infosatu.co
Diskominfo Kukar

Kukar Bidik 2 Indikasi Geografis Sekaligus, Kutim Dorong Kakao Tembus Panggung Nasional

Teks: Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Taufiq Kurrahman, (infosatu.co/Koko).

Samarinda, infosatu.co – Pemerintah daerah di Kalimantan Timur (Kaltim) tak lagi sekadar bicara potensi, tetapi mulai mengunci legalitas dan nilai tambah melalui skema Indikasi Geografis (IG).

Di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), satu target besar hampir tercapai. Produk unggulan Kopi Perangat disebut sudah mengantongi dukungan penuh.

Termasuk penandatanganan SK Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) oleh Bupati Kukar. Proses percepatan pun terus dikawal agar tuntas tahun ini.

“Kalau ini selesai, Kukar akan punya dua IG. Selain Gula Aren, Kopi Perangat juga siap menyusul,” ungkap Taufiq Kurrahman Kepala Dinas Perkebunan, Selasa 31 Maret 2026.

Langkah ini bukan sekadar administratif. Status IG diyakini bakal mendongkrak daya saing produk, membuka akses pasar lebih luas, sekaligus melindungi keaslian komoditas lokal dari klaim pihak lain.

Sementara itu, geliat serupa juga mulai terasa di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Dari Desa Pengadan, komoditas kakao tengah dipersiapkan untuk masuk jalur yang sama.

Bahkan, koordinasi hingga ke Kementerian Hukum dan HAM telah dilakukan sebagai bagian dari upaya penguatan pengajuan IG.

“Kakao Pengadan punya karakter kuat. Kita sudah bergerak ke pusat, tinggal bagaimana ini kita kawal sampai resmi ditetapkan,” jelasnya.

Tak hanya fokus pada sertifikasi, inovasi di tingkat akar rumput juga mulai digencarkan. Salah satu yang mencuri perhatian adalah pengembangan keripik kelapa, termasuk dari kelapa tua yang selama ini belum dimanfaatkan optimal.

Program ini langsung menyasar masyarakat melalui pelatihan terpadu, mulai dari teknik produksi, pengolahan, hingga strategi pemasaran.

Sekitar 20 hingga 25 pelaku usaha lokal telah disiapkan melalui koordinasi dengan dinas perkebunan kabupaten.

Para peserta mendapatkan pendampingan intensif dari narasumber yang didatangkan khusus, dengan harapan mampu melahirkan produk olahan bernilai jual tinggi dan berdaya saing.

“Kita dorong sesuai potensi masyarakat. Apa yang mereka punya, itu yang kita angkat. Kelapa misalnya, melimpah tapi belum maksimal diolah,” tegasnya.

Tak berhenti di produksi, aspek pemasaran juga jadi perhatian serius. Kolaborasi lintas sektor hingga provinsi mulai dibangun, termasuk melibatkan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur untuk memperkuat jejaring distribusi.

Langkah agresif ini menjadi penegas arah baru pembangunan sektor perkebunan di Kalimantan Timur: dari sekadar penghasil bahan mentah, menuju produsen produk unggulan beridentitas kuat.

Dengan IG dan inovasi, daerah ini tak lagi mau jadi penonton melainkan pemain utama di pasar nasional, bahkan global.

Related posts

Operasi Ketupat 2026 Dimulai, Sekda Kukar Tekankan Koordinasi Pengamanan Mudik

Martin

Bupati Kukar Ajak Warga Tinggalkan Budaya Buang Sampah, Beralih ke Budaya Olah

Martin

Kukar Jadi Daerah dengan Angka Stunting Terendah di Kaltim

Firda

You cannot copy content of this page