Samarinda, infosatu.co – Disrupsi digital, ketidakstabilan ekonomi daerah, hingga kebijakan efisiensi anggaran oleh pemerintah pusat menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan media lokal khususnya daerah.
Dalam kondisi tersebut, jurnalis dituntut tidak sekadar bertahan, tetapi berani bertransformasi agar tetap relevan untuk dibaca publik.

Hal itu disampaikan Kontributor CNN Indonesia dan Trans7 Wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) Suriyatman di kegiatan Retreat Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kaltim di Coconut Beach, Samboja.
Ia menilai bahwa sebagian besar media lokal saat ini berada dalam situasi genting akibat ketergantungan pada berita rilis humas (siaran pers) dan iklan pemerintah.
“Coba lihat media-media di Kaltim hari ini. Ada tidak yang benar-benar hidup dari iklan sendiri? Hampir tidak ada. Kalau tidak ada iklan pemerintah daerah, mungkin banyak media tutup,” ujarnya, Rabu, 21 Januari 2026.
Menurutnya, ketergantungan tersebut berdampak langsung pada kualitas pemberitaan.
Di mana membuat banyak media hanya menunggu hasil rilis resmi tanpa upaya penggalian isu lebih dalam, sehingga konten yang disajikan cenderung seragam dan kehilangan daya tarik.
“Berita hari ini sama semua. Karena sumbernya satu, humas. Fungsi wartawan akhirnya habis,” katanya.
Maka demikian, Suri menekankan bahwa perubahan harus dimulai dari cara pandang jurnalis terhadap liputan.
Ia menilai, ide berita sejatinya sangat dekat dengan lingkungan sekitar, namun sering diabaikan karena dianggap biasa.
“Kalau kita lihat ada tempat yang bagus, potensi wisata, atau persoalan masyarakat, kenapa tidak kita angkat? Ketika itu dibaca, masyarakat terbantu, pemilik usaha terbantu, dan media juga terbantu,” terangnya.
Ia mencontohkan liputan wisata Danau Biru di Kutai Kartanegara yang pernah diangkatnya.
Meski sempat dipertanyakan karena warna air danau terlihat hijau, liputan tersebut justru memantik rasa ingin tahu publik dan meningkatkan kunjungan wisata.
“Tujuan kita supaya tempat itu dikenal. Kalau dikenal, ekonomi masyarakat bergerak. Sekarang masyarakat menjaganya karena takut rusak. Itu fungsi media,” jelasnya.
Menurut Suri, media tidak cukup hanya menyajikan straight news, melainkan dengan peristiwa yang sama tersebut dapat ditulis dengan sudut pandang berbeda melalui pendalaman dan detail narasi.
“Kalau semua hanya menulis kebakaran, pabrik narkoba, atau kejadian kriminal dengan pola yang sama, pembaca bosan. Kita harus bawa pembaca seolah ada di lokasi,” katanya.
Ia kembali mengambil gambaran saat liputan penggerebekan narkoba yang tidak hanya mencatat penangkapan, tetapi juga bisa menggambarkan suasana tempat kejadian, reaksi warga, hingga proses aparat di lapangan.
“Bukan lebay. Itu storytelling. Itu yang membedakan,” tegasnya.
Pendalaman berita juga berarti berkelanjutan. Tidak berhenti pada satu berita, tetapi dikembangkan ke sisi lain, seperti dampak sosial, ekonomi, atau lingkungan.
Di era digital ini, Suri mengingatkan agar jurnalis untuk tidak merasa terancam. Melainkan memanfaatkan keberadaan media sosial yang dapat menjadi sumber awal informasi yang kemudian diverifikasi oleh wartawan yang merupakan kekuatan tersendiri.
“Mereka cepat, tapi kita unggul di verifikasi. Itu kekuatan kita,” katanya.
Menurutnya, publik tetap membutuhkan media arus utama untuk memastikan kebenaran informasi, menghadirkan narasumber berkompeten, dan menjaga etika jurnalistik.
“Kalau kita punya data, punya narasumber langsung, jangan takut. Itu hak kita sebagai jurnalis,” ujarnya.
Selain kemampuan teknis, Suri menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan narasumber dan terus mengasah naluri jurnalistik. Setiap peristiwa memiliki beragam sisi yang bisa diangkat menjadi berita.
“Jangan hanya lihat yang putihnya. Ada hitam, ada kuning. Itu yang kita dalami. Korbannya, dampaknya, ceritanya,” katanya.
Ia meyakini, selama jurnalis berani berubah, menggali lebih dalam, dan menghadirkan sudut pandang berbeda, media akan tetap dibutuhkan pembaca.
“Jangan takut berita tidak dibaca. Justru kalau kita sama saja, media pasti mati. Perubahan itu kunci,” tutupnya.
