Samarinda, infosatu.co — Di tengah arus produk tekstil modern, keberlangsungan Sarung Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) masih terjaga berkat ketekunan para pengrajin lokal.
Salah satunya adalah Muhammad Arsyad, pemilik Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) UD Cahaya Samarinda, telah menggeluti usaha tenun selama kurang lebih 35 tahun.

Arsyad tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga identitas budaya Samarinda melalui sarung yang masih dibuat dengan cara manual.
Ia menjadi salah satu figur penting dalam menjaga eksistensi sarung khas tersebut di tengah melemahnya minat generasi muda untuk terjun sebagai pengrajin.
Usaha yang ia jalankan saat ini berada di Jl. P Bendahara Gg Muharam RT 26, Samarinda Seberang.
Arsyad memulai usahanya sejak tahun 1990-an ketika masih bersekolah. Ia adalah generasi ketiga dalam keluarga pengrajin sarung.
“Asal mulanya dari kakek, turun ke ibu, baru ke saya,” ujarnya.
Ia berharap tradisi ini suatu saat dapat diteruskan oleh anaknya yang kini menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Samarinda.
Untuk mempertahankan kualitas produksi, Arsyad menggunakan bahan baku dari luar daerah, bahkan impor dari Cina untuk kualitas terbaik.
“Kualitas nomor satu dari Cina, kalau nomor dua lokal saja,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan tidak ada kendala terkait bahan baku.
Arsyad tidak terpaku pada motif tradisional seperti HT.
Ia terus memperbarui desain untuk mengikuti perkembangan zaman, termasuk menyesuaikan warna sesuai selera anak muda.
Selain sarung, ia juga memproduksi tas, manik, dan kopiah.
“Supaya tidak hanya sarung saja,” ujar Arsyad saat ditemui di Toko UD Cahaya Samarinda, Minggu 7 Desember 2025.
Diversifikasi produk ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan usaha, mengingat permintaan sarung memiliki periode tertentu.
Produk turunan seperti tas dan kopiah membantu memperluas pasar, terutama bagi wisatawan dan pembeli yang mencari oleh-oleh khas daerah.
Jumlah motif Sarung Samarinda yang diproduksi mencapai lebih dari 30. Namun motif lama mulai sulit dibuat karena minimnya regenerasi.
“Pengrajinnya sudah tua-tua. Itu hambatan kami,” ungkapnya.
Motif kotak-kotak disebut sebagai yang paling digemari karena menjadi ciri khas Sarung Samarinda.
Dalam sehari, produksinya dapat mencapai 15 sarung tergantung kemampuan masing-masing pengrajin.
Saat ini ia dibantu lebih dari 30 pengrajin. Tidak ada sistem target, karena Arsyad menilai fleksibilitas membuat kualitas lebih terjaga.
Metode kerja ini membuat para pengrajin bekerja lebih nyaman tanpa tekanan kuantitas, sehingga mereka dapat fokus pada ketelitian serta kesempurnaan motif.
Arsyad percaya kualitas tidak boleh dikorbankan hanya demi mengejar jumlah produksi.
Meskipun sempat terjadi pandemi Covid-19 yang pernah menghantam banyak industri kecil, Arsyad mengaku permintaan sarung tetap tinggi.
“Walaupun Covid, krisis, tidak ada masalah,” katanya. Konsumen bahkan banyak yang datang dari kota-kota lain.
Lebih lanjut, menariknya, Arsyad tidak pernah mempromosikan produk secara digital.
“Di online, tidak pernah saya jual,” tegasnya.
Namun konsumen tetap berdatangan. Ia percaya kualitas sarunglah yang membuat produk miliknya dikenal dari mulut ke mulut.
“Saya utamakan kualitas. Itu salah satu kunci,” imbuhnya.
Pola promosi dari mulut ke mulut inilah yang membuat usaha Arsyad tetap berjalan stabil.
Banyak pelanggan lama membawa keluarga atau rekan mereka, sehingga jangkauan pasar meluas tanpa memerlukan biaya pemasaran digital.
Dengan pengalaman puluhan tahun, Arsyad tetap optimistis menjaga keberlanjutan UD Cahaya Samarinda meskipun menghadapi tantangan regenerasi pengrajin dan persaingan produk modern.
Menurutnya, selama kualitas terus dipertahankan, Sarung Samarinda akan tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
