Ada orang-orang yang memilih bekerja ketika sebagian masih terlelap, berkeringat saat cahaya belum sempat datang, dan bertahan ketika jalan masih gelap. Dari merekalah kesuksesan sering lahir.
Jumat sore, 12 Desember 2025, di sebuah rumah yang juga menjadi kantor di Perum Bukit Mediterania, Samarinda, obrolan kecil berubah menjadi ruang refleksi tentang hidup dan keberhasilan.
Tema diskusi itu terdengar sederhana: “Sukses Itu Perlu Perjuangan dan Kerja Keras.” Namun dari Nidya Listiyono, Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalimantan Timur (Kaltim), tema itu menjelma menjadi kisah yang jauh dari motivasi instan.

Bukan teori. Bukan sekadar kalimat dalam poster. Melainkan rangkaian pengalaman hidup yang penuh keringat, kegagalan, pilihan berisiko dan keputusan untuk tidak berhenti bekerja meski keadaan sering kali tidak ideal.
Diskusi “Ngobrol Inspirasi” itu dihadiri Ketua JMSI Kaltim, yang juga sebagai CEO Media Sukri Indonesia (MSI) Grup Mohammad Sukri, Pemimpin Redaksi Infosatu.co dan Insitekaltim.com Samsul Arifin, serta sejumlah wartawan yang merupakan bagian dari media yang tergabung di JMSI Kaltim.Dan dari sanalah cerita dimulai.
Sertifikasi, Legalitas dan Fondasi Profesi
Tyo sapaan akrab Nidya Listiyono, tak langsung membuka perbincangan dengan perjalanan hidupnya, melainkan dengan pertanyaan mendasar: apakah para wartawan sudah siap secara legal?
Ia menyebut sertifikasi bukan sekadar syarat administratif, tetapi fondasi profesionalisme. Tanpa itu, kerja keras jurnalistik bisa runtuh kapan saja.
“Jangan sampai kerjaan sudah jauh, liputan sudah ke mana-mana, tapi legalitas kita belum siap,” ujarnya.
Dalam konteks itulah ia memberi apresiasi pada JMSI Kaltim, yang dinilainya serius membangun sumber daya manusia pers mulai dari sertifikasi, pelatihan, hingga pendampingan.
Baginya, pembangunan SDM bukan proyek jangka pendek, melainkan investasi yang menentukan masa depan media lokal.
Kisah Masa Muda sebagai Pengecer Koran di Waktu Subuh
Mukadimah awal Tyo selesai. Cerita lalu bergeser. Perlahan dan lebih personal.
Tyo tidak langsung bicara jabatan, posisi, atau gelar. Ia justru menarik peserta diskusi ke masa kecilnya saat ia sudah berjualan sejak SD, SMP hingga SMA.
Bahkan setelah menyandang gelar sarjana dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ia pulang ke Kaltim dan memilih berjualan koran. Enam bulan lamanya.
Setiap subuh, ia bangun lebih awal. Bukan demi romantisme perjuangan, tapi karena satu hal sederhana: jika terlambat, omset hilang.
“Kalau saya bangun siang, saya ketinggalan rezeki,” katanya.
Bagi pria kelahiran Madiun, 29 September 1980 itu, gelar sarjana bukan alasan untuk menjadi eksklusif, apalagi malas bekerja. Justru di situlah banyak orang, menurutnya, mulai terjebak pada kesombongan awal.
Sukses Tidak Murah, dan Selalu Ada Harga
Dalam narasi panjangnya selama hampir 40 menit, Tyo berulang kali menekankan satu kalimat: sukses itu tidak murah.
Ia mengkritik keras mental “menunggu indah pada waktunya” tanpa kerja nyata, tanpa komitmen, tanpa mimpi. Bagi Tyo, hidup tidak menunggu siapa pun yang hanya berharap.
“Hidup itu bayar tagihan,” katanya lugas.
“Mau hidup enak? Mau sehat? Mau sukses? Semua ada harganya.”
Tyo mengajak pendengar untuk menelaah lebih dalam keikhlasan dan introspeksi diri dalam bekerja. Orang yang bekerja seolah digaji lebih tinggi dari yang ia terima, akan dibayar dengan hal baik yang tidak melulu bisa kita lihat wujudnya.
