infosatu.co
Advetorial

Gasing Kukar ke Pasar Eropa

Kabid pemberdayaan usaha mikro (diskopUKM) Kukar Dianto Raharjo bersama Pengrajin Gasing Kutai Dhany di diskopUKM Kukar Selasa (24/11/2020). (foto: Alawi)

Kukar, infosatu.co – Pemilik Kerajinan Gasing Kutai Dhany mempertahankan permainan tradisional yang nyaris punah. Sejak 2012 lalu ia mencoba membuat gasing sendiri, kemudian memasarkanya ke penjuru nusantara. Bahkan beberapa produk gasingnya dipasarkan ke Inggris dan Malaysia.

Produk Gasing Dhany saat di beli Wisatwan.

“Gasing ini tak sekadar permainan, tapi juga olahraga ketangkasan. Cara bermainya harus tenang, jadi melatih ketenangan juga mas,” kata Dhany saat ditemui di Kantor Dinas Koperasi (Diskop) dan UKM Kukar, Selasa (24/11/2020).

Menurut Dhany permainan tradisional ini ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lampau. Dirinya akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar untuk melakukan penelitian gasing ini.

“Gasing ini memiliki nilai historis, ke depan kami akan bekerjasama dengan pemerintah untuk mengadakan penelitian tentang gasing ini. Kapan, kenapa bentuknya seperti ini, supaya nilai sejarahnya tetap terjaga,” ujar Dhany.

Begasing merupakan permainan yang dilakukan menggunakan alat berupa gasing dan tali penarik. Gasing merupakan sebongkah kayu berbentuk lonjong (simetris radial) dengan diameter sekitar 10-15 centimeter. Tinggi sebuah gasing adalah sekitar 15-20 centimeter dengan salah satu ujung dibuat lancip dan memiliki permukaan yang licin. Pada ujungnya, dipasang bahan logam sebagai poros putaran. Biasanya menggunakan paku. Jenis kayu yang biasa digunakan antara lain kayu benggaris dan ulin.

Kerajinan Gasing Kukar milik Dhany

Sementara, tali penarik yang digunakan berdiameter sekitar 0,5 centimeter dengan panjang 1-1,5 meter. Tali ini dililitkan ke gasing dengan bagian ujung tali dikaitkan ke jari kelingking sang pemain.

Gasing kemudian dilemparkan ke bawah seperti membanting sesuatu sehingga tali yang melilitnya membuat gasing tersebut berputar. Sebuah gasing dapat berputar sekitar 2-5 menit. Tali ini bisa terbuat dari kulit kayu jomok, rafia, nilon PE, dan tali tambang.

Menurut Dhany proses pembuatannya cukup singkat hanya berlangsung 10 menit jika menggunakan mesin bubut. Menurutnya, sehari bisa menghasilkan 50 gasing.

“Namun kalau ada pesanan banyak bisa sampai 70 sehari, kami dibantu lima orang pegawai,” ungkap Dhani.

Harga satu buah gasing dijual mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta.

“Saat ini kami masih membuat enam jenis gasing. Seperti pelele, pendada, buong, perangat, bengor dan tungkul,” tutur Dhany.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Diskop dan UKM Kukar Dianto Raharjo mengatakan dirinya akan terus mengembangkan potensi lokal asli Kukar.

“Kami akan mengeksplor lagi potensi endemik, kekayaan lokal seperti ini, selain mengandung nilai sejarah juga mengandung nilai ekonomis,” ungkap Dianto saat dikunjungi infosatu.co di ruang kerjanya Selasa (24/11/2020).

Menurut Dianto, ke depan akan terus melakukan pendampingan kepada usaha mikro dengan potensi bahan dasar lokal. Dirinya akan membantu Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) ke Menkumham.

“Kami akan lakukan pembinaan, pendampingan seperti legalitasnya. kemudian pengemasan dan pemasarannya,” kata Dianto.(editor: irfan)

Related posts

Ely Hartati Keluhkan Bankeu Untuk Kukar Sangat Kecil

Martinus

Kukar Siap Jaga Eksistensi Hutan di Luar Kawasan

Martinus

Inflasi di Kukar Sentuh Angka 5,81 Persen, Pemkab Kukar Percepat Proses Penyaluran BTT

Martinus

You cannot copy content of this page