Samarinda, infosatu.co – Ketika banyak orang memilih berhenti saat pikiran buntu, Among Kurnia Eboq justru melihat situasi itu sebagai tanda untuk bergerak.
Dalam Entrepreneur University yang digelar di Hotel Ibis Samarinda, Kamis 18 Desember 2025, Among membagikan rangkaian kisah perjalanan, usaha, dan perenungan hidupnya.
Bukan hanya dari pengalamannya sendiri, tetapi juga dari pengalaman banyak orang yang ia temui dan dampingi.
Bagi Among, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat. Jalan-jalan ia maknai sebagai cara membaca kehidupan dan memahami bagaimana orang bertahan hidup dengan berbagai keterbatasan.
Dari perjalanan itulah ia mengamati pola-pola sederhana tentang usaha, keberanian, dan cara manusia mencari jalan keluar dari kesulitan.
Ia menuturkan bahwa banyak orang keliru memaknai “travelling” sebagai tujuan akhir.
Padahal, menurutnya, perjalanan hanyalah alat untuk belajar.
“Kalau salah bisnis, ya jalan. Kalau hidup buntu, ya jalan,” ujarnya, menggambarkan bagaimana pergerakan sering kali membuka perspektif baru yang tidak ditemukan di ruang kelas atau buku.
Dari pengamatan langsung di berbagai tempat, Among belajar tentang cara orang membangun usaha kecil, menyusun produk, hingga menjaga kepercayaan pelanggan.
Dalam materinya, Among juga menceritakan pengalaman memulai usaha hanya dengan bermodal KTP.
Tahun 2010, ia mendatangi sembilan bank untuk mengajukan pinjaman. Delapan bank menolak, dan hanya satu yang menyetujui dengan nilai Rp10 juta.
Dana tersebut tidak digunakan untuk gaya hidup, melainkan diputar untuk usaha kecil yang dijalankan secara bertahap.
Dari pengalaman itu, ia menarik pelajaran bahwa akses dan kepercayaan sering kali lebih penting daripada jumlah modal.
Menurutnya, banyak orang gagal memulai bukan karena tidak punya uang, tetapi karena tidak berani mencari jalan.
Selain kisah pribadi, Among juga menyampaikan cerita tentang usaha-usaha kecil milik orang lain yang kerap diremehkan.
Salah satunya adalah kisah pedagang bubur dan usaha sederhana yang hasilnya terlihat kecil, tetapi dijalankan secara konsisten.
Ia mencontohkan pembagian hasil Rp100 ribu hingga Rp200 ribu yang terus berulang, sehingga usaha tetap hidup.
Dari contoh tersebut, ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan tidak selalu soal besar kecilnya keuntungan, melainkan kemampuan usaha untuk terus berjalan.
“Bisnis yang hidup itu bukan yang besar, tapi yang jalan,” terangnya.
Among juga menceritakan kisah toko kosmetik yang ia dampingi, yang awalnya dibuka dengan skema cicilan melalui bank agar dapat membuka usaha di kota, sementara toko pertamanya berada di desa.
Skema tersebut dijalani secara bertahap agar cicilan tetap terbayar seiring berjalannya usaha.
Dalam perjalanannya, toko kosmetik tersebut kemudian mendapat tawaran dari seorang selebgram untuk melakukan review. Kemudian toko tersebut menjadi viral.
Selama sekitar delapan hari, toko tersebut ramai didatangi pembeli dari pagi hingga malam.
Lonjakan pengunjung tersebut memberikan dampak signifikan terhadap penjualan, hingga pada akhirnya membantu menutup dan melunasi cicilan bank yang digunakan untuk membuka toko di kota.
Namun ia menegaskan bahwa viral bukan tujuan. “Viral itu bonus. Kalau sistem tidak siap dari awal, ya hancur,” tegasnya.
Dalam konteks pengambilan keputusan, Among menyinggung cara kerja otak kiri dan otak kanan.
Ia menjelaskan bahwa otak kiri berkaitan dengan logika, hitungan, dan rasa takut, sementara otak kanan berhubungan dengan rasa, intuisi, dan keberanian.
Banyak orang, menurutnya, terlalu lama berhitung hingga akhirnya tidak melangkah sama sekali.
Namun, ia juga menekankan bahwa keberanian harus tetap diimbangi dengan perhitungan.
Dalam praktiknya, ia sering melihat orang melangkah terlebih dahulu, lalu menyempurnakan sistem sambil berjalan.
Kisah lain yang ia sampaikan adalah tentang keputusan membeli mesin usaha dengan skema cicilan panjang.
Nilainya puluhan juta rupiah, tetapi dibagi dalam jangka waktu tertentu sehingga terasa lebih ringan.
Menurutnya, tantangan terbesar dari keputusan semacam itu bukan pada uang, melainkan pada kesiapan mental.
Among juga menyinggung contoh berpikir kreatif dalam membaca peluang yang ia sampaikan melalui kisah pembelian rumah dengan kondisi kurang layak.
Dalam ceritanya, rumah tersebut awalnya tampak kumuh dan tidak menarik, sehingga dijual dengan harga relatif murah, sekitar Rp100 juta.
Melihat potensi yang ada, rumah tersebut kemudian direnovasi secara sederhana, dicat ulang, dan diperbaiki pada bagian-bagian tertentu agar tampak lebih layak dan menarik.
Setelah proses perbaikan selesai, rumah tersebut kembali ditawarkan ke pasar dan berhasil dijual dengan harga sekitar Rp150 juta.
Dari contoh tersebut, Among menegaskan bahwa keuntungan tidak selalu datang dari modal besar, melainkan dari kemampuan melihat nilai tersembunyi dan berpikir kreatif.
Menurutnya, peluang sering kali hadir dari sesuatu yang terlihat biasa atau bahkan kurang diminati, selama seseorang mampu membaca potensi dan berani mengambil langkah.
Menutup materinya, Among menegaskan bahwa kesuksesan tidak selalu datang cepat dan rapi. Banyak jalan yang harus dilalui, banyak kesalahan yang harus diterima.
Namun selama seseorang terus bergerak dan tidak berhenti di tengah jalan, peluang untuk bertumbuh tetap ada.
“Kalau hari ini masih kecil, tidak apa-apa. Yang penting tetapi jalan dan jangan berhenti,” pungkasnya.
