Samarinda, infosatu.co – Pengabdian panjang di dunia kesehatan kembali mendapat apresiasi untuk Dokter Panuturi Ratih Elizabeth Thresna Sinaga, yang akrab disapa dr. Uri dan bertugas menjadi Kepala UPTD Puskesmas Juanda.
Dokter Uri menjadi salah satu penerima Satyalancana Karya Satya 20 Tahun dalam penganugerahan X, XX, dan XXX Tahun di lingkungan Pemerintah Kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) Tahun 2026.
Penghargaan itu menjadi penanda dua dekade dedikasinya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di garis depan pelayanan kesehatan masyarakat.
“Saya sangat bersyukur ya, bisa sampai 20 tahun. Artinya, ya satu, masih sehat dan masih bisa berkarya,” ujarnya, Kamis, 12 Februari 2026.
Dua dekade bekerja sebagai ASN di bidang kesehatan tentu bukan tanpa tantangan.
Menurutnya, dinamika regulasi menjadi salah satu hal yang paling dirasakan selama bertugas.
Ia menyinggung pesan Wali Kota dalam sambutan yang juga menekankan pentingnya kesabaran.
“Seperti yang disampaikan Pak Wali Kota tadi, kita memang harus sabar menghadapi berbagai hal. Kadang-kadang sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu banyak sekali aturannya, apalagi di Puskesmas bidang kesehatan yang regulasinya cukup banyak. Hampir setiap waktu ada peraturan baru, sehingga kita dituntut untuk terus beradaptasi,” tuturnya.
Di sisi lain, pelayanan kesehatan memiliki tantangan tersendiri karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Kalau dari bidang kesehatan kan kita melayani orang dan masyarakat di wilayah kerja. Itu juga menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana sistem yang berubah-ubah itu tetap harus kita adaptasi sehingga tetap memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat,” lanjutnya.
Bagi Uri, motivasi untuk tetap mengabdi selama ini sebenarnya sederhana. Ia merasa tugas dan kemampuan yang dimilikinya adalah amanah yang harus dijalankan sebaik mungkin.
“Kalau saya pribadi sih sebenarnya simpel saja. Karena saya diberikan tugas dan diberikan kesehatan oleh Tuhan, diberikan berkat mungkin saya bisa menjadi seorang dokter, saya punya kemampuan untuk melakukan sesuatu untuk orang lain,” ungkapnya.
Ia menuturkan bahwa itulah yang menjadi motivasinya. Menurutnya, sudah sepatutnya seseorang yang telah memiliki kesempatan dan kemampuan memberikan yang terbaik bagi masyarakat yang dilayani.
Is juga berbagi pandangan tentang pentingnya menjaga integritas dan profesionalisme sebagai ASN.
Menurutnya, kunci utamanya adalah pengendalian diri.
“Kuncinya jangan tergoda saja. Jadi kita hidup sesuai dengan kemampuan. Terus harus mengerti juga apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, dan kenapa boleh kenapa tidak boleh, baik dampak langsung maupun tidak langsungnya,” tegasnya.
Baginya, dengan memahami konsekuensi setiap tindakan, seseorang akan lebih berhati-hati dalam bersikap karena dampaknya bukan hanya dirasakan diri sendiri, melainkan juga orang-orang yang dilayani.
Tak lupa ia juga menyampaikan pesan untuk para ASN muda agar tetap memaknai profesi sebagai bentuk pengabdian.
“Untuk ASN muda mengabdi, karena PNS itu lebih banyak mengabdinya. Kalau dibandingkan pegawai swasta mungkin dari satu sisi gajinya lebih kecil. Tapi harus punya kemampuan dan terus belajar supaya bisa memberikan lebih banyak dan bisa menjadi seseorang yang penting di pemerintah,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa menjadi sosok yang penting bukan berarti harus menjadi pejabat atau terkenal, melainkan mampu terus mengembangkan diri.
Karena itu, ASN muda harus terus belajar, bersabar seperti pesan Pak Wali Kota, mengasah keterampilan, serta melek teknologi.
Dua puluh tahun pengabdian itu pun ia maknai bukan sebagai garis akhir, melainkan pijakan untuk terus melayani dengan lebih baik.
Dengan kesabaran, integritas, dan semangat belajar yang terus dijaga, dr. Uri berharap dapat tetap memberi manfaat bagi masyarakat.
Juga sekaligus menjadi pengingat bahwa pengabdian sebagai ASN pada akhirnya adalah tentang ketulusan melayani dan konsistensi menjaga amanah.
