infosatu.co
TOKOH

Tanpa Panggung, Mesin Ketik Jadul Menjadi Ruang Ngamen Puisi Firdaus

Teks