infosatu.co
Samarinda

Sekolah Lansia Samarinda Berjenjang S1–S3, Strategi Sehatkan dan Berdayakan Kaum Lanjut Usia

Teks: Kepala DPPKB Samarinda, Deasy Evriyani saat di wawancarai (Infosatu.co/Firda)

Samarinda, infosatu.co – Sekolah Lansia (Lanjut Usia) di Kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim), diarahkan bukan hanya sebagai aktivitas sosial, tetapi sebagai strategi nyata untuk menekan beban kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup lansia.

Melalui pendekatan edukasi, pendampingan, hingga pemeriksaan kesehatan, program ini diarahkan mencetak Lansia yang tetap aktif dan berdaya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Samarinda, Deasy Evriyani, menegaskan, sekolah Lansia merupakan bagian dari kebijakan nasional.

Kebijakan tersebut melalui program Quick Wins Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Republik Indonesia, yakni SI DAYA (Lansia Berdaya).

“Sekolah Lansia ini kegiatan strategis untuk mendukung pembangunan keluarga di Kota Samarinda,” ujarnya, Jumat, 10 April 2026.

Hal itu disampaikannya usai menghadiri pembukaan Sekolah Lansia Santa Mathilda keempat yang diinisiasi oleh Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Mangkupalas.

Program ini diperkuat dengan sistem pendampingan berbasis wilayah, melalui pelatihan sekitar 59 kader yang akan memantau langsung kondisi Lansia di lapangan.

“Tidak hanya edukatif, tapi juga ada pemeriksaan kesehatan dan pelatihan sekitar 59 kader yang nanti mendampingi Lansia di wilayahnya,” jelasnya.

Pemeriksaan kesehatan dilakukan bersama puskesmas setempat, meliputi tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga asam urat. Namun, keterbatasan anggaran justru melahirkan pola swadaya dari peserta.

“Untuk pemeriksaan tertentu seperti kolesterol, asam urat, dan gula darah diinisiasi dari gereja melalui iuran peserta sekitar Rp5.000 sampai Rp10.000 per bulan,” katanya.

Model ini menegaskan bahwa program berjalan tanpa ketergantungan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Seluruh komponen, mulai dari narasumber hingga pelaksanaan, digerakkan oleh partisipasi masyarakat.

“Ini betul-betul swadaya. Narsumber gratis, kegiatan berjalan dari partisipasi peserta, bahkan sampai wisuda mereka siapkan sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, sekolah Lansia lahir dari kebutuhan nyata di lapangan, banyak Lansia yang minim aktivitas dan berpotensi mengalami penurunan kualitas hidup.

Karena itu, pendekatan yang dibangun bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga kebahagiaan.

“Bagaimana menciptakan lansia yang sehat dan bahagia, karena kalau sudah bahagia pasti mereka sehat,” tegasnya.

Dampaknya dinilai tidak kecil. Lansia yang sehat dan aktif akan menekan biaya kesehatan, sekaligus meringankan beban keluarga.

“Kalau lansia sehat, pengeluaran kesehatan bisa ditekan, dan keluarga juga lebih bahagia karena orang tuanya tetap berdaya dan tidak merepotkan,” ujarnya.

Program ini berlangsung selama tiga bulan dengan 12 kali pertemuan, mencakup materi kesehatan, pencegahan penyakit seperti stroke dan diabetes, hingga aktivitas fisik seperti senam Lansia.

Menariknya, sekolah Lansia dibuat berjenjang layaknya pendidikan formal, mulai dari S1 hingga S3. Saat ini, peserta berada pada level S1 dengan peluang melanjutkan ke tahap berikutnya.

“Setelah lulus, mereka bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya dengan materi yang berbeda,” katanya.

Peserta juga harus mengikuti pre-test dan post-test sebagai syarat kelulusan.

Lulusan diharapkan tidak berhenti sebagai peserta, tetapi tetap aktif melalui Posyandu Siklus Hidup di masing-masing wilayah.

Di Samarinda, program ini telah berjalan di beberapa titik, antara lain Sekolah Lansia Air Terjun di Mangkupalas, Sekolah Lansia Nur Iman di Kelurahan Loa Buah, dan Sekolah Lansia Gema Lantang di Kelurahan Sindang Sari.

Ia menegaskan, keberhasilan program ini tidak lepas dari peran keluarga. Lansia, menurutnya, harus ditempatkan sebagai sosok yang dihormati dan dijaga.

“Kami harapkan Lansia di Samarinda menjadi Lansia yang sehat, aktif, produktif, dan bermartabat. Dan keluarga harus memperhatikan orang tuanya, jangan disia-siakan,” tutupnya.

Related posts

Sekolah Lansia Didukung Jadi Gerakan Kolektif, Wakil Wali Kota Samarinda Minta Diperluas

Firda

Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri: Kebahagiaan dan Kebersamaan Kunci Lansia Tetap Sehat

Firda

Tetap Belajar di Usia Tua, Sekolah Lansia Santa Mathilda ke-4 Resmi Dibuka

Firda