infosatu.co
DISKOMINFO KALTIM

Putri Tsabitah An Nabil, Jurnalis Muda Meniti Karier Teknik Sipil Lewat Program Gratispol

Teks: Putri Tsabitah An Nabil, Mahasiswi S1 Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Berau, sekaligus Wartawan Jurnalborneo.

Samarinda, infosatu.co – Di usia 21 tahun, Putri Tsabitah An Nabil atau Titah memikul dua peran sekaligus: wartawan aktif dan mahasiswa Teknik Sipil.

Perempuan kelahiran Berau, 22 Agustus 2004 ini kembali ke tanah kelahirannya pada 2025 untuk melanjutkan studi S1 di Universitas Muhammadiyah Berau.

Pilihan yang ia ambil dengan penuh keyakinan, terlebih setelah Program Gratispol Pendidikan Kaltim menanggung seluruh biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT)-nya sebesar Rp5.000.000.

Selain kuliah, Titah juga bekerja sebagai wartawan dan tim media sosial di JurnalBorneo. Sebuah media lokal yang cukup aktif melaporkan isu daerah. Bagi Titah, bisa kuliah sambil bekerja adalah kesempatan yang tidak ingin ia sia-siakan.

“Program ini sangat membantu, apalagi untuk universitas swasta. Hampir semua mahasiswa baru merasakan manfaatnya,” ujarnya, Minggu, 23 November 2025.

Menemukan Gratispol Lewat Website dan Media Sosial

Sebagai pekerja media, akses informasi bukan hambatan bagi Titah. Ia mengetahui program Gratispol melalui website pemerintah dan sosial media, sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaftar.

“Yang membuat saya mendaftar karena program ini meringankan beban biaya perkuliahan. Semua kebutuhan kuliah saya tercover,” kata Titah.

Baginya, Gratispol bukan sekadar bantuan UKT, tetapi pintu untuk meraih masa depan akademik tanpa beban finansial keluarga.

Belajar Teknik Sipil Sambil Mengelola Konten Media

Memilih Teknik Sipil berarti memasuki dunia perhitungan detail, struktur, hingga desain infrastruktur.

Di saat yang sama, Titah tetap mengerjakan liputan, mengolah konten, dan mengelola lini media sosial.

Perpaduan ini tidak mudah, namun Gratispol membuatnya bisa fokus belajar tanpa harus membagi pikiran pada tagihan UKT.

“Karena UKT dibayar penuh, saya bisa lebih fokus pada perkuliahan dan pekerjaan saya di media,” jelasnya.

Bahkan ditengah kesibukannya, Titah menyempatkan diri untuk turut berpartisipasi dalam Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) Bontang 2025, Oktober lalu. Tak ingin pulang tanpa hasil, Titah menyabet Juara 1 karya jurnalistik kategori fotografi.

Titah menganggap pengalaman bekerja di media membantunya melihat realitas pembangunan di Kaltim secara lebih dekat sesuatu yang kelak relevan ketika ia berkarier sebagai engineer.

Komitmen Pulang Mengabdi Lewat Infrastruktur Kaltim

Berbeda dengan banyak mahasiswa yang ingin merantau ke provinsi lain setelah lulus, Titah sudah menanamkan tekad kuat: kembali bekerja untuk Kalimantan Timur.

“Saya akan bekerja di Kaltim untuk membantu pembangunan. Sesuai jurusan saya, saya ingin berkontribusi di bidang teknik sipil,” tegasnya.

Ia menyebut sektor-sektor yang sangat membutuhkan tenaga sipil: pembangunan infrastruktur, industri energi dan pertambangan, konsultan rekayasa, kontraktor, hingga pemerintahan.

Semua itu menurutnya relevan dengan arah pembangunan Kaltim, terlebih dengan kehadiran Ibu Kota Nusantara.

Catatan Kritis: Sosialisasi Harus Meluas Hingga SMA

Walau terbantu, Titah menyampaikan catatan yang realistis. Menurutnya, Gratispol harus diperkenalkan lebih luas kepada siswa SMA, kelompok yang paling membutuhkan pemahaman sejak dini.

“Marketing lewat sosial media harus diperluas. Sosialisasi ke sekolah-sekolah SMA penting agar informasi tersampaikan tepat sasaran,” ucapnya.

Pendidikan Kaltim Masih Punya PR Besar

Dalam pandangannya, pendidikan di Kaltim memiliki potensi besar, tetapi masih menghadapi tantangan serius seperti keterbatasan infrastruktur pendidikan, terutama di daerah terpencil.

Tak hanya itu, Titah menyoroti kapasitas sekolah dan kampus yang belum mampu menampung pertumbuhan siswa, kualitas tenaga pendidik yang perlu ditingkatkan, fasilitas teknologi yang belum merata serta dukungan bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus.

“Biaya pendidikan sudah terbantu dengan program gratis, tapi kualitas dan fasilitas harus ditingkatkan. Guru juga harus didukung supaya proses belajar lebih efektif,” katanya.

Program pendampingan akademik dan persiapan karier, menurut Titah, juga penting agar mahasiswa tidak hanya lulus, tetapi siap bersaing di dunia kerja.

Harapan: Pendidikan Setara untuk Semua Warga Kaltim

Titah mengakhiri dengan harapan sederhana namun kuat: agar program ini terus berlanjut tanpa hambatan, sehingga semakin banyak anak Kaltim dapat menempuh pendidikan tinggi tanpa rasa takut karena biaya.

“Semoga program ini berjalan lancar tanpa hambatan. Semua SDM Kaltim berhak mendapatkan pendidikan yang setara tanpa harus memikirkan biaya,” tutupnya.

Melalui kisahnya, Titah menegaskan bahwa Gratispol bukan hanya program bantuan, tetapi katalis yang mengubah arah hidup banyak mahasiswa.

Dari ruang redaksi menuju ruang kelas teknik, Titah kini melangkah mantap untuk kembali membangun Kalimantan Timur. (Adv Diskominfo Kaltim)

Editor: Nur Alim

 

Related posts

Kuota Seribu Takjil Tak Cukup, Warga Minta Pembagian Lebih Tertib

Andika

Warga Sambut Antusias Pembagian di Bulan Ramadan, Berharap Program Terus Berlanjut

Andika

OPD Pemprov Kaltim Bergiliran Bagikan Takjil hingga Maret, Antusias Warga Memuncak

Andika

You cannot copy content of this page