Beijing, infosatu.co- Seiring melonjaknya harga bahan bakar yang mempercepat peralihan konsumen ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV), produsen otomotif China BYD, berjanji untuk memprioritaskan inovasi teknologi dan kerja sama yang saling menguntungkan, guna memperdalam kehadiran pabrikan di pasar global.
Permintaan pasar luar negeri terhadap kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV) buatan China meningkat di tengah guncangan pasar minyak baru-baru ini, yang mencerminkan pilihan yang didorong oleh pasar serta menggarisbawahi daya tarik dan efektivitas biaya produk perusahaan, menurut BYD dalam sebuah wawancara tertulis dengan Xinhua.
Di Thailand, BYD mendapatkan dukungan dari tokoh terkemuka, yakni Perdana Menteri Thailand yang baru terpilih Anutin Charnvirakul, yang terlihat bepergian dengan EV BYD miliknya dan mengunjungi stan BYD di Bangkok International Motor Show pada 28 Maret 2026.
Penjualan EV BYD di Thailand terus tumbuh dan kuat, dengan pesanan yang meningkat secara stabil, ungkap perusahaan itu.
Pihak perusahaan mengaitkan momentum tersebut dengan kebijakan yang didukung oleh pemerintah Thailand serta kenaikan harga minyak global yang telah menyoroti keunggulan EV.
Manajer Umum BYD Thailand, Ke Yubin menyatakan pertumbuhan tersebut juga didukung oleh jajaran produk yang kompetitif dan strategi lokalisasi yang kuat yang mengombinasikan produksi lokal dengan jaringan penjualan dan layanan purnajual yang terus berkembang.
“Kami akan terus memperdalam kehadiran kami di Thailand, dengan menggunakan inovasi teknologi untuk mendorong industri otomotif menuju pembangunan hijau dan rendah karbon, serta mendukung transisi Thailand menuju masyarakat rendah karbon,” ujar Ke Yubin, Manajer Umum BYD Thailand, melalui siaran persnya yang diterima redaksi, Jumat, 3 Maret 2026.
BYD masuk ke pasar Thailand pada 2022 dan sejak saat itu bertransformasi dari mengekspor produk menjadi membangun sebuah ekosistem produksi yang sepenuhnya terlokalisasi.
Pabriknya di Rayong, yang merupakan pabrik mobil penumpang pertama perusahaan itu di luar negeri, memiliki kapasitas tahunan sebesar 150.000 unit kendaraan, dengan lebih dari 90 persen tenaga kerjanya berasal dari Thailand.
Momentum global produsen mobil tersebut tidak hanya terbatas pada kawasan Asia Tenggara. Pada 2025, perusahaan itu menjual lebih dari 1,049 juta unit kendaraan di luar negeri, sebuah peningkatan signifikan sebesar 145 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Penjualan di Inggris melampaui 50.000 unit kendaraan, naik 485 persen (yoy), sementara Jerman, Spanyol, dan Italia masing-masing mencatatkan penjualan tahunan lebih dari 20.000 unit. Australia juga membukukan kinerja yang kuat, dengan lebih dari 50.000 unit kendaraan terjual, sehingga menempatkan BYD di antara 10 merek teratas, menurut data BYD.
Perusahaan tersebut mengaitkan ekspansi pasarnya dengan kualitas produk, desain, dan operasi yang terlokalisasi, sekaligus membantah narasi yang menyebut adanya “kelebihan kapasitas” dan “dumping” terkait EV China.
“Produksi kami sejalan dengan permintaan pasar, dan harga di luar negeri umumnya lebih tinggi dibandingkan harga di dalam negeri, tanpa adanya praktik dumping harga rendah,” kata Ke Yubin.
Selain itu, pihaknya didukung oleh rantai pasokan yang terintegrasi sepenuhnya, mulai dari baterai, komponen, hingga perakitan kendaraan, produsen-produsen China telah mencapai perpaduan antara daya saing biaya dan inovasi pesat.
Kekuatan komprehensif ini menjadi semakin menonjol seiring dengan kenaikan harga bahan bakar yang mendorong konsumen untuk mempertimbangkan kembali pilihan transportasi mereka
Di negara-negara seperti Thailand dan Australia, showroom yang menjual NEV China melaporkan peningkatan yang mencolok dalam jumlah pengunjung yang datang langsung (walk-in), uji coba berkendara, dan konsumen yang akhirnya melakukan pemesanan, seiring ketegangan geopolitik yang telah menimbulkan gejolak di pasar energi global sejak Maret 2026.
Popularitas tersebut mencerminkan keselarasan yang tepat antara kualitas, performa, dan harga dengan kebutuhan konsumen setempat, sehingga memberikan EV China keunggulan yang berbeda dan sulit ditiru dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal tradisional, kata Zhou Fatao, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri NEV Guangdong (Guangdong New Energy Vehicles Industry Association).
“Industri otomotif global sedang mengalami transformasi mendalam yang berpusat pada elektrifikasi, kecerdasan, serta konektivitas, dan China berada di garis depan pergeseran ini,” tambah Zhou.
