Jakarta, infosatu.co – Seorang ibu asal Indonesia yang memiliki anak perempuan, Ita selalu meyakini bahwa setiap perempuan muda berhak mendapatkan kesempatan untuk menerima vaksin HPV, dan semakin dini, semakin baik.
“Vaksin HPV sangat penting bagi perempuan di Indonesia karena dapat melindungi kita dari kanker serviks,” ujar Ita.
Namun, bagi banyak keluarga, keterjangkauan dan ketersediaan vaksin tetap menjadi kendala yang cukup berat.
Di seluruh penjuru negara kepulauan terbesar di dunia ini, mereka yang berupaya melindungi anak perempuannya kerap menghadapi tiga kendala sekaligus, yaitu biaya yang tinggi, pasokan yang terbatas, dan distribusi yang tidak merata.
“Jika vaksin tersebut diproduksi secara lokal dan menjadi lebih terjangkau, akan lebih mudah bagi orang tua untuk mendapatkan akses dan merekomendasikannya kepada orang lain,” imbuh Ita.
Putrinya, Alena, yang menerima vaksin tersebut di sekolah, mengatakan perlindungan sejak dini sangatlah penting, yang mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pencegahan HPV di kalangan generasi muda.
Dalam wawancara terbaru dengan Xinhua, Taruna Ikrar, kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia, menyebutkan urgensi vaksinasi HPV sangat berkaitan erat dengan beban kanker di Indonesia.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia,Taruna Ikrar, dalam sebuah wawancara terbaru dengan Xinhua pada 10 April 2026, di Jakarta.
“Indonesia memiliki hampir 300 juta penduduk dan lebih dari 17.000 pulau, yang menimbulkan tantangan unik dalam mendistribusikan layanan kesehatan dan vaksin,” papar Taruna, seraya menekankan bahwa imunisasi tetap menjadi garis pertahanan terdepan, dengan vaksinasi HPV berfungsi sebagai landasan utama dalam melindungi kesehatan perempuan.
Kanker serviks tetap menjadi kekhawatiran yang mendesak di Indonesia. Untuk mengatasi hal ini, BPOM tengah mempromosikan vaksin HPV sembilan valen (nine-valent), yang memiliki tingkat efektivitas lebih dari 90 persen dalam mencegah infeksi.
“Untuk mempercepat ketersediaan vaksin, Indonesia telah memperdalam kerja sama dengan China melalui transfer teknologi dan berbagi pengetahuan praktis, serta menjalin kemitraan dengan pihak-pihak internasional lainnya,”tutur Taruna, seraya menekankan bahwa kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan bioteknologi China telah memainkan peran yang penting.
Kerja sama semacam ini memungkinkan Indonesia untuk melewati fase uji coba dan kesalahan (trial-and-error) tahap awal dan bergerak lebih cepat menuju pembangunan kapasitas manufakturnya sendiri.
Kemitraan ini juga berkembang menjadi ekosistem multitingkat yang mencakup pemerintah, industri, dan akademia, sehingga semakin memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat di Indonesia,.
Vino Soaduon, Direktur Produksi Perusahaan Biofarmasi Indonesia, mengatakan pertukaran teknologi dengan para mitra China sangat krusial untuk memajukan produksi dalam negeri.
“Dengan membangun sistem kualitas yang kokoh dan bekerja sama erat dengan para mitra. Kami memastikan vaksin tersebut memenuhi standar global,” ujar Vino.
Dia menambahkan begitu produksi lokal skala penuh tercapai, Indonesia dapat memproduksi jutaan dosis setiap tahunnya, yang akan menstabilkan pasokan sekaligus mengurangi biaya secara signifikan bagi masyarakat.
Bagi orang tua seperti Ita, peralihan ke vaksin yang diproduksi secara lokal dapat membawa perubahan besar. Harga yang lebih terjangkau berarti lebih banyak anak-anak yang dapat terlindungi, sementara peningkatan akses dan kesadaran akan membantu lebih banyak keluarga mengambil tindakan pencegahan.
“Saya akan merekomendasikan vaksin ini kepada setiap keluarga,” sebut Ita.
“Jika akses menjadi lebih mudah dan harganya turun, lebih banyak orang tua yang akan bersedia mengambil langkah tersebut demi masa depan anak-anak mereka.”tambahnya.
