Samarinda, Infosatu.co — Lurah Sempaja Timur Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Yuliani menyebut pembangunan kolam retensi di kawasan Bengkuring mulai menunjukkan dampak positif terhadap penanganan banjir, khususnya dalam mengurangi durasi genangan air di permukiman warga.
Menurutnya, sepanjang 2025 wilayah Perumahan Bengkuring tercatat hampir lima kali terdampak banjir.
Namun, durasi genangan dinilai lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sebelum kolam retensi dibangun.
“Kalau dulu bukan hitungan jam lagi, tapi bisa berhari-hari. Sekarang durasinya jauh lebih pendek. Ini salah satu dampak dari progres pembangunan kolam retensi Bengkuring,” ujarnya, Rabu 4 Februari 2026.
Ia menjelaskan, sebelumnya kawasan sekitar pintu air Terong menjadi titik pertama yang terendam dan terakhir surut saat banjir terjadi.
Kondisi tersebut diperparah ketika hujan deras bersamaan dengan pasang Sungai Karang Mumus, sehingga air tidak hanya masuk dari jalur darat, tetapi juga melalui anak sungai ke pemukiman warga.
Dengan adanya tanggul yang saat ini masih dalam proses pembangunan, diharapkan aliran air dari sungai dapat tertahan agar tidak lagi masuk ke kawasan permukiman.
Sementara itu, pompa air nantinya akan berfungsi membuang air yang sudah tertampung di kolam retensi.
“Kalau tanggul selesai, itu bisa menahan air dari sungai. Sementara pompa untuk membuang air yang sudah masuk ke kolam retensi,” jelasnya.
Meski pintu air telah terbangun, Yuliani mengakui operasionalnya belum maksimal karena pompa pendukung belum tersedia.
Ia berharap seluruh infrastruktur, termasuk tanggul dan pompa, dapat segera rampung sehingga warga Bengkuring benar-benar terbebas dari banjir berkepanjangan.
“Harapan kami tanggul dan pompa segera rampung agar warga Bengkuring benar-benar terbebas dari banjir berkepanjangan,” tambah Yuliani.
Terkait pendangkalan, ia menyebut belum dapat memastikan karena proses pekerjaan masih berlangsung dan menjadi kewenangan instansi teknis terkait.
