Kukar, infosatu.co — Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalimantan Timur (Kaltim) Nidya Listiyono, menegaskan bahwa perubahan dan disrupsi media adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh insan pers.
Ia menegaskan, jurnalis yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan akan tertinggal dan terancam punah, layaknya “dinosaurus” di era pergeseran model media dari lama ke baru.
Ia menegaskan bahwa perubahan tersebut bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar.
“Ini seperti dinosaurus, ya. Kalau Anda tidak berubah, ya kita punah. Memang begitu,” ujarnya, Rabu, 21 Januari 2026.
Listiyono menyoroti tema Retreat JMSI 2026 “Jurnalis Masa Kini di Tengah Disrupsi Media dan Turbulensi Ekonomi Daerah”.
Ia menilai bahwa turbulensi ekonomi masih mungkin terjadi, namun disrupsi media tidak bisa dihindari dan menuntut kesiapan setiap jurnalis.
“Saya pikir mungkin masih ada turbulensi, ya. Tetapi kalau disrupsi, suka atau tidak suka, itu kembali ke diri Anda. Anda fokus saja pada kualitas Anda,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa faktor eksternal utama yang dihadapi media saat ini adalah perubahan itu sendiri.
Disrupsi, kata Listiyono, dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama persaingan dan perubahan perilaku konsumen.
Dalam sudut pandang yang visioner, sosok jurnalis digambarkan Listiyono layaknya seekor elang.
Burung ini dikenal karena ketajaman penglihatannya, kemampuannya mengamati kondisi dari jarak jauh, serta kecermatannya saat menentukan target.
Melalui gambaran tersebut, jurnalis diposisikan sebagai pihak yang mampu membaca peluang keberlangsungan media.
Jug memahami arah perubahan zaman, serta merancang langkah-langkah yang tepat agar media tetap hidup dan relevan di tengah dinamika yang terus bergerak.
Kemudian Listiyono menggambarkan pergeseran pola konsumsi informasi masyarakat yang kini tidak lagi membaca media cetak seperti koran.
“Kalau dulu orang membaca pakai koran, kertas, sekarang orang sudah tidak mau pakai kertas. Orang membaca sekilas-sekilas,” katanya.
Bahkan, lanjutnya, pembaca masa kini cenderung enggan membaca tulisan panjang. “Hati-hati itu. Orang biasanya maunya langsung ke poinnya apa,” tuturnya.
Namun, Listiyono mengingatkan bahwa terkadang poin utama sengaja tidak ditampilkan di awal demi mengejar rating.
Ia juga menyoroti kecenderungan pembaca yang lebih tertarik pada visual dan berita sensasional.
Menurutnya, perilaku pembaca saat ini sangat beragam karena faktor usia yang berbeda-beda.
“Kan sekarang umurnya sudah macam-macam. Yang dulu anak-anak, sekarang sudah remaja, sudah dewasa, dan segala macam. Tentu perilakunya berbeda. Teman-teman harus belajar sampai ke sana. Memang begitu,” terangnya.
Listiyono berharap kegiatan retreat ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mampu membentuk mental wartawan.
“Jangan cengeng kalau dimarahi oleh atasan. Ya, biasa saja. Salah tulis itu biasa,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kesalahan adalah hal wajar, namun tidak boleh terus berulang.
“Sekali dua kali boleh, kalau tiga kali, ya kita kalah sama keledai. Keledai itu maksimal tiga kali,” katanya.
Menutup sambutannya, Listiyono kembali menegaskan apresiasinya terhadap kegiatan retreat yang disebutnya sebagai yang perdana di Indonesia.
Ia berharap Retreat JMSI Kalimantan Timur 2026 mampu melahirkan wartawan yang tangguh dan siap menghadapi tantangan apa pun di depan.
