infosatu.co
Samarinda

Desain Busana Sarah Maulida, Menyusuri Dunia Fashion dari Bangku Sekolah

Teks: Desain Busana Sarah Maulida, Menyusuri Dunia Fashion dari Bangku Sekolah

Samarinda, infosatu.co – Ketertarikan pada dunia fashion sering kali berawal dari hal sederhana: melihat warna, potongan, dan bentuk busana yang terasa berbeda.

Namun, bagi sebagian pelajar, rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi mimpi.

Itulah yang dirasakan sejumlah peserta Bincang-Bincang Ekonomi Kreatif subsektor fashion yang difasilitasi Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 12 Desember 2025 tersebut menjadi ruang pertemuan antara pengalaman, pengetahuan, dan mimpi-mimpi muda.

Dalam suasana diskusi yang cair, peserta diajak memahami bahwa dunia fashion bukan sekadar soal tampil cantik, tetapi juga tentang proses panjang, konsep, dan cerita di balik setiap karya.

Pada kesempatan itu, Disporapar Samarinda menghadirkan pelaku ekonomi kreatif bidang fashion, Musrifah, yang akrab disapa Bunda Gilfa, pemilik brand Gilfantee.

Melalui materinya, Musrifah mengajak peserta menyelami dasar-dasar perancangan busana, mulai dari ilustrasi hingga pembuatan moodboard sebagai fondasi penting sebelum sebuah desain diwujudkan.

Materi tersebut menjadi pembuka cara pandang baru bagi peserta. Bukan hanya tentang teknik, tetapi juga tentang keberanian menuangkan ide dan kesabaran menjalani proses kreatif.

Dampak itu dirasakan langsung oleh Sarah Maulida, siswi kelas XI G jurusan Bahasa MAN 1 Samarinda yang juga mengambil keterampilan tata busana di sekolahnya.

Dalam wawancara yang dilakukan pada Minggu, 14 Desember 2025, melalui WhatsApp, Sarah mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam kelas fashion berawal dari rasa penasaran.

Ia menyukai desain busana dengan warna dan potongan unik, namun belum pernah benar-benar memahami proses di baliknya.

“Saya suka lihat desain baju yang unik, jadi ingin tahu bagaimana proses pembuatannya. Selain itu, saya juga ingin menambah pengalaman baru dan keluar dari zona nyaman,” tuturnya.

Dari kegiatan tersebut, Sarah mulai memahami bahwa desain busana tidak berhenti pada soal estetika. Di balik sebuah busana, ada konsep, cerita, dan tahapan kreatif yang harus dilalui.

Kesadaran itu membuatnya lebih berani mengekspresikan ide dan belajar menerima proses, meski hasilnya belum selalu sempurna.

“Saya jadi lebih paham kalau desain baju itu bukan cuma soal cantik, tapi ada konsep dan prosesnya. Saya juga jadi lebih berani menuangkan ide sendiri dan belajar menghargai proses kreatif meskipun hasilnya belum sempurna,” ujarnya.

Pengalaman tersebut perlahan menumbuhkan ketertarikan yang lebih serius. Bagi Sarah, fashion kini bukan sekadar soal penampilan, tetapi juga media untuk menyampaikan identitas dan pesan.

“Dunia fashion itu ternyata luas dan seru. Bukan cuma soal tampil keren, tapi juga soal identitas, kreativitas, dan cara menyampaikan pesan lewat busana,” katanya.

Dari ketertarikan itu, tumbuh pula cita-cita. Sarah membayangkan dirinya suatu hari menjadi desainer yang fokus pada busana pesta atau gaun dengan konsep kuat dan cerita di balik setiap rancangan.

“Saya ingin membuat baju yang bukan cuma dipakai, tapi juga bisa dirasakan maknanya,” tegasnya.

Namun, jalan kreatif tidak selalu mulus. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah menerjemahkan ide yang memenuhi pikirannya ke dalam bentuk visual seperti desain atau moodboard.

Rasa ragu dan takut hasil tidak sesuai ekspektasi kerap muncul. Meski begitu, dari proses itulah ia belajar bersabar dan percaya pada perjalanan.

“Kadang idenya banyak di kepala, tapi bingung mulai dari mana atau takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Dari situ saya belajar untuk lebih sabar dan percaya pada proses,” jelasnya.

Sarah berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda satu kali.

Ia menilai, jika pemerintah rutin mengadakan kelas fashion, porsi praktik perlu diperbanyak agar peserta benar-benar merasakan dunia yang ingin mereka tekuni.

Workshop langsung, pendampingan pelaku industri, hingga ruang pamer karya dinilai penting agar mimpi tidak berhenti di ruang diskusi.

“Jadi nantinya peserta benar-benar merasakan prosesnya, bukan hanya mendengar penjelasan,” pungkas Sarah.

Related posts

Isran Noor Nilai Organisasi Adat Penting untuk Jaga Martabat Kalimantan

Andika

Kereta Hantu Pertama Hadir di Samarinda, Pelajar Akui Seram dan Menantang

Firda

Buka Tutup Jembatan, Polisi Simulasikan Rekayasa Lalu Lintas Malam Hari

Andika

Leave a Comment

You cannot copy content of this page