Samarinda, Infosatu.co — Di era ketika informasi dapat menyebar dalam hitungan detik melalui media sosial, peran wartawan kerap dipertanyakan.
Namun bagi Ira Nur Ajijah wartawan, Media Sukri Indonesia (MSI) Group, justru di tengah derasnya arus informasi digital itulah keberadaan wartawan menjadi semakin penting.
Ira menilai media sosial memberi ruang luas bagi siapa saja untuk menyampaikan informasi.
Sayangnya, kecepatan tersebut tidak selalu diiringi dengan akurasi dan keberimbangan.
Di sinilah wartawan hadir sebagai penjaga kualitas informasi melalui proses verifikasi, konfirmasi, dan penyajian fakta yang utuh kepada publik.
“Kecepatan bukan satu-satunya ukuran dalam jurnalistik. Kredibilitas, konteks, dan tanggung jawab etik tetap jadi nilai utama,” ujarnya, Jumat 30 Januari 2026.
Menurut Ira, media sosial bisa dimanfaatkan sebagai sumber awal informasi maupun sarana distribusi.
Namun tanpa proses jurnalistik yang benar informasi berpotensi menyesatkan masyarakat.
Wartawanlah yang memastikan setiap kabar yang sampai ke publik telah melalui proses penyaringan yang ketat.
Pengalaman bertugas di Jakarta selama satu bulan menjadi babak penting dalam perjalanan jurnalistik Ira.
Ia mengaku tantangan terbesar meliput di ibu kota adalah tingginya kompetisi antar media dan cepatnya arus informasi.
Banyak isu muncul bersamaan dengan liputan yang dilakukan oleh media-media besar nasional.
“Wartawan dituntut bukan hanya cepat dan akurat, tapi juga punya sudut pandang yang kuat,” katanya.
Selain itu, akses terhadap narasumber di Jakarta dinilai lebih ketat dan formal.
Tidak semua pihak mudah ditemui, sehingga jejaring, ketekunan, dan kemampuan komunikasi menjadi kunci utama.
Bagi wartawan daerah yang belum mengenal ekosistem Jakarta hal ini menjadi tantangan tersendiri.
“Relasi itu penting. Apalagi bagi kami yang awalnya tidak terlalu mengenal Jakarta dan dinamika di dalamnya,” ungkap Ira.
Meski demikian, pengalaman tersebut memberikan kesan mendalam.
Ia menyebut kesempatan merasakan langsung atmosfer liputan nasional bersama media-media besar sebagai pengalaman berharga dalam perjalanan kariernya.
Jika dibandingkan dengan Samarinda, Ira melihat perbedaan mencolok dari sisi skala dan ritme kerja. Di Jakarta isu bersifat nasional dan bergerak sangat dinamis.
Liputan sering bersifat institusional dan membutuhkan ketelitian tinggi. Sementara di Samarinda, sebagai pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), akses terhadap narasumber dinilai lebih terbuka.
“Di daerah, kita punya ruang lebih besar untuk mendalami isu dan membangun kedekatan dengan narasumber,” ujarnya.
Menurut Ira, baik jurnalistik nasional maupun daerah memiliki keunggulan masing-masing dan saling melengkapi dalam ekosistem media.
Pengalaman di Jakarta diharapkannya menjadi bekal penting ketika kembali bertugas di Samarinda.
Ia berharap dapat membawa perspektif baru, standar kerja yang lebih matang, serta jejaring yang lebih luas untuk memperkuat kualitas pemberitaan di daerah.
Sebagai jurnalis MSI Group, Ira menegaskan komitmennya untuk terus menjaga integritas, profesionalisme, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
“Di tengah perubahan zaman dan tantangan digital, media harus tetap menjadi ruang yang dipercaya masyarakat,” pungkasnya.
