Canberra, infosatu.co – Penjualan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Australia mencatat rekor tertinggi pada Maret 2026 di tengah kenaikan harga bahan bakar yang dipicu oleh krisis pasokan minyak.
Menurut data resmi yang dirilis pada Selasa,7 April 2026, oleh Kamar Industri Otomotif Federal (Federal Chamber of Automotive Industries/FCAI) Australia, EV baterai mencakup 14,6 persen dari seluruh penjualan kendaraan baru di Australia pada Maret, naik dari 7,5 persen pada Maret 2025.
FCAI menyatakan hal tersebut mewakili pangsa pasar bulanan tertinggi baru untuk EV di Australia.
Tony Weber, chief executive FCAI, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa semakin banyak warga Australia yang mempertimbangkan beralih ke EV imbas gangguan pasokan bahan bakar yang disebabkan konflik di Timur Tengah.
Institut Minyak Bumi Australia (Australian Institute of Petroleum/AIP) menyebutkan harga rata-rata nasional untuk bensin tanpa timbal menyentuh rekor tertinggi sebesar 2,53 dolar Australia (1 dolar Australia = Rp11.804) per liter pada pekan yang berakhir pada 29 Maret, sebelum pemerintah federal, negara bagian, dan wilayah memangkas pajak penjualan bahan bakar selama tiga bulan.
Weber mengatakan industri otomotif akan menyambut baik peralihan berkelanjutan ke EV, namun memperingatkan hal itu memerlukan peningkatan ketersediaan infrastruktur pengisian daya publik oleh pemerintah Australia.
“Memastikan infrastruktur sejalan dengan permintaan konsumen akan sangat penting untuk memungkinkan pertumbuhan berkelanjutan dalam adopsi EV di luar pengaruh jangka pendek,” katanya.
FCAI menyatakan pada Maret, China untuk pertama kalinya menjadi sumber utama kendaraan baru di Australia pada Februari, mengakhiri dominasi industri otomotif Jepang selama 28 tahun di pasar tersebut.
Data yang dirilis pada Selasa itu menunjukkan produsen mobil terkemuka asal China, yaitu BYD, GWM, dan Chery, menjual total 44.155 unit kendaraan baru di Australia selama tiga bulan pertama 2026, naik dari 26.403 unit dalam periode yang sama pada 2025.
