Samarinda, infosatu.co — Perjalanan panjang penuh proses akhirnya mengantarkan dua pelajar asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berdiri di panggung tertinggi Ajang Putra Putri Pelajar Kalimantan Timur 2026 jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

Zevanya Yiska Merlyni dari SMA Negeri 1 Kaliorang terpilih sebagai Putri Pelajar Kalimantan Timur 2026, sementara Halomoan Arka Zora dari SMA Negeri 2 Sangatta Utara meraih gelar Putra Pelajar Kalimantan Timur 2026.
Bagi keduanya, kemenangan ini bukan sekadar prestasi, melainkan awal dari tanggung jawab baru untuk memberi dampak positif bagi pelajar di Kalimantan Timur.
Zevanya mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian yang diraihnya setelah melalui proses panjang hingga malam penobatan.
“Semua ini bukan karena kuatnya saya, tetapi karena Tuhan dan dukungan orang tua serta orang-orang di sekitar saya,” tegasnya, Kamis, 29 Januari 2026.
Hal serupa juga dirasakan Halomoan Arka Zora. Ia mengaku sangat senang saat namanya diumumkan sebagai pemenang, meski sempat diliputi rasa minder melihat kualitas para finalis lain selama kompetisi berlangsung.
Namun, ia percaya setiap proses memiliki hasil terbaik.
“Saya merasa kesempatan saya kecil, tapi ternyata Tuhan memberikan kesempatan ini,” ujarnya.
Selama masa karantina, para finalis mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang padat dan menantang.
Mulai dari registrasi, pembekalan materi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, hingga kunjungan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sejumlah mitra pendukung.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang belajar sekaligus pembentukan karakter bagi seluruh peserta.
Tantangan terbesar yang dirasakan keduanya justru datang dari dalam diri.
Halomoan harus melawan rasa tidak percaya diri saat membandingkan dirinya dengan peserta lain.
Sementara Zevanya mengakui kepercayaan diri menjadi tantangan utama, mengingat dirinya sebelumnya dikenal sebagai pribadi yang cenderung introvert.
Sebagai Putri Pelajar Kalimantan Timur 2026, Zevanya telah menyiapkan program bertajuk “Pelita Kaltim” (Pelajar Inspiratif Kalimantan Timur).
Program ini bertujuan menjadi ruang pendampingan bagi pelajar, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga penguatan soft skill seperti komunikasi, manajemen waktu, dan kepercayaan diri.
Di sisi lain, Halomoan berkomitmen menjalankan advokasi sosial bagi pelajar yang menghadapi berbagai persoalan.
Ia ingin menghadirkan ruang aman dan forum diskusi bagi pelajar yang mengalami bullying, pelecehan seksual, maupun kekerasan fisik dan psikis.
“Saya ingin membuat forum agar kami bisa sama-sama mencari solusi,” tegasnya.
Dengan peran yang diemban selama satu tahun ke depan, Zevanya dan Halomoan berharap dapat memberi kontribusi nyata serta mengharumkan nama Kalimantan Timur melalui aksi dan keteladanan di kalangan pelajar.
