
Samarinda, infosatu.co – Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda dari Fraksi Partai Gerindra, Deni Hakim Anwar menegaskan persoalan turap di sepanjang RT 41–44 dan drainase di RT 44 Kelurahan Pelita.

Menurut Deni, persoalan turap menjadi prioritas utama hasil reses masa sidang I Tahun 2026 di daerah pemilihan Kecamatan Samarinda ilir, Kecamatan Samarinda Kota dan Kecamatan Sambutan.
Dua persoalan tersebut dinilai Deni sangat mendesak karena berkaitan langsung dengan keselamatan warga dan penanganan banjir.
Deni menyebut persoalan yang paling banyak disampaikan warga masih seputar infrastruktur, terutama drainase dan penanganan banjir.
Di RT 44, menurutnya, terdapat titik yang sangat mendesak untuk segera ditangani karena berbatasan langsung dengan Kelurahan Bandara.
“Di RT 44 khususnya, itu perlu penanganan yang urgensi sekali adalah kaitan dengan penanganan banjir yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Bandara. Nah ini nanti saya akan coba atur schedule waktu untuk bisa turun langsung dengan dinas terkait memantau,” katanya.
“Artinya apa yang menjadi penyebab banjir yang ada di sana,” jelasnya, Kamis, 12 Februari 2026.
Deni menambahkan, langkah mitigasi akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Salah satu opsi jangka panjang adalah pembangunan drainase di sepanjang RT 44.
Selain itu, warga juga mengusulkan lanjutan pembangunan drainase atau parit di Jalan Lambung.
Deni menyebut, sebagian pekerjaan sudah direalisasikan pada tahun sebelumnya dan kini tinggal lanjutan.
“Tahun sebelumnya alhamdulillah kita sudah merealisasikan juga, hanya tinggal lanjutannya, artinya lanjutan dari Indomaret kalau enggak salah,” katanya.
“Nah ini nanti saya akan pantau usulan ini masuk ke dinas PUPR untuk bisa dikerjakan,” katanya.
Menurutnya, Kelurahan Pelita termasuk wilayah rawan banjir karena menjadi pintu masuk dari Jalan Gerilya dan Jalan Katamso serta berbatasan langsung dengan Kelurahan Sidomulyo, sehingga kerap terdampak limpasan air.
Masalah lain yang menjadi perhatian adalah turap di sepanjang RT 41 sampai RT 44.
Ia menilai penanganan turap penting untuk mencegah risiko yang membahayakan warga.
“Nah ini juga menjadi tugas penting karena kita tidak ingin ada kejadian yang membahayakan untuk warga yang tinggal di sana. Nanti saya akan menggandeng Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk hadir di sana,” katanya.
“Sehingga nanti BWS bisa mendengar langsung bahwa ini perlu tindakan yang cepat untuk bisa segera dilakukan penurapan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pemerintah kota tidak bisa langsung mengerjakan proyek tersebut tanpa komunikasi dengan BWS.
Karena itu, koordinasi lintas instansi menjadi kunci percepatan penanganan.
Selain drainase dan turap, warga juga mengusulkan perbaikan jalan dan fasilitas Posyandu.
Salah satu titik yang disorot adalah Gang Annur 1, yang menjadi jalur alternatif saat Jalan Samanhudi, dulu dikenal sebagai Jalan Rajawali yang mengalami kemacetan pada sore hari.
“Di Jalan Samanhudi itu padat sehingga mereka mengambil jalan pintas lewat Gang Annur 1. Nah ini menimbulkan kerusakan di beberapa ruas jalannya,” katanya.
“Nanti insyaallah saya akan sampaikan juga kepada dinas terkait, nanti saya minta usulannya untuk saya bisa usulkan di tahun 2027 yang akan datang,” ujarnya.
Deni kembali menegaskan dua hal yang paling mendesak.
“Masalah turap yang di sepanjang RT 41–44 di pinggir sungai. Ini urgensi sekali karena ini untuk keselamatan warga,” katanya.
“Nah kemudian yang kedua adalah kaitan dengan drainase tadi yang di RT 44, yang kaitan banjir yang ada di Gang Masjid dan sekitarnya. Tentu ini juga sangat urgensi juga,” tegasnya.
Deni mengingatkan, jika tidak segera ditangani, genangan air berpotensi menjadi langganan dan bertahan lama setelah hujan.
Sementara itu, saat ditanya mengenai ketinggian air saat banjir, Deni mengaku belum melihat langsung saat kejadian, melainkan hanya kondisi pascahujan.
Ia menduga ada persoalan aliran drainase yang tidak langsung tembus ke sungai.
“Sepengetahuan saya, di Jalan Kakatua, jika kita dari arah kota, di sebelah kanan jalan seharusnya terdapat drainase. Ini yang nanti akan kita cek kembali. Seharusnya aliran tersebut langsung tembus ke sungai, tidak berbelok,” katanya.
“Jika salurannya mengecil dan berbelok ke Gang Masjid, maka air akan masuk ke sana dan menjadi tenggelam,” jelasnya.
Deni memastikan seluruh aspirasi akan dicatat dan diperjuangkan sesuai skala prioritas pada tahun anggaran mendatang.
“Artinya kalau tidak bisa dicapai sesuai aspirasi saya, saya tidak langsung berhenti. Insya Allah akan terus saya pantau,” terangnya.
Deni juga mengingatkan, bahwa usulan tidak bisa langsung direalisasikan keesokan harinya.
Ini karena harus melalui tahapan perencanaan dan penganggaran, termasuk masuk dalam sistem perencanaan daerah.
“Usulan itu tidak hari ini diusulkan, besok langsung dikerjakan, itu tidak mungkin. Pasti ada jeda. Kalau tidak diinput dalam sistem, maka tidak akan bisa dianggarkan,” pungkasnya.
