infosatu.co
PENDIDIKAN

Dari Kerja Keras Menuju Sukses, Pesan Hidup Nidya Listiyono kepada Jurnalis MSI

Teks: Nidya Lsitiyono, Ketua Dewan Pakar JMSI Kaltim Saat Ngobrol Inspirasi Bersama Jurnalis MSI

Samarinda, infosatu.co – Bagi Nidya Listiyono, Ketua Dewan Pakar JMSI Kalimantan Timur, kesuksesan selalu berangkat dari satu hal, perjuangan yang tidak pernah berhenti. Itulah pesan utama yang ia tekankan kepada para jurnalis MSI Group, sambil menuturkan kisah perjalanan hidupnya penuh kerja keras sejak masa sekolah hingga meniti karier dari posisi paling dasar.

Teks; : Ketua Dewan pakar JMSI Kaltim Nidya Listiyono Bersama Wartawan MSI Group

Dengan gaya penyampaian yang tenang namun penuh keyakinan, ia mengajak peserta menelusuri perjalanan hidup dan nilai-nilai kerja yang membentuk prinsip kesuksesannya.

“Saya dari sekolah sudah berjualan,” ujar Listiyono membuka kisahnya, pada Jum’at 12 Desember 2025 di Kantor MSI Group.

Baginya, bekerja sejak kecil bukan sekadar mencari uang, tetapi melatih mental. Ia tumbuh dari lingkungan sederhana, dibimbing oleh figur-figur seperti Sukri (CEO JMSI) yang dulu menjadi Ketua RT di tempat tinggalnya. Dari masa kecil itulah ia belajar arti konsistensi dan ketangguhan.

Setelah menempuh pendidikan di Yogyakarta, Listiyono pulang ke Kalimantan Timur dan memulai perjuangan barunya, menjual koran disalah satu media massa, selama enam bulan. Ia mengambil koran pagi-pagi dan menjualnya ke warga di sekitar rumah. “Tidak ada yang instan,” tegasnya.

Perjalanan hidup menuntunnya masuk ke dunia keuangan, bergabung dengan BFI, dan memulai dari posisi paling dasar: marketing, hingga kolektor. Semua ia jalani tanpa mengeluh. “Sukses itu harus ‘kotor’,” katanya sambil tersenyum. “Kotor dalam arti positif: bekerja keras, berkeringat, berjuang.”

Kerja Keras dan Hukum Timbal Balik Itu Nyata

Di hadapan para jurnalis MSI Group, Listiyono menyampaikan logikanya tentang etos kerja. Ia percaya bahwa kesungguhan akan selalu menemukan jalannya.

 

Teks: Nidya Listiyono Foto Bareng Bersama Wartawan MSI Group

“Kalau digaji dua juta, bekerjalah seolah gaji anda lima juta,” katanya. Menurutnya, Tuhan tidak pernah menutup mata. Balasan sebuah kerja keras dapat muncul dalam banyak bentuk: kesehatan, peluang baru, kemudahan urusan, atau pertolongan tak terduga.

Sebaliknya, jika seseorang bekerja setengah hati, maka sisanya akan ‘ditagih’ oleh semesta. “Motor rusak, ponsel jatuh, pengeluaran tidak terduga, itu bukan kebetulan,” ujarnya.

Bagi Listiyono, hidup selalu berjalan dengan ritme sebab-akibat.

Ia juga mengingatkan bahwa di zaman yang serba cepat ini, balasan, baik maupun buruk, datang lebih cepat. “Dulu surat sampai dua minggu, sekarang beberapa detik. Begitu pula konsekuensi perbuatan,” katanya.

Membaca Peluang, Sekecil Apa Pun

Listiyono berkali-kali menegaskan bahwa sukses tidak selalu membutuhkan modal besar. Yang diperlukan adalah akal, keberanian, dan kreativitas.

Ia menceritakan sejumlah rekan nya yang dikirim ke Surabaya untuk mengikuti pelatihan, mereka diturunkan oleh bus dan ditinggal di ujung Madura tanpa uang dan telepon. Mereka harus kembali ke titik awal dengan cara apa pun.

Ada yang menjual sepatu, baju, bahkan menangis. Tetapi ada satu peserta yang pulang dengan keuntungan setelah menawarkan diri menjual alat kesehatan dengan sistem komisi.

“Bisnis itu bukan soal modal uang. Bisnis itu soal modal pikiran,” tekannya.

Listiyoni juga memaparkan pengalaman membeli rumah tanpa DP, tanpa modal, dan bahkan mendapatkan cashback. Cerita itu terdengar luar biasa, tetapi ia menjelaskan langkah-langkah negosiasi dan pemahaman situasi penjual yang membuat transaksi itu mungkin dilakukan. “Yang penting jangan membatasi diri,” ujarnya.

Integritas dan Lingkaran Pengaruh

Dalam pengalamannya sebagai kolektor, Listiyoni menyadari bahwa kekerasan bukanlah solusi. “Saya dulu berpikir harus bawa polisi atau preman. Itu salah,” katanya. Yang lebih efektif adalah lingkaran pengaruh, kredibilitas dan komunikasi yang baik.

Cukup dengan satu telepon yang disampaikan secara sopan, banyak permasalahan selesai. Itulah bukti bahwa integritas seseorang akan memengaruhi keputusan orang lain tanpa perlu tekanan.

Ia mengaitkan hal itu dengan dunia jurnalistik. Wartawan harus menjaga reputasi. Jika tulisannya sering salah, narasumber akan kehilangan kepercayaan. Namun jika ia konsisten benar, akurat, dan etis, maka lingkaran pengaruhnya akan membesar.

Peluang Harus Dikejar, Bukan Ditunggu

Dalam momen yang lebih personal, Listiyoni menceritakan bagaimana ia sering meninggalkan waktu bersama keluarga demi pekerjaan, bukan karena ia mengabaikan keluarga, tetapi karena ia tahu peluang tidak datang dua kali.

“Kadang peluang muncul saat kita sedang dalam posisi enak,” katanya. “Kalau tidak diambil, hilang. Orang lain yang ambil.”

Baginya, peluang hidup seperti lampu lalu lintas. Ada yang menyala hijau cepat, ada yang lama. Tapi kalau ragu, seseorang bisa kehilangan kesempatan.

Penutup: Jadikan Mimpi Titik Tolak, Bukan Penghibur

Mengakhiri materinya, Listiyono memberikan pesan yang menancap di benak peserta. “Sukses itu harus dikejar. Bukan ditunggu. Jangan pernah batasi diri anda. Jangan terlalu nyaman. Jangan takut kotor. Kerja keras tidak pernah mengkhianati.”

Ia mengajak jurnalis MSI Group untuk terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus membuka ruang kemungkinan. “Kalau Anda punya mimpi, jadikan mimpi itu peta jalan, bukan sekadar penghibur,” pungkasnya.

Related posts

300 Mahasiswa Mundur dari GratisPol, Rektor Unmul Tegaskan Alasan Masih Diverifikasi

Dhita Apriliani

Kajian Penguatan PAD, Akademisi Nilai Beban Fiskal Daerah Kian Berat

Dhita Apriliani

Di Tengah Disrupsi Digital, Media Lokal Dituntut Bertransformasi

Dhita Apriliani

Leave a Comment

You cannot copy content of this page