infosatu.co
Samarinda

Ramadan Tanpa Keluarga, Wartawan RRI Samarinda Temukan Makna Kemandirian

Teks: Temukan makna ramadan ditanah rantau (Foto-Zulfikar)

Samarinda, Infosatu.co — Ramadan tahun ini menjadi pengalaman yang jauh berbeda bagi Zulfikar. Wartawan Radio Republik Indonesia (RRI) Samarinda itu harus menjalani bulan suci pertamanya di perantauan.

Jauh dari keluarga dan rumah yang selama ini menjadi pusat kebiasaan Ramadan.

Rindu menjadi tantangan terberat. Baru pertama kali merantau dan belum genap setahun, rasa homesick kerap datang tanpa aba-aba. Apalagi, di tempat baru ia tak memiliki sanak saudara.

Silaturahmi yang biasanya hangat kini hanya bisa dilakukan melalui panggilan video.

“Banyak kenangan manis yang bikin Ramadan kali ini terasa berat,” ujarnya, Kamis 19 Februari 2026.

Perubahan paling terasa ada pada rutinitas sahur dan berbuka. Jika sebelumnya semua disiapkan oleh sang ibu, kini Zulfikar harus mengurusnya sendiri. Mulai dari memasak hingga menyiapkan hidangan berbuka.

“Yang dulu dimasakin ibu, sekarang harus lebih rajin masak sendiri. Kadang juga malas keluar beli makan,” katanya.

Kenangan Ramadan bersama keluarga masih membekas kuat terutama momen berbuka puasa. Dulu ia sering menemani ibu ke pasar sambil ngabuburit.

Sang adik biasanya ikut menitipkan permintaan menu makanan dan minuman.

Sepulang dari pasar, keluarga berkumpul dan berbuka bersama di rumah sebuah kebiasaan sederhana yang kini hanya bisa dikenang.

Di tengah kesibukan liputan, ibadah tetap menjadi prioritas. Zulfikar menegaskan salat adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan.

Jika terdapat masjid di sekitar lokasi liputan, ia memilih menunaikan salat di masjid. Ia juga bersyukur agenda liputan umumnya masih menghormati waktu ibadah.

“Semua kembali ke prioritas masing-masing,” ujarnya.

Lebih dari sekadar menahan lapar dan rindu, Ramadan juga menjadi ruang refleksi.

Zulfikar mengaku sering merasa dirinya masih jauh lebih beruntung dibanding banyak orang di luar sana yang hidup dalam kesulitan, bahkan berada di wilayah konflik dan peperangan.

“Walaupun kita tidak bisa membantu banyak, paling tidak kita bisa lebih bersyukur,” katanya.

Baginya, esensi Ramadan terletak pada istiqomah menjaga ibadah di tengah kesibukan kerja. Puasa juga mengajarkannya empati, terutama saat menjalani liputan di bawah terik matahari.

“Banyak orang lapar, kepanasan, lelah, tapi mereka tidak mengeluh,” tuturnya.

Ramadan pertama di perantauan pun menjadi pelajaran berharga bagi Zulfikar, tentang kemandirian, keteguhan, dan bagaimana menjadikan rindu sebagai bagian dari proses pendewasaan diri.

Related posts

Pasar Ramadan Bung Tomo Dipadati Warga di Hari Pertama Puasa, Takjil Laris Manis

Andika

Jemaah Puji Renovasi Masjid Raya Darussalam, Ajak Masyarakat Jaga Fasilitas

Firda

5 Ramadan Adi Riski di Perantauan, Menguat Bersama Waktu

Firda

Leave a Comment

You cannot copy content of this page