“Jika anda bekerja kemudian digaji dua juta, tapi kinerja anda seperti bekerja orang yang digaji lima juta, maka percayalah tiga juta nya akan dibalas dengan hal baik yang lain,” tuturnya sambil menyebut kesehatan, kebahagiaan, rezeki lancar sebagai maksud ucapannya.
Sebaliknya, bekerja setengah hati dengan hitung-hitungan waktu, bermalas-malasan padahal gaji anda tinggi, justru membuka ‘tagihan lain’ dalam hidup entah berupa kehilangan, masalah, atau hambatan yang tak terduga.
Dari Marketing hingga Direktur
Singkat cerita. Karier Tyo di dunia profesional dimulai dari bawah. Di Branch Manager PT. BFI Finance Tbk. Samarinda 2005 – 2019. Tyo menjalani hampir semua peran: marketing, survei lapangan, operasional, hingga pekerjaan teknis yang sering dianggap pekerjaan paling bawah. Ia tidak memilih-milih.
“Kalau mau jadi senior, jangan jadi spesialis, tapi harus jadi generalis,”ujarnya.
Pesan itu diarahkan langsung kepada wartawan. Menulis hanyalah pintu masuk. Ketika kelak menjadi redaktur, pemimpin redaksi, atau bahkan pemilik media, kemampuan yang dibutuhkan jauh lebih luas, yakni manajemen, pengambilan keputusan, membaca peluang dan membangun kepercayaan.
Opportunity Tidak Pernah Berkabar
Salah satu bagian paling reflektif muncul ketika Tyo berbicara tentang peluang. Menurutnya, peluang tidak datang dengan jadwal tetap. Ia muncul seperti Lailatul Qadar tidak bisa diprediksi, singkat dan hanya sekali lewat.
Ia mengisahkan bagaimana ia kerap meninggalkan keluarga demi menjemput peluang kerja. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena ia tahu: kesempatan yang dilewatkan hari ini, belum tentu kembali besok.
“Kalau tidak kita ambil, orang lain yang ambil,” katanya.
Berpikir Tanpa Modal: Kisah Purdi Efendi Chandra
Situasi semakin hening. Badan tegak, mata melihat dan telinga menyimak baik-baik setiap kata yang dikeluarkan oleh Tyo.
Pada titik inilah, Tyo menarik benang cerita ke satu nama yang menurutnya menjadi contoh paling konkret tentang bagaimana kesuksesan tidak selalu lahir dari modal uang, tetapi dari keberanian berpikir di luar kebiasaan. Out of the box. Bahkan gila.
Ia menyebut Purdi Efendi Chandra, pemilik Lembaga Bimbingan Belajar Primagama, salah satu bimbel terbesar yang pernah ada di Indonesia
Bagi Tyo, kisah Purdi bukan sekadar cerita sukses bisnis pendidikan, melainkan pelajaran tentang keberanian mengambil risiko ketika hampir tidak memiliki apa-apa.
Purdi, kala itu, tidak memulai dengan tumpukan dana. Purdi bahkan menyewa ruang hotel untuk sebuah acara pelatihan dengan uang muka yang nyaris simbolis. Hanya Rp100.000 dari total biaya Rp10.000.000.
“Sisanya akan dibayar setelah acara selesai,” kira-kira begitu skemanya kata Tyo menceritakan yang dilakukan Purdi.
Tentu itu lebih dari berani. Bahkan gila. Biaya sewa ruangan belum lunas, konsumsi belum terbayar, bahkan kursi yang digunakan bukan kursi hotel, melainkan kursi plastik sewaan. Krusialnya lagi, belum ada kepastian bahwa peserta akan ramai.
Semua kebutuhan acara mulai dari ruangan, kursi, hingga konsumsi dibayar dengan satu keyakinan: acara itu harus berjalan dulu, urusan pembayaran menyusul setelahnya.
Bagi banyak orang, pola pikir seperti itu terdengar nekat, bahkan gila. Namun bagi Tyo, di situlah letak keberanian berpikir seorang pengusaha.
Purdi tidak menunggu modal datang. Ia menciptakan momentum agar modal itu mengikuti. Ia tidak bertanya, “Saya punya uang berapa?”
