Samarinda, infosatu.co – Kenaikan harga plastik yang melonjak tajam di pasaran, dipicu konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang mendorong naiknya harga minyak dunia sebagai bahan baku utama.
Dampak kenaikan ini mulai dirasakan pelaku usaha, terutama sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang masih bergantung pada kemasan plastik untuk layanan bungkus dan take away.
Kondisi ini berpotensi menambah biaya produksi dan berujung pada kenaikan harga jual.
Di lapangan, harga plastik berbahan PE dan PP tercatat mengalami kenaikan. Plastik kresek, naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak, sementara jenis lainnya dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per pak.
Plastik jenis PE (polyethylene) dan PP (polypropylene) adalah jenis plastik yang umum digunakan.
PE bersifat lentur dan tahan air, sehingga banyak dipakai untuk kantong kresek dan kemasan. Sementara PP lebih kuat, kaku, dan tahan panas, biasanya dipakai untuk wadah makanan dan tutup botol.
Asisten II (Perekonomian dan Pembangunan) Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) Marnabas Patiroy, menyebut pihaknya masih melakukan pendalaman.
“Ini masih kita investigasi kenapa. Tapi plastik itu bukan kebutuhan mendesak, dia kebutuhan yang mengikuti. Kalau belanja tanpa plastik juga sebenarnya bisa,” ujarnya, Rabu, 8 April 2026.
Ia menjelaskan, berbeda dengan komoditas pangan seperti cabai atau bawang yang langsung memicu gejolak di masyarakat, kenaikan harga plastik saat ini lebih terasa di kalangan pedagang.
“Katanya bisa sampai tiga kali lipat kenaikannya, ini yang sedang kita cari kenapa dan mengapa. Nanti setelah kita temukan, baru kita ambil langkah,” tegasnya.
Meski belum berdampak luas ke konsumen, Marnabas mengakui kondisi ini tetap perlu diantisipasi karena berpotensi memberi efek berantai terhadap aktivitas ekonomi.
Sebagai langkah awal, pemerintah mulai mendorong pengurangan ketergantungan terhadap plastik sekali pakai, sekaligus membuka ruang penggunaan bahan alternatif.
“Plastik itu sebenarnya bisa didaur ulang. Jadi kita lihat juga alternatifnya,” katanya.
Ia juga menyarankan pelaku usaha mulai beradaptasi dengan pilihan kemasan lain yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Kalau saran saya, pakai alternatif. Nasi bungkus tidak harus selalu pakai boks, masih banyak pilihan lain,” ucapnya.
Ke depan, Pemkot berencana melibatkan dinas terkait untuk menelusuri rantai distribusi serta faktor pemicu kenaikan harga plastik secara lebih menyeluruh. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah lanjutan.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam penggunaan plastik.
Selain merespons kenaikan harga, upaya ini dinilai penting untuk mengurangi timbulan sampah plastik di Kota Samarinda.
