Samarinda, infosatu.co — Usaha tenun Sarung Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) tetap bertahan dan permintaan terus meningkat. Namun pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menilai dukungan pemerintah terhadap pengrajin masih belum optimal.
Hal tersebut disampaikan Muhammad Arsyad, pemilik UD Cahaya Samarinda, dalam wawancara yang menyingkap berbagai hambatan di sektor kerajinan tenun.
Arsyad menegaskan bahwa keberlanjutan industri tenun tidak hanya bergantung pada kemampuan para pengrajin menjaga kualitas, tetapi juga pada hadirnya kebijakan pemerintah yang responsif terhadap kebutuhan dasar pelaku usaha.
Arsyad, yang telah menjalankan usaha tenun sejak 1990-an, menyampaikan kritik terbuka kepada pemerintah terkait program pembinaan yang dianggap tidak efektif.
Ia menilai pelatihan-pelatihan yang sering digelar tidak memberikan dampak nyata bagi pengrajin.
“Pelatihan semacam itu kurang efektif karena para pengrajin sarung sudah menguasai keahlian tersebut,” katanya.
Menurutnya, pengrajin lebih membutuhkan solusi yang bersifat praktis dan aplikatif, bukan materi pelatihan yang bersifat umum dan tidak sesuai kebutuhan lapangan.
Ia menambahkan, banyak kegiatan pelatihan hanya berlangsung di hotel dan lebih mirip seminar.
“Pelatihan yang hanya berlangsung satu hari di hotel saya rasa kurang memberikan manfaat, terlebih karena harus mengeluarkan biaya untuk sewa tempat dan narasumber,” ungkapnya.
Arsyad memandang pola pelatihan tersebut cenderung seremonial, sehingga tidak menjawab persoalan mendasar yang dihadapi pengrajin seperti biaya produksi yang meningkat dan akses bahan baku yang tidak stabil.
Menurut Arsyad, bentuk bantuan yang paling dibutuhkan para pengrajin saat ini bukanlah pelatihan, melainkan dukungan nyata berupa penyediaan atau subsidi pembelian bahan baku.
Ia menilai bantuan tersebut akan memberikan dampak langsung terhadap keberlangsungan usaha, karena biaya bahan baku merupakan komponen terbesar dalam proses produksi.
“Kalau programnya beli bahan baku untuk pengrajin, itu bisa meningkatkan kesejahteraan,” katanya.
Arsyad menegaskan bahwa akses bahan baku yang terjamin dan terjangkau akan membuat para pengrajin mampu mempertahankan kualitas sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.
Ia juga menyinggung bahwa banyak pengrajin generasi tua tidak pernah mendapatkan bantuan nyata.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat banyak pengrajin senior berjuang sendiri mempertahankan tradisi tenun tanpa dukungan fasilitas maupun insentif dari pemerintah.
Selain kurangnya dukungan pemerintah, regenerasi pengrajin menjadi persoalan lain. Banyak pengrajin senior yang sudah lanjut usia sehingga sulit mempertahankan motif-motif kuno.
“Motif-motif yang dulu susah dibikin. Pengrajinnya sudah tua-tua,” ujarnya saat ditemui di Toko UD Cahaya Samarinda, Minggu 7 Desember 2025.
Meski begitu, jumlah pengrajin justru mengalami peningkatan, kini mencapai lebih dari 30 orang.
Hal ini menunjukkan minat masyarakat tetap ada, tetapi pembinaan tidak boleh berhenti pada hal-hal seremonial saja.
Arsyad kembali menegaskan harapannya agar pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih konkret dan tepat sasaran.
Menurutnya, industri tenun lokal seperti Sarung Samarinda justru memiliki prospek cerah jika diberi perhatian serius.
“Harapan saya pemerintah lebih mensupport para pengrajin sarung-sarung Samarinda. Pemerintah sekarang kurang mensupport,” pungkasnya.
Dengan peran pemerintah yang lebih kuat, Arsyad yakin Sarung Samarinda akan tetap menjadi ikon budaya yang tak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah perubahan zaman.
