Samarinda, infosatu.co – Di sebuah wilayah tepatnya di Jalan Raja Alam, Kabupaten Berau, seorang gadis 17 tahun bernama Naysilla Putri Kurniawan tumbuh dengan mimpi besar, menjadi insinyur sipil yang suatu hari mampu membangun jalan, jembatan, dan fasilitas publik yang lebih layak bagi masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim).
Namun seperti banyak remaja di kota kecil, mimpinya sempat terasa terlalu jauh. Bukan karena minimnya tekad, melainkan karena beratnya biaya kuliah yang membayangi keinginannya melanjutkan pendidikan tinggi.
Naysilla diterima di Universitas Muhammadiyah Berau, Fakultas Teknik dan Konservasi, Program Studi Teknik Sipil. Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus ia bayar setiap semester adalah Rp5 juta, angka yang bagi sebagian keluarga mungkin terasa biasa, tetapi bagi keluarga Naysilla menjadi beban nyata yang perlu dipikirkan berkali-kali.
“Saya ingin kuliah dari awal, tapi biayanya terasa berat. Gratispol ini sangat membantu meringankan beban orang tua,” ujarnya pelan.
Pertemuannya dengan program Gratispol Pendidikan Kaltim bukan datang dari ruang seminar atau sosialisasi kampus. Justru semuanya berawal dari unggahan media sosial dan informasi tambahan dari pihak kampus yang mendorong mahasiswanya untuk segera mendaftar.
“Melalui media sosial dan saran kampus. Dari situ saya tahu kalau Gratispol bisa membantu biaya kuliah saya,” tuturnya.
Setelah memastikan semua dokumen terpenuhi, ia langsung mendaftar. Tak lama kemudian, kabar yang ia tunggu datang, ia resmi diterima sebagai penerima manfaat Gratispol.
UKT Ditanggung, Beban Keluarga Terangkat
Bagi Naysilla, diterima sebagai peserta Gratispol adalah titik balik yang mengubah cara pandangnya tentang masa depan.
“Manfaat yang saya rasakan yaitu dapat meringankan beban orang tua dalam biaya kuliah,” ujarnya.
Program Gratispol menanggung penuh UKT yang ia bayarkan setiap semester. Dengan itu, ia bisa fokus belajar tanpa khawatir apakah keluarganya mampu membayar semester berikutnya.
“Dengan Gratispol, saya punya kesempatan lebih besar untuk menyelesaikan pendidikan saya sampai lulus.”
Keputusan mendaftar bukan hanya soal biaya. Itu adalah bentuk penghormatan untuk kedua orang tuanya yang telah berjuang membesarkannya.
Dari Berau untuk Kaltim: Tekad Seorang Calon Insinyur Muda
Masa depan adalah topik yang membuat mata Naysilla berbinar. Ia tidak hanya ingin menjadi sarjana teknik sipil; ia ingin kembali dan membangun tanah kelahirannya.
“Saya ingin membantu memajukan Kalimantan Timur, terutama dengan ikut mengembangkan SDM dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Sebagai mahasiswa teknik sipil, ia bermimpi terlibat dalam proyek-proyek strategis daerah.
“Membangun jalan, jembatan, dan fasilitas umum yang berkualitas itu yang saya impikan. Semuanya harus aman dan tidak merusak lingkungan,” katanya mantap.
Pendidikan baginya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi sebuah investasi untuk masyarakat.
Harapan Agar Gratispol Terus Meluas dan Mudah Diakses
Naysilla berharap program ini terus diperluas agar lebih banyak pelajar Kaltim dapat menikmati kesempatan yang sama.
“Harapan saya program Gratispol ini terus berjalan, menjangkau lebih banyak pelajar, dan memberi kesempatan yang adil bagi semua anak di Kaltim,” ujarnya.
Menurutnya, Gratispol akan lebih optimal jika kuota diperbanyak, sistem pendaftaran lebih mudah, sosialisasi diperluas hingga ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) serta dukungan tambahan bagi peserta ditingkatkan.
Pendidikan Kaltim Masih Tertinggal, Gratispol Jadi Titik Perubahan
Secara jujur, Naysilla menilai kondisi pendidikan di Kaltim masih tertinggal dibanding daerah seperti Jawa.
“Banyak daerah 3T belum punya sekolah atau kampus yang memadai. Semuanya masih terpusat di kota,” katanya.
Ia menilai pemerataan fasilitas pendidikan dan pembangunan kampus di daerah menjadi kunci agar potensi Sumber Daya Manusia (SDM) tidak berhenti hanya karena jauh dari pusat pendidikan.
“Kalau sekolah dan kampus diperbanyak, persaingan antarwilayah akan lebih baik. Ditambah program Gratispol, kualitas pendidikan Kaltim pasti meningkat.”
Mimpi dari Berau
Di usianya yang baru 17 tahun, Naysilla memikul tanggung jawab besar untuk dirinya sendiri, keluarganya, dan daerahnya kelak.
Gratispol bagi dirinya bukan sekadar bantuan biaya kuliah, melainkan jembatan menuju masa depan.
“Saya ingin ilmu saya membawa perubahan positif bagi Kalimantan Timur,” ungkapnya.
Di sebuah gang kecil di Berau, langkah seorang anak muda kini terbentang lebih luas, berkat tekad, dukungan keluarga, dan sebuah kesempatan bernama Gratispol Pendidikan Kaltim. (Adv Diskominfo Kaltim)
Editor: Nur Alim
