Samarinda, Infosatu.co — Founder Puan Lestari, Hanna Pertiwi menegaskan bahwa isu lingkungan sejatinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi perempuan.
Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam sesi talk show yang membahas peran perempuan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Hanna mengaku, pada awalnya ia tidak memiliki latar belakang di bidang lingkungan.
Ketertarikannya justru tumbuh dari kegelisahan melihat bagaimana perempuan dituntut produktif, sementara lingkungan tempat mereka hidup kerap tidak mendukung kesehatan dan keberlanjutan hidup.
“Awalnya saya merasa isu lingkungan itu rumit dan hanya bisa dipahami oleh orang-orang dengan latar belakang tertentu,” katanya.
“Tapi seiring belajar, saya sadar lingkungan itu sangat dekat dengan kehidupan kita,” ujarnya pada saat Talk Show di Gedung Bundar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim), Sabtu 14 Februari 2026
Ia menceritakan, ketertarikannya semakin kuat ketika terlibat dalam berbagai diskusi dan aktivitas sosial yang membahas dampak lingkungan terhadap kehidupan masyarakat.
Dari situ, Hanna mulai melihat keterkaitan antara isu lingkungan, kesehatan, dan peran perempuan.
Menurutnya, pembahasan lingkungan selama ini terlalu sering difokuskan pada sampah plastik, padahal limbah tekstil juga menjadi persoalan besar yang kerap luput dari perhatian.
Industri fesyen dan kebiasaan konsumsi masyarakat, kata dia, turut menyumbang volume sampah yang signifikan.
“Setiap hari kita pakai pakaian, nonton konten, datang ke acara, tapi jarang berpikir ke mana limbah tekstil itu berakhir,” jelasnya.
Sebagai bentuk aksi nyata, Hanna bersama rekan-rekannya menggagas kegiatan bertajuk Ecoship Day, sebuah kegiatan pengumpulan dan pengelolaan limbah tekstil.
Pakaian yang masih layak pakai dikurasi, dijual kembali, dan hasilnya disalurkan untuk kegiatan sosial.
Ia menekankan bahwa gerakan lingkungan tidak harus rumit atau jauh dari kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kesadaran bisa dimulai dari hal sederhana, seperti penggunaan air bersih, kualitas udara, hingga kebiasaan berpakaian yang lebih bijak.
Hanna juga menyoroti tantangan yang dihadapi perempuan di bidang lingkungan, yang menurutnya masih didominasi oleh laki-laki.
Kondisi tersebut kerap membuat suara perempuan kurang mendapat ruang.
“Perempuan harus berani bersuara, apalagi kalau kita punya data dan pemahaman yang kuat. Isu lingkungan ini menyangkut kehidupan kita semua,” tegasnya.
Ia berharap ke depan tersedia lebih banyak data lingkungan yang terbuka dan mudah diakses, sehingga komunitas, hingga masyarakat dapat bergerak bersama tanpa terhambat birokrasi.
Hanna juga mengajak perempuan untuk tidak ragu mengambil peran dan bergerak bersama dalam isu lingkungan.
“Lingkungan bukan soal satu orang atau satu kelompok. Ini tentang kita semua. Kalau tertarik, ayo bergerak bareng,” pungkasnya.
