infosatu.co
Samarinda

Bincang Ekonomi Kreatif, Musrifah (Bunda Gilfa) Beberkan Proses Kreatif hingga Filosofi Brand Gilfantee

Teks: Bincang Bincang Ekonomi Kreatif Bidang Fashion

Samarinda, infosatu.co – Upaya mendorong peningkatan kompetensi pelaku ekonomi kreatif, khususnya di bidang fashion, terus dilakukan Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda melalui kegiatan Bincang-Bincang Ekonomi Kreatif Subsektor Fashion.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Dispora pada Jumat 12 Desember 2025 ini, turut dihadiri siswa-siswi berbagai sekolah serta peserta umum belajar dan berdiskusi mengenai dunia fashion bersama salah satu pelaku Ekonomi Kreatif (Ekraf).

Dalam agenda ini, pelaku Ekraf Musrifah yang merupakan pemilik brand Gilfantee membagikan pengalaman, proses kreatif, serta pengetahuan teknis mengenai ilustration dan pembuatan moodboard sebagai salah satu fondasi penting dalam desain busana.

Musrifah mengawali pemaparannya dengan menjelaskan bahwa fashion merupakan bidang yang tidak pernah habis dibahas karena terus berkembang menjadi kebutuhan sekaligus gaya hidup.

Ia memperkenalkan diri sebagai fashion designer, dressmaker, guru Tata Busana di MAN 1 Samarinda, serta instruktur menjahit.

“Fashion itu sudah menjadi hobi saya sejak kecil, dan ini kesempatan luar biasa bagi adik-adik SMA untuk mengasah diri,” ujarnya.

Musrifah kemudian memperkenalkan brand Gilfantee yang ia dirikan sejak 2016. Brand ini terinspirasi dari keindahan tradisional Kalimantan Timur yang dikemas modern dan mewah.

“Kami menyediakan produk tradisional untuk pria dan wanita berupa baju dan tas. Harapan kami, produk Gilfantee dapat menginspirasi, memotivasi, dan memberi suasana positif bagi pemakainya,” jelasnya.

Ia mengungkapkan bahwa Gilfantee telah mengikuti berbagai pemeran di Jatim, Jateng dan Jakarta. Beragam pelatihan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan digital marketing juga pernah diikutinya sebagai upaya meningkatkan kapasitas kreatif dan menajerial

Beragam pelatihan Usaha Mikro Kecil Menangah (UMKM) dan digital marketing juga pernah diikutinya sebagai upaya meningkatkan kapasitas kreatif dan manajerial.

Dalam materi inti, Musrifah memaparkan pentingnya moodboard sebagai alat utama dalam merancang busana.

Moodboard menurutnya adalah kumpulan gambar, potongan kain, sampel warna, tekstur, dan elemen visual lain yang menggambarkan konsep desain secara utuh.

“Sebelum membuat desain, harus ada moodboard. Ini sangat penting agar desain tidak keluar jalur,” tegasnya.

Ia menjelaskan fungsi moodboard mulai dari alat inspirasi, penjaga konsep, media presentasi, referensi selama proses desain, hingga alat kolaborasi antara desainer, penata gaya, dan produsen.

Moodboard dapat dibuat manual maupun digital, misalnya menggunakan Canva.

Musrifah menunjukkan beberapa contoh moodboard yang pernah ia gunakan dalam kompetisi maupun pengembangan karya, termasuk moodboard milik putrinya sebagai perbandingan kreativitas antargenerasi.

Musrifah menjabarkan langkah-langkah pembuatan moodboard, meliputi menentukan tujuan dan tema, mengumpulkan inspirasi, memilih platform manual/digital, menyusun elemen visual, menambahkan keterangan, serta evaluasi dan koreksi.

Komposisi visual seperti simetris, asimetris, atau penataan miring juga menjadi bagian penting dari eksplorasi moodboard.

Musrifah mengatakan inspirasi dapat berasal dari mana saja, riset online seperti Pinterest dan Instagram, seni dan fotografi, museum, alam dan lingkungan, tren catwalk, budaya, film, hingga pengalaman pribadi dan kondisi emosional.

Ia mencontohkan karya yang awalnya ia anggap kurang menarik justru banyak diminati.

“Ternyata yang saya kira tidak bagus, justru banyak yang suka dan repeat order,” ungkapnya.

Menurutnya, seorang desainer boleh idealis, namun ketika konteksnya adalah bisnis, maka idealisme harus disesuaikan.

“Kalau tujuannya cuan, idealisme harus disesuaikan dengan pasar,” ujarnya.

Selain itu, Musrifah memperlihatkan karya yang ia kenakan, yang terinspirasi dari bangunan Islamic Center Samarinda.

Moodboard-nya memuat bentuk bangunan, daun kurma, palet warna, serta kain yang digunakan. Elemen itu menjadi dasar pengembangan banyak desain, bukan hanya satu atau dua busana.

“Intinya, kita harus tahu desain itu terinspirasi dari mana. Bebas, yang penting moodboard-nya jelas,” pungkasnya.

Related posts

Sukri Ajak Wartawan MSI Tingkatkan Kualitas dan Profesionalisme

Firda

Bukber MSI Group, Sukri Ajak Tim Perkuat Integritas dan Semangat Kerja

Firda

Persaingan Ketat di Pembukaan, PSA X Miftahul Jannah Belum Beruntung, Bidik Juara di Lain

Firda

You cannot copy content of this page