infosatu.co
POLITIK

Gencatan Senjata AS-Iran Antara Jeda Taktis dan Kesadaran yang Terunda

Masykur Sarmian (foto _Ist)

Oleh: Masykur Sarmian-Ketum Fokal IMM Kaltim

Samarinda – Dunia hari ini seolah berdiri di sebuah garis tipis, bukan benar-benar damai, tetapi juga belum sepenuhnya terjerumus ke dalam perang terbuka. Gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran hadir di saat yang nyaris terlambat, bahkan disebut-sebut hanya sesaat sebelum eskalasi besar benar-benar terjadi.

Seolah ada tangan yang menahan pelatuk di detik terakhir. Namun pertanyaannya tetap menggantung, apakah ini pertanda kesadaran atau sekadar jeda untuk menyusun langkah berikutnya ?.

Jika dilihat dengan jernih, gencatan ini tidak memiliki karakter damai yang utuh. Ia terlalu singkat, terlalu bersyarat, dan terlalu sarat kepentingan untuk disebut sebagai resolusi.

Dalam kerangka konflik modern, kondisi seperti ini lebih tepat disebut sebagai tactical pause, sebuah jeda strategis yang memungkinkan kedua pihak menurunkan tensi tanpa kehilangan posisi tawar.

Sejarah mencatat, banyak konflik besar tidak berhenti dalam jeda seperti ini, melainkan justru bertransformasi, mencari bentuk baru yang lebih kompleks dan sering kali lebih berbahaya.

Namun di balik itu semua, ada dinamika psikologis yang menarik untuk dibaca. Dalam psikologi perang, terdapat dorongan yang disebut escalation dominance, keinginan untuk menunjukkan kekuatan secara maksimal agar lawan tunduk sebelum konflik membesar.

Retorika keras, ancaman terbuka, dan ultimatum adalah bagian dari permainan ini. Akan tetapi, dorongan ini tidak berdiri sendiri. Ia sering kali berbenturan dengan kesadaran lain yang lebih sunyi namun lebih menentukan, yaitu risk realization, kesadaran bahwa setiap langkah maju dalam konflik membawa konsekuensi yang mungkin tidak bisa dikendalikan.

Dan tampaknya, dunia telah sampai pada titik itu. Selat Hormuz, yang menjadi pusat ketegangan, bukan sekadar jalur air biasa. Ia adalah nadi energi global, tempat di mana sebagian besar aliran minyak dunia melintas.

Satu percikan konflik di sana bukan hanya persoalan dua negara, tetapi bisa menjadi guncangan ekonomi global yang meluas ke setiap sudut kehidupan manusia. Reaksi pasar yang cepat, harga minyak yang bergejolak, saham yang bergerak liar, menjadi sinyal bahwa dunia tidak siap menghadapi konsekuensi dari konflik ini.

“Di sinilah terjadi apa yang disebut sebagai strategic de-escalation, penurunan tensi bukan karena salah satu pihak melemah, tetapi karena keduanya mulai menyadari bahwa biaya konflik terlalu besar untuk ditanggung,”ungkap Pemerhati Geopolitik, Masykur Sarmian.

Namun kesadaran ini tidak serta-merta melahirkan kepercayaan. Dalam dunia negosiasi modern, kondisi seperti ini sering disebut sebagai coercive diplomacy, diplomasi yang dibungkus tekanan. Ancaman tetap ada, kekuatan tetap disiapkan, tetapi pintu dialog dibuka sebagai jalan keluar yang lebih rasional.

“Ini bukan damai yang lahir dari saling percaya, melainkan damai yang lahir dari saling menyadari keterbatasan. Kedua pihak tetap berdiri dengan kepentingannya masing-masing, menjaga posisi, mengukur langkah, dan menunggu siapa yang akan bergerak lebih dulu,”terangnya.

Di titik ini, konflik tidak lagi sekadar soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia berubah menjadi cermin dari bagaimana kekuasaan bekerja. Ada tarik-menarik antara ego dan kesadaran, antara dorongan untuk mendominasi dan kebutuhan untuk menjaga stabilitas.

Dalam filsafat politik, momen seperti ini sering disebut sebagai threshold moment, saat di mana kekuasaan berhadapan dengan batasnya sendiri. Ia bisa memilih melampaui batas itu dan masuk ke dalam kehancuran, atau berhenti sejenak dan mencari jalan lain.

Maka jika ditanya, apakah gencatan senjata ini serius atau sekadar strategi, jawaban yang paling jujur adalah keduanya berjalan bersamaan. Ia serius karena ada tekanan nyata ekonomi global, diplomasi internasional, dan risiko konflik yang tak terkendali.

Namun ia juga strategis, karena waktu yang diberikan terlalu singkat untuk membangun kepercayaan yang sejati. Ini bukan akhir, melainkan fase-fase di mana konflik berhenti sejenak untuk berpikir, atau mungkin… untuk bersiap.

Di balik semua itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian kemanusiaan. Di luar ruang-ruang negosiasi dan kalkulasi geopolitik, ada jutaan manusia yang hidupnya bergantung pada stabilitas yang rapuh ini.

Mereka tidak peduli siapa yang menang atau kalah. Mereka hanya ingin hidup berjalan seperti biasa anak-anak bisa sekolah, harga kebutuhan tidak melonjak, dan langit tidak dipenuhi suara ledakan. Bagi mereka, dua pekan ini bukan sekadar jeda politik, tetapi ruang bernapas.

Dan mungkin di situlah letak makna terdalam dari momen ini. Bahwa di tengah dunia yang penuh kepentingan dan kekuatan, selalu ada kesempatan sekecil apa pun, untuk memilih jalan yang lebih bijak. Dua pekan bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk menentukan arah.

“Apakah dunia akan melangkah menuju ketenangan, atau justru kembali mendekati jurang yang sama,”ujar mantan senator Karang Paci itu.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang memiliki kekuatan terbesar, tetapi siapa yang mampu menahan diri ketika memiliki kekuatan itu.

“Dalam dunia yang semakin saling terhubung ini, keputusan untuk menahan diri mungkin adalah bentuk keberanian yang paling langkadan paling dibutuhkan,”tutupnya.

Related posts

Bawaslu Kota Pasuruan Edukasi Langsung Warga Melalui Digital Menjadi Penjaga Demokrasi

Zainal Abidin

NasDem Siapkan Figur Baru Bidik Pimpinan DPRD Kaltim di 2029

Firda

Serap Aspirasi, Muhammad Munif Siap Kawal Program Prioritas untuk Warga Pasuruan

Zainal Abidin

You cannot copy content of this page