Bontang, infosatu.co – Tahun anggaran 2026 membawa ujian berat bagi Pemerintah Kota Bontang Kalimantan Timur (Kaltim). Target pendapatan daerah meleset cukup signifikan, sehingga tercatat defisit sekitar Rp150 miliar.
Akibatnya, beberapa program dan proyek strategis yang sudah direncanakan, harus ditunda atau bahkan dibatalkan. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyebut keputusan ini tidak mudah.
Salah satu yang paling mencolok adalah proyek pembangunan Waduk Kanaan dengan skema multiyears contract (MYC), senilai Rp267,6 miliar.
Proyek ini sebelumnya digadang-gadang menjadi solusi pengendalian banjir sekaligus pengembangan kawasan, tapi kini harus ditunda.
“Situasinya berat. Anggaran tidak cukup, dan kita tidak bisa memaksakan proyek berjalan. Risiko menunggak pembayaran kepada kontraktor terlalu besar,” ungkap Neni saat sambutan Musrenbang 2027, Selasa, 7 April 2026.
Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, menambahkan, defisit tersebut muncul karena SilPA (Sisa Lebih Penggunaan Anggaran) yang meleset dari perkiraan, ditambah belum pastinya aliran dana transfer pusat triwulan kedua.
Kondisi ini membuat pemerintah dan DPRD harus mengevaluasi ulang seluruh belanja daerah.
Tak hanya Waduk Kanaan yang terdampak. Sejumlah proyek lain juga ikut tertunda seperti pembelian mess di Jakarta, anggaran Rp8 miliar, batal dilaksanakan.
Kemudian, renovasi Kantor Wali Kota Bontang menggunakan Aluminium Composite Panel (ACP) senilai Rp5 miliar ditunda sementara, hingga pembangunan mini soccer di Berbas Pantai, proyek senilai Rp18 miliar, juga masuk daftar yang harus menunggu.
Andi Faizal menekankan, keputusan menunda proyek ini adalah langkah realistis untuk menjaga keuangan daerah tetap sehat.
Semua penyesuaian dilakukan dengan pertimbangan agar pelayanan publik tidak terganggu meskipun beberapa program harus dihentikan sementara.
“Uang terbatas, jadi efisiensi menjadi keharusan. Konstruksi proyek yang tertunda memang mengecewakan, tapi yang paling penting, pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan,” jelas Andi. (Adv)
