infosatu.co
NASIONAL

Kompetisi TIK Disabilitas Nasional, Difabel Didorong Berdaya di Era Digital

Teks: Acara penganugerahan rangkaian program Inklusi Digital 2025

Jakarta, infosatu.co – Kompetisi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi penyandang disabilitas tingkat nasional resmi berakhir melalui prosesi penganugerahan pemenang yang berlangsung di Jakarta, Sabtu, 30 Agustus 2025.

Acara tersebut menjadi penutup rangkaian Program Inklusi Digital 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komunikasi dan Digital (Komdigi) bekerja sama dengan Yayasan Paradifa.

Ajang yang digelar sejak Juni lalu itu mempertemukan 40 finalis dengan 43 pendamping dari 38 provinsi.

Mereka terpilih melalui tahapan seleksi ketat di tingkat provinsi dan regional sebelum bersaing di Jakarta.

Kompetisi dibagi dalam empat kategori yakni Digital Office, Digital Public Relations, Digital Marketing, dan Content Creator. Seluruhnya dinilai oleh 15 juri yang berasal dari kalangan akademisi, praktisi, dan lembaga masyarakat.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, hadir langsung menyerahkan penghargaan kepada para juara.

Dalam sambutannya, ia menekankan arti penting penyelenggaraan kompetisi ini sebagai wujud keberpihakan negara terhadap kelompok difabel.

“Ini adalah komitmen kami khususnya BAKTI Komdigi dalam membawa semangat inklusifitas bahwa teknologi ini adalah milik semua bukan hanya sebagian kelompok,” katanya.

“Digitalisasi juga membuka ruang yang luas bagi teman-teman disabilitas untuk berkompetisi secara setara untuk menunjukkan potensi terbaik dalam dunia kerja dan produktivitas,” ucap Meutya.

Ia menambahkan, kontribusi penyandang disabilitas tidak hanya terbatas pada lingkup pribadi, melainkan dapat meninggalkan jejak penting bagi bangsa.

“Yang bukan hanya meninggalkan arti bagi diri sendiri tetapi memberi makna bagi dunia dan khususnya kita harapkan memberi makna bagi masa depan Indonesia,” tuturnya.

Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar, menyebut kehadiran para finalis menjadi sumber inspirasi tersendiri bagi lembaganya. Selama program berlangsung, kata Fadhilah, pihaknya banyak belajar dari determinasi dan semangat para peserta.

“Dari interaksi intens bersama mereka, kami banyak mendapatkan wawasan tentang inklusi digital yang bermakna dan hakiki. Kami yang lebih banyak belajar dari mereka daripada mereka belajar dari kami,” ujar Fadhilah.

Ia menilai kompetisi ini merupakan wujud kontribusi nyata penyandang disabilitas dalam memberi warna bagi ekosistem digital Indonesia.

Sementara itu, Ketua Yayasan Paradifa, Echi Pramitasari, yang sejak awal terlibat dalam perancangan program, menekankan pentingnya memberi ruang partisipasi seluas-luasnya bagi kaum difabel.

Menurutnya, Program Inklusi Digital didesain agar penyandang disabilitas tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi juga pelaku yang aktif dalam ekosistem digital.

“Pembangunan akses internet oleh Komdigi sampai di pelosok-pelosok semakin memudahkan rekan-rekan kami untuk berpartisipasi dalam pelatihan lalu,” kata Echi.

Lebih jauh, Echi mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga membuka peluang kerja baru.

Selama program berjalan, tercatat 210 orang terlibat sebagai pengelola kelas, 218 orang sebagai trainer, 110 juru bahasa isyarat, serta 83 asesor.

“Semua menjalankan tugasnya secara profesional,” ucapnya.

Program Inklusi Digital 2025 terdiri dari sejumlah tahapan.

Pada Maret hingga April, tim penyelenggara menyiapkan modul, platform pembelajaran digital, dan materi pelatihan.

Dilanjutkan pada Mei dengan pelatihan guru serta tenaga administrasi Sekolah Luar Biasa dan organisasi disabilitas, yang diikuti oleh 135 peserta.

Kemudian, penyelenggaraan ICT Camp for Youth with Disabilities yang berlangsung pertengahan hingga akhir Mei diikuti oleh 265 peserta muda difabel bersama 20 trainer.

Memasuki Juni hingga pertengahan Juli, pelatihan nasional daring dibuka untuk lebih dari 2.600 peserta difabel dari berbagai latar disabilitas, mulai dari pendengaran, penglihatan, fisik, intelektual, hingga disabilitas ganda.

Sebanyak 190 trainer dilibatkan, memastikan seluruh proses pembelajaran berlangsung interaktif, adaptif, dan ramah disabilitas.

Hasil dari pelatihan tersebut kemudian disaring melalui seleksi provinsi dan regional.

Para peserta terbaik dipilih untuk mewakili daerahnya ke tingkat nasional. Seluruh proses penilaian dilakukan berjenjang, guna memastikan kompetensi yang ditampilkan di Jakarta benar-benar representasi terbaik dari setiap wilayah.

Penganugerahan pemenang di Jakarta menjadi penutup dari seluruh rangkaian panjang ini.

Pemerintah menilai keberhasilan penyelenggaraan kompetisi tidak hanya terletak pada jumlah peserta, melainkan juga pada dampak yang ditinggalkan, mulai dari tumbuhnya kepercayaan diri, kemandirian, dan ruang pengakuan yang setara bagi penyandang disabilitas dalam dunia digital.

Berikut daftar lengkap pemenang Kompetisi TIK Disabilitas Nasional 2025 tercantum dalam lampiran resmi penyelenggara.

Related posts

Kapolda Jatim Kunjungi Petugas yang Luka Saat Amankan Unjuk Rasa di Grahadi

Zainal Abidin

Gedung DPRD Makassar Hangus Terbakar, 4 Orang Meninggal

Martinus

Driver Ojol Gelar Aksi Damai dan Shalat Gaib Depan Mapolres Pasuruan

Zainal Abidin

Leave a Comment

You cannot copy content of this page