawal Undang-Undang (UU) Ibu Kota Negara (IKN) baru agar segera tuntas.
“Selesaikan dulu lah UU IKN baru itu, sekarang sampai dimana dia mewakili Kaltim untuk meminta kepada legislasi di DPR RI. Jangan malah mengalihkan dengan isu pemindahan Ibu Kota Kaltim dari Samarinda ke Balikpapan,” ungkapnya, Rabu (15/9/2021).
Dengan alasan Balikpapan dekat dengan IKN baru atau apapun itu, sebenarnya jarak Samarinda cukup dekat. Apalagi saat ini jalan tol sudah rampung, sehingga akses dari Ibu Kota Kaltim ke IKN baru dapat ditempuh dengan mudah.
Menurutnya, ada hal yang lebih krusial yaitu mempercepat herd immunity masyarakat dengan memprioritaskan vaksinasi Covid-19 di Benua Etam, mengingat capaiannya baru sekitar 30 persen.
“Anggota DPR RI itu harusnya betul-betul bisa mewakili suara Kaltim. Bukan mewakili sesekali saja, cuma saat mau turun dan pencalonan. Ada yang lebih mendesak seperti penanganan Covid-19,” jelasnya.
Motto Gubernur Isran itu berdaulat, harusnya dengan motto ini bisa membuat anggota DPR RI yang mewakili Kaltim dapat menyuarakan hal paling prioritas di Benua Etam sebagai penyumbang PAD terbanyak.
“Harusnya vaksinasi yang diperjuangkan jangan pemindahan Ibu Kota Kaltim,” tegas Fahri.
Di tempat yang sama, Ketua Gerakan Perjuangan Rakyat Kalimantan Timur (GPRKT) Yoyok Setiawan menyebutkan jika perwakilan rakyat harus bijak.
“Jangan bungul dan membunguli, kan prioritas sekarang itu ada tiga yakni masalah Covid-19, dampak Covid-19 dan pendidikan. Harusnya lebih fokus bagaimana menanggulangi dan menangani virus ini serta dampaknya karena itu lebih krusial,” terangnya.
Kemudian terkait pemindahan Ibu Kota Kaltim dari Samarinda ke Balikpapan kata Yoyok, mungkin sebagian orang menganggap itu baru usulan. Namun menurutnya tidak, karena isu ini bisa menjadi egosentrisme di media sosial.
“Bisa memancing egosentrisme antara warga Balikpapan dan Samarinda, ujung-ujungnya jadi provokasi. Nanti masyarakat Samarinda merasa lebih baik, kencang-kencangan membela daerahnya. Begitu pun Balikpapan merasa lebih baik karena ada yang mengusulkan seperti ini,” paparnya.
Yoyok mengatakan bahwa apa yang dibicarakan itu harusnya dipikirkan bagaimana dampak ke depannya, apalagi yang bicara ini bukan orang sembarangan.
“Mau saya bilang bungul orang ini karena tidak berpikir jauh ke depan. Sebelum membuat pernyataan itu tolong jangan asal ngomong. Sebagai seorang politikus jangan intrik politik terus,” ucapnya.
Ia menegaskan, ada satu hal yang harus Aus pahami bahwa usulan sederhana yang diungkapkan itu akan berpengaruh di kala ini ramai di media.
“Sudahlah jangan ganggu status Ibu Kota Kaltim di Samarinda. Tiga hal tadi deh yang diprioritaskan dulu, itu juga kalau dia memang mau membuktikan diri sebagai orang yang peduli terhadap masyarakat Kaltim,” tegas Yoyok. (editor: irfan)
