Samarinda, infosatu.co — Dinas Perhubungan (Dishub) Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Polresta Samarinda menerapkan rekayasa lalu lintas berupa sistem buka-tutup di Jembatan IV Samarinda.
Kebijakan ini dilakukan untuk mengurai antrean truk bermuatan besar yang menumpuk akibat penutupan Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu).
Jembatan Mahakam Ulu saat ini tengah menjalani uji beban oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan dan Jalan (LLAJ) Dishub Kaltim, Heru Santoso, menjelaskan bahwa sistem buka-tutup diberlakukan khusus bagi kendaraan roda berat dengan durasi awal setiap 15 menit.
“Skema tersebut ditetapkan setelah petugas turun langsung ke lapangan untuk mempelajari pola pergerakan dan antrean kendaraan,” ujarnya Kamis malam, 29 Januari 2026.
Menurut Heru, jarak lintasan dari satu titik ke seberang mencapai sekitar 1,3 kilometer sehingga membutuhkan waktu tempuh yang tidak singkat. Oleh karena itu, durasi 15 menit dinilai masih ideal.
Namun, skema tersebut bersifat dinamis dan dapat disesuaikan dengan kondisi antrean di lapangan, terutama pada jam-jam tertentu seperti menjelang pagi hari.
Pada penerapan awal, sempat terjadi kemacetan panjang, khususnya dari arah APT Pranoto Samarinda Seberang hingga ke kawasan SMP 36.
Kondisi tersebut terjadi karena banyak kendaraan yang telah mengantre sejak pagi hari, bahkan sejak pukul 10.00, sehingga memenuhi hingga mulut Jembatan Mahakam 1.
Menjelang pukul 22.00, kendaraan mulai bergerak, namun sebagian pengemudi kebablasan dan berhenti di luar titik yang telah ditentukan.
Situasi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi petugas di lapangan.
Dishub Kaltim bersama kepolisian melakukan konsolidasi personel, termasuk kemungkinan penambahan petugas dan penjagaan di titik-titik tertentu.
Sosialisasi kepada pengguna jalan juga terus dilakukan, dengan harapan pengemudi mendekati waktu pembukaan jembatan baru bergerak, agar tidak mengganggu arus lalu lintas lainnya.
Heru menegaskan bahwa pada hari pertama penerapan rekayasa lalu lintas, petugas masih mempelajari pola pergerakan kendaraan. Setelah beberapa kali pelaksanaan, pola mulai terbaca.
Ia mencontohkan kepadatan di kawasan Jalan Sutami yang terjadi di awal, namun berangsur berkurang sebelum pukul 24.00 sehingga sebagian personel dapat ditarik.
“Dinamika di lapangan bisa berubah-ubah. Mungkin besok malam sudah berbeda, tapi paling tidak polanya sudah mulai terbaca,” tegas Heru.
Terkait durasi pemberlakuan rekayasa lalu lintas, Heru menyebut hal tersebut bergantung pada penutupan Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu).
Kewenangan terkait lamanya penutupan jembatan berada di pihak PUPR. Meski demikian, evaluasi terus dilakukan, bahkan sejak hari pertama pelaksanaan.
Dishub Kaltim juga mencermati berbagai keluhan dari para pengemudi, terutama sopir angkutan barang dan bahan pokok yang membutuhkan distribusi cepat.
Menanggapi hal itu, Heru menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan memastikan rekayasa lalu lintas akan terus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
“Rekayasa lalu lintas ini bersifat dinamis. Jika nanti ditemukan komoditas tertentu yang tidak memungkinkan tertahan, bisa diberikan diskresi agar dapat menyeberang,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya akan memberi perhatian khusus terhadap jenis komoditas yang diangkut agar kebijakan tersebut tidak sampai merugikan masyarakat.
