Samarinda, infosatu.co – Sebanyak 49 orang tenaga kerja menggerakkan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bhayangkari didukung dua armada distribusi.
Kedua armada tersebut untuk menjangkau tiga kelurahan, di antaranya Kelurahan Jawa, Dadi Mulya dan Teluk Lerong Ilir.
Setiap per hari kerja sebanyak 2.554 porsi makanan bergizi disiapkan sejak dini hari, melalui proses yang diawasi ketat dari persiapan bahan hingga pendistribusian.
Hal itu disampaikan Kepala SPPG Bhayangkari, Reynaldy Poppy Latief, seusai peresmian Dapur SPPG Bhayangkari Polresta Samarinda.
Ia menjelaskan, saat ini melibatkan 46 tenaga relawan. Selain itu, ada tiga orang dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan tiga orang dari Koordinator Satuan Pelayanan (KSP) BGN
“Dari BGN ada tiga orang dan KSP BGN ada tiga orang, jadi total 49 orang,” ujarnya, Jumat 13 Februari 2026.
Untuk mendukung distribusi, tersedia dua armada yang mencakup tiga kelurahan.
“Armada sejauh ini ada dua armada untuk mencakup tiga kelurahan tadi. Insyaallah, sejauh ini cukup,” katanya.
Soal jadwal pengantaran, Reynaldy menjelaskan waktunya berbeda-beda.
Untuk TK, SD, dan Posyandu, makanan diantar pada pagi hari.
“Kalau rata-rata untuk TK, SD, dan Posyandu itu pagi, pukul 08.00 sampai 09.00. Kecuali untuk SMK, SMK 1 itu pukul 12.00. Itu yang terakhir,” jelasnya.
Proses pengecekan gizi sudah dimulai sejak tahap persiapan. Bahkan, kegiatan pembersihan bahan berlangsung hingga dini hari.
“Proses pengecekan gizi dimulai saat persiapan. Dari persiapan itu kami mulai pukul 06.00 sampai 02.00 dini hari untuk membersihkan bahan-bahan,” terangnya.
Ia menyebut ada dua kali proses memasak setiap hari. Pemasakan pertama dimulai pukul 02.00 dini hari untuk kebutuhan makan pagi.
“Pukul 02.00 dini hari itu masih persiapan bumbu. Untuk makanan utamanya, nasi, kemudian lauk nabati dan hewani dimasak pukul 03.00 sampai 04.00,” katanya.
Sementara untuk makan siang pukul 12.00, proses memasak dimulai pukul 07.00 hingga 08.00.
Terkait nominal per porsi, Reynaldy menjelaskan bahwa sesuai juknis BGN, porsi kecil sebesar Rp8 ribu dan porsi besar Rp10 ribu
Namun, dalam beberapa ketentuan tertulis Rp13 ribu untuk porsi kecil dan Rp15 ribu untuk porsi besar karena sudah termasuk operasional.
“Jika tertulis Rp15 ribu untuk porsi besar dan Rp13 ribu untuk porsi kecil, selisih Rp5 ribu itu untuk operasional. Rinciannya Rp3 ribu untuk operasional dan Rp2 ribu untuk insentif sewa yayasan atau mitra, karena sistem BGN itu menyewa lahan. Jadi, standar nominal nasional itu sudah termasuk operasional,” jelasnya.
Memasuki Ramadan, pihaknya masih menunggu arahan terbaru.
“Sejauh ini kami masih menunggu arahan. Insyaallah nanti pukul 14.00 ada arahan terbaru untuk pemenuhan makan saat Ramadan. Jika mengingat tahun lalu, menu dikemas seperti makanan kering atau takjil,” ungkapnya.
Distribusi tetap dilakukan seperti biasa ke sekolah maupun Posyandu, dengan pengambilan di titik kumpul.
“Kami antar ke sekolah. Untuk Posyandu juga di Posyandu. Pengambilannya di titik kumpul seperti biasa,” katanya.
Waktu pendistribusian pun tetap sama, hanya jenis makanannya yang berbeda.
“Waktunya tetap sama. Hanya saja makanannya bukan makanan basah, melainkan makanan kering. Kecuali untuk penerima manfaat yang tidak berpuasa, misalnya nonmuslim atau yang tidak wajib berpuasa seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” jelasnya.
Karena itu, pendataan ulang akan dilakukan menjelang Ramadan.
“Harus ada pendataan lagi, nanti bekerja sama dengan kader dan Person in Charge (PIC) sekolah,” tutup Reynaldy.
