infosatu.co
TOKOH

Buku Aurelie Moeremans, Kisah Grooming dan Perjalanan Penyembuhan Diri

Teks: Aurelie Moeremans dan bukunya, kisah "grooming" dan perjalanan penyembuhan diri.

Samarinda, infosatu.co – Nama Aurelie Moeremans kembali ramai diperbincangkan, kali ini bukan karena karya seni peran, melainkan sebuah buku digital berjudul “Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah”.

Memoar yang dirilis secara daring tersebut viral di media sosial karena memuat kisah personal tentang masa muda Aurelie yang penuh luka, sekaligus membuka diskusi publik mengenai isu “child grooming” yang selama ini kerap luput dari perhatian.

“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming waktu berumur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku,” katanya.

“Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri,” tulis Aurelie pada unggahannya di Instagram, 3 Januari 2026.

Pengakuan tersebut menggambarkan bagaimana pengalaman yang dituliskan Aurelie dalam bukunya bermula dari relasi yang tampak wajar dan penuh perhatian.

Hubungan tersebut digambarkan tidak langsung menunjukkan tanda bahaya.

Pada awalnya, kedekatan itu hadir dalam bentuk perhatian, dukungan emosional, dan rasa aman yang justru membuatnya merasa dimengerti.

Namun seiring waktu, relasi tersebut berubah menjadi hubungan yang menekan, manipulatif, dan meninggalkan luka psikologis mendalam.

Melalui potongan-potongan kisah yang reflektif, buku tersebut menggambarkan bagaimana masa muda yang seharusnya menjadi ruang tumbuh justru dipenuhi rasa takut, kebingungan, dan kehilangan kendali atas diri sendiri.

Dari pengalaman personal itulah, isu “child grooming” menjadi benang merah yang kuat dalam buku tersebut.

Secara sederhana, “child grooming” merupakan pola pendekatan yang dilakukan orang dewasa untuk membangun kepercayaan dan ketergantungan emosional pada anak atau remaja, sebelum akhirnya mengeksploitasi mereka.

Proses ini sering kali tidak disadari korban karena dilakukan secara halus dan bertahap.

Contohnya, pelaku bisa memulai dengan bersikap sangat perhatian, sering memberi pujian, atau mengaku sebagai satu-satunya orang yang benar-benar memahami korban.

Lambat laun, pelaku membatasi hubungan korban dengan lingkungan sekitar, membuat korban merasa bersalah jika menolak, hingga menanamkan anggapan bahwa situasi tersebut adalah hal yang “normal”.

Berdasarkan keterangan resmi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), “child grooming” termasuk dalam bentuk kekerasan seksual terhadap anak yang dapat terjadi baik melalui interaksi langsung maupun di ruang digital.

Karena itu, penyebarluasan informasi mengenai berbagai bentuk kekerasan terhadap anak, termasuk grooming, dinilai perlu terus diperkuat dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Sejalan dengan upaya peningkatan kesadaran tersebut, Aurelie menegaskan.

“Aku menulis ini untuk mengambil kembali apa yang dulu dirampas, untuk mengubah sesuatu yang menyakitkan menjadi sesuatu yang mungkin bisa menyelamatkan orang lain,” katanya.

“Jika halaman-halaman buku ini mampu menghentikan satu gadis saja agar tidak melangkah ke badai yang sama, maka semuanya tidak sia-sia,” katanya.

Aurelie juga merefleksikan proses pemulihan yang ia jalani setelah melewati pengalaman panjang yang membentuk masa mudanya.

Ia menuliskan bagaimana kesadaran untuk kembali mencintai diri sendiri menjadi titik balik dalam hidupnya.

“Cinta dimulai dari dirimu, begitu aku memahaminya, segalanya mulai berubah. Aku berhenti mencoba menjadi apa yang orang lain butuhkan,” ujarnya.

“Aku berhenti mengecilkan cahayaku demi membuat orang lain nyaman, aku berhenti meminta maaf atas cara aku bertahan, dan di situlah aku mulai merasa bebas,” tulisnya.

Refleksi tersebut menandai perjalanan Aurelie dalam mengambil kembali kendali atas hidupnya, dari posisi korban menuju individu yang berdaya dan berani bersuara.

Melalui “Broken Strings”, ia tidak hanya merekam luka masa lalu, tetapi juga menegaskan pentingnya proses penyembuhan dan penerimaan diri sebagai bagian dari pemulihan.

Sebagai penutup, Aurelie merangkum perjalanan batin yang ia tuangkan dalam “Broken Strings” melalui sebuah refleksi personal.

“Ini kisahku, traumaku tapi juga kesembuhanku,” pungkas Aurelie.

Related posts

Founder Sukri Institute: Pengadaan Mobil Dinas Gubernur Kaltim Wajar Selama Tak Langgar Aturan

Andika

Satyalancana untuk Dokter Panuturi, Dua Dekade Menjaga Layanan Kesehatan Masyarakat

Firda

Menjaga Kebenaran di Era Viral, Catatan Wartawan MSI Group dari Jakarta

Andika

You cannot copy content of this page