Bontang, infosatu.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang Kalimantan Timur (Kaltim) terus memperkuat dukungan terhadap para pegiat agama melalui Program Komitmen Bontang 2026.
Salah satu bentuknya adalah peningkatan insentif bagi para tokoh dan pelayan rumah ibadah yang kini mencapai Rp2 juta per bulan.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris, mengatakan pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga harus berjalan seiring dengan penguatan nilai religius dan sosial di tengah masyarakat.
Melalui program tersebut, Pemkot Bontang mengalokasikan anggaran sekitar Rp24 miliar untuk memberikan insentif kepada kurang lebih 2.000 pegiat agama. Mereka terdiri dari imam, marbot, guru ngaji, pendeta, pastor, serta tokoh keagamaan lainnya dari berbagai rumah ibadah di Kota Bontang.
Setiap penerima kini memperoleh insentif sebesar Rp2 juta per bulan. Angka tersebut meningkat Rp900 ribu dibandingkan sebelumnya yang hanya Rp1,1 juta per bulan.
Meski dihitung setiap bulan, mekanisme pencairan insentif biasanya dilakukan secara rapel setiap tiga bulan sekali. Dana tersebut kemudian ditransfer langsung ke rekening masing-masing penerima.
Menurut Agus Haris, peningkatan insentif ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah terhadap peran para pegiat agama yang selama ini aktif membina umat, memakmurkan rumah ibadah, serta menjaga keharmonisan sosial di masyarakat.
“Dengan sinergi antara pemerintah, ulama, pemuda masjid, dan seluruh elemen masyarakat, Kota Bontang yang kita cintai ini diharapkan senantiasa dilimpahi keberkahan,” ujarnya saat diwawancarai usai agenda penyaluran paket sembako Ramadan kepada guru mengaji, Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menegaskan, program ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Bontang untuk memastikan pembangunan kota berjalan seimbang, tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial dan religius dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kota Bontang, Atim Prasojo, menyebut besaran insentif yang diberikan pemerintah daerah tersebut termasuk yang tertinggi di Indonesia.
Menurutnya, di banyak daerah lain insentif bagi pegiat agama umumnya berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan.
“Alhamdulillah insentif di Bontang ini juga merupakan yang terbesar se-Indonesia, yakni sebesar Rp2 juta. Standar di daerah lain biasanya hanya Rp500 ribu sampai Rp1 juta,” katanya.
Atim juga menjelaskan bahwa pemberian insentif bagi guru mengaji memiliki ketentuan tertentu yang diatur dalam peraturan wali kota (Perwali), salah satunya masa pengabdian minimal dua tahun.
“Insentif memang sesuai Perwali harus mengabdi selama dua tahun. Semoga nanti tahun depan ada penambahan, karena dari 1.300 ada 300 yang sudah dua tahun sebetulnya, tapi belum kebagian,” ujarnya.
Ia mengakui pada tahun ini terdapat sejumlah penyesuaian anggaran yang turut memengaruhi proses penambahan penerima insentif.
“Memang janjinya tahun ini, tapi kita semua tahu tahun ini anggaran sedang goyang, efisiensi juga sedang dilakukan,” jelasnya.
Atim menambahkan, pihaknya setiap tahun melakukan pendataan ulang terhadap para guru mengaji, termasuk penambahan data penerima baru. Proses ini membuat sebagian guru yang belum memenuhi persyaratan harus menunggu hingga tahun berikutnya.
“Jadi setiap tahun kami melakukan pendataan. Ketika kita mengajukan di tengah tahun, memang ada yang belum memenuhi, ada yang dapatnya di tahun kemudian. Tapi insyaallah tahun depan bisa dapat,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan pembayaran insentif yang telah berjalan selama ini tidak pernah mengalami kendala. Dana tersebut secara rutin disalurkan setiap bulan langsung ke rekening masing-masing penerima.
“Pembayarannya tidak pernah ada kendala, setiap bulan langsung masuk ke rekening masing-masing,” pungkasnya. (Adv)
