Samarinda, infosatu.co – Di balik deretan rumah di Tanjung Redeb, Berau, aroma manis butter dan adonan cake kerap menyelinap keluar dari dapur kecil milik seorang mahasiswi muda bernama Dahlijah Berek Boliy.
Perempuan kelahiran Tarakan, 2 Desember 2006 itu tidak hanya membangun impian lewat bangku kuliah, tetapi juga merintis bisnis kue rumahan yang ia beri nama @sweetcake.ncs.

Bisnis rumahan itu baru berjalan satu tahun. Namun di usia yang baru menginjak 19 tahun, Dahlijah memikul dua tanggung jawab besar sekaligus: menjadi pengusaha kecil dan mahasiswa Teknik Sipil.
Beban itu sempat membuatnya ragu apakah pendidikan tinggi masih mungkin ia capai.
“Saya dulu tidak melanjutkan kuliah karena tahu biaya UKT cukup berat,” ujarnya, Rabu, 26 November 2025, seraya mengenang masa-masa ketika ia hanya bisa menyimpan mimpi.
Semua berubah ketika ia mendengar tentang Gratispol Pendidikan Kaltim, program bantuan biaya kuliah dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang disosialisasikan saat momentum pemilihan gubernur.
Informasi sederhana itu membuka pintu yang selama ini tertutup rapat.
“Kalau Tidak Ada Gratispol, Mungkin Saya Tidak Kuliah Sekarang”
Saat dinyatakan lolos sebagai penerima Gratispol, Dahlijah merasa seperti mendapat kehidupan baru.
Uang kuliah tunggal (UKT) sebesar Rp5 juta per semester, termasuk biaya UTS dan UAS, kini tidak lagi menjadi beban keluarga maupun usahanya.
“Saya memutuskan daftar karena ingin menjamin biaya pendidikan. Kalau tidak ada Gratispol, saya tidak akan kuliah sekarang,” ungkapnya jujur.
Keputusan itu bukan hal kecil. Di satu sisi ia tengah merintis usaha. Di sisi lain, ia ingin mengejar gelar sarjana Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Berau, Fakultas Teknik dan Konservasi. Gratispol membuat dua jalur hidup itu akhirnya bisa berjalan bersamaan.
“Sebagai owner @sweetcake.ncs yang baru berjalan satu tahun, program ini sangat membantu saya untuk tetap berpendidikan,” katanya.
Kini setiap pagi ia membagi waktu: mengantar pesanan kue sebelum kuliah, mengerjakan laporan struktur sambil menyiapkan adonan, lalu menutup hari dengan belajar di meja kecil dekat jendela. Semua ia jalani tanpa kecemasan biaya.
Teknik Sipil: Jalan Berkarya untuk Kaltim
Dahlijah memilih Teknik Sipil bukan sekadar soal minat. Ia melihat masih banyak infrastruktur di Kalimantan Timur yang perlu dibenahi, terutama jalan dan fasilitas umum. Ia ingin menjadi bagian dari pembangunan itu.
“Saya ingin lanjut sampai akhir. Suatu saat, saya ingin berkontribusi dalam pembangunan Kaltim,” tegasnya.
Baginya, pendidikan adalah pijakan untuk masa depan. Dan Gratispol memberi pijakan itu.
Gratispol, menurut Dahlijah, telah menyentuh banyak anak muda Kaltim. Tetapi ia berharap program ini tidak hanya berhenti pada pembiayaan.
“Program ini sangat membantu. Harapan saya, Gratispol tetap berjalan dan lancar, karena banyak yang tidak kuliah karena terhalang ekonomi,” tuturnya.
Ia juga berharap pemerintah memperhatikan ketepatan sasaran. Banyak mahasiswa yang menerima bantuan tetapi tidak memanfaatkan kesempatan itu secara maksimal.
“Harapan saya, Gratispol bisa menilai mahasiswa yang benar-benar berniat kuliah. Karena masih banyak yang lebih pantas mendapatkan beasiswa untuk mencari ilmu dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Pendidikan Kaltim: Tantangan 3T dan Akses Informasi
Menurut Dahlijah, kualitas pendidikan di Kaltim cukup maju, tetapi masih menghadapi tantangan berat di daerah 3T atau tertinggal, terluar dan terpencil.
“Kaltim ini luas, dan masih banyak daerah 3T yang butuh bantuan. Bukan hanya dana kuliah, tapi informasi dan pendampingan,” ungkapnya.
Ketersediaan program studi, akreditasi kampus, serta kemudahan akses kuliah juga perlu ditingkatkan agar lebih banyak anak muda bisa menyelesaikan pendidikan mereka.
“Yang penting jangan mempersulit mahasiswa. Kalau prodi dan fasilitas diperbanyak, makin banyak yang bisa kuliah,” tambahnya.
Dalam usianya yang masih muda, Dahlijah sudah membuktikan bahwa mimpi bisa dijalani lebih dari satu.
Di tangan kanannya, ia menggenggam mixer untuk melanjutkan bisnis yang ia bangun dari nol. Di tangan kirinya, ia membawa buku-buku Teknik Sipil yang menjadi jalan menuju profesi insinyur.
Dua dunia itu kini berjalan berdampingan, ditopang oleh satu program yang membuka kesempatan baru bagi anak-anak Kaltim.
“Gratispol membuat saya bisa kuliah sambil tetap melanjutkan usaha. Saya sangat bersyukur,” tutupnya dengan senyum hangat. (Adv Diskominfo Kaltim)
Editor: Nur Alim
Beta feature
