Samarinda, infosatu.co – Pemerintah Kalimantan Timur (Kaltim) mendorong penguatan ketahanan pangan dari sisi hulu melalui program cetak sawah baru. Namun, target seluas 20 ribu hektare hingga kini belum sepenuhnya tercapai.
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (TPH) Kaltim, Fahmi Himawan, mengatakan penguatan sektor pangan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui intervensi di hilir seperti operasi pasar atau Gerakan Pangan Murah, tetapi juga dari sisi produksi.
“Yang dilakukan pemerintah bukan hanya di hilir, tetapi juga di hulu melalui program yang dapat meminimalkan permasalahan pangan,” ujarnya, Selasa, 17 Maret 2026 di Kantor Dinas Pangan TPH Kaltim.
Ia menjelaskan, program cetak sawah di Kaltim sempat ditargetkan mencapai 20.000 hektare. Namun, realisasinya menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan lahan yang sesuai.
Menurutnya, meski wilayah Kaltim tergolong luas, sebagian besar telah memiliki perizinan, seperti pertambangan dan hak guna usaha (HGU) perkebunan.
Selain itu, sekitar 60 persen wilayah Kaltim merupakan kawasan hutan yang tidak dapat dimanfaatkan untuk cetak sawah.
“Tidak mudah mendapatkan 20.000 hektare yang layak, baik dari sisi lokasi maupun ketersediaan petani,” katanya.
Hingga saat ini, sekitar 14.000 hektare lahan telah dialokasikan dan tengah memasuki tahap penyusunan dokumen survei, investigasi, dan desain (SID) di sejumlah kabupaten/kota.
“Sekarang masih dalam tahap perencanaan untuk memastikan kelayakan lokasi, termasuk ketersediaan air dan petaninya,” jelas Fahmi.
Ia menambahkan, untuk tahun 2026, lokasi yang diusulkan difokuskan pada daerah-daerah yang memiliki jaringan irigasi, yang tersebar di beberapa kabupaten/kota di Kaltim.
Dari sisi sumber daya manusia (SDM), Fahmi menyebut sebagian daerah telah mengusulkan kelompok tani (poktan) maupun gabungan kelompok tani (gapoktan) yang nantinya akan mengelola lahan sawah tersebut.
Meski demikian, di beberapa wilayah irigasi masih belum sepenuhnya tersedia petani lokal. Untuk itu, pemerintah akan menggandeng berbagai pihak guna mendukung keberlanjutan program.
“Kita optimis karena bisa berkolaborasi dengan banyak pihak, seperti fakultas pertanian, Pemuda Tani Indonesia, Kontak Tani Nelayan Andalan. (KTNA), dan organisasi lainnya,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat melalui pembentukan brigade pangan yang melibatkan petani muda. Sebelumnya, Kaltim telah membentuk sekitar 70 brigade pangan pada program optimalisasi lahan tahun 2025 seluas 13.900 hektare.
“Ke depan juga akan dibentuk brigade pangan baru yang melibatkan petani milenial. Setiap brigade terdiri dari sekitar 15 orang,” tambahnya.
Ia menegaskan, keberhasilan program cetak sawah tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan, tetapi juga kolaborasi berbagai pihak agar lahan yang dibuka dapat dikelola secara berkelanjutan.