Ia justru bertanya, “Apa yang bisa saya kerjakan dengan apa yang saya punya hari ini?”
Bagi Tyo, inilah inti dari kerja keras yang sering disalahpahami. Kerja keras bukan sekadar bekerja lebih lama, tetapi berani mengambil keputusan saat risiko masih besar dan kepastian belum ada.
“Modal utama itu bukan uang, modal itu kemauan, kecerdasan membaca peluang, dan keberanian menanggung risikonya,”urainya.
Kisah Purdi itu, menurutnya, relevan bagi siapa pun termasuk wartawan yang sering terjebak menunggu fasilitas, menunggu dukungan, atau menunggu kondisi ideal sebelum bergerak.
Filosofi Tionghoa: Etos Kerja yang Tak Pernah Menunggu Terang
Suasana diskusi semakin hanyut, kala Tyo menyelipkan filosofi yang jarang dibicarakan, tetapi justru paling jujur menggambarkan makna kerja keras. Filosofi yang ia pelajari dari etos kerja masyarakat Tionghoa.
“Kalau bekerja jangan kena matahari,” katanya.
Bukan berarti larangan bekerja di siang hari atau sungguh tak boleh terkena cahaya matahari, melainkan ajaran tentang waktu. Berangkat sebelum mentari terbit, pulang setelah cahaya meredup. Bekerja saat orang lain masih tidur, dan berhenti ketika sebagian besar sudah kembali ke rumah.
Dalam logika ini, peluh (keringat) memang harus bekerja lebih dulu sebelum cahaya hadir. Tyo menceritakan perjuangan awalnya untuk berjualan koran disaat sang mentari belum nampak dari ufuk timur.
Etos itulah yang, menurut Tyo, membuat banyak orang bertahan bukan karena keberuntungan, tetapi karena disiplin yang tak terlihat.
Menjelang akhir, Nidya menutup dengan metafora yang sederhana namun tajam.
Rusa dan harimau.
Jika keduanya bangun di waktu yang sama, rusa mati. Jika rusa lebih cepat beradaptasi dengan bangun diwaktu awal, harimau yang berpotensi besar mati kelaparan.
Pesannya jelas. Rusa dan harimau, kata Tyo, bukan soal siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang lebih cepat membaca perubahan.
Di dunia yang bergerak cepat, yang bangun lebih awal bukan hanya lebih siap, tetapi juga lebih hidup. Sementara yang bertahan dengan kebiasaan lama, sekuat apa pun ia hari ini, perlahan akan ditinggal zaman.
Ia menyebut Nokia, Sony, hingga berbagai merek besar yang tumbang bukan karena kurang modal, melainkan karena gagal beradaptasi.
Setelah dari Yogyakarta, Ia menempuh pendidikan magister ekonomi di Universitas Mulawarman, memperkuat fondasi akademiknya setelah bertahun-tahun bergulat di lapangan. Namun jauh sebelum gelar dan jabatan datang, Tyo sudah terbiasa memulai dari bawah.
Pria yang dulunya berjualan koran dan berlomba dengan cahaya mentari, sekarang tengah mengemban amanah sebagai Direktur Utama PT Pertambangan Bara Kaltim Sejahtera (Perseroda) untuk periode 2024–2028. Sebuah posisi yang menuntut kepemimpinan, ketegasan, sekaligus kepekaan membaca perubahan zaman.
Seluruh lintasan itu membentuk satu pola pikir yang konsisten: sukses tidak datang dari satu titik loncatan, melainkan dari keberanian bertahan, belajar, dan beradaptasi di setiap fase kehidupan.
Di ujung diskusi, Tyo menegaskan satu hal yang menjadi benang merah seluruh ceritanya: semua berawal dari kepala, cara berpikir menentukan arah hidup, pesimisme menciptakan stagnasi dan optimisme membuka jalan.
Kesuksesan, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling cepat melihat cahaya.
Ia milik mereka yang bersedia berkeringat lebih dulu bekerja ketika mentari belum hadir, dan bertahan ketika jalan masih gelap.
Peluh yang jatuh sebelum mentari terbit itulah yang kelak menentukan.
Sebab dalam hidup, seperti kata Nidya Listiyono, yang bertahan bukan selalu yang paling kuat, tetapi yang paling siap bergerak sebelum perubahan datang.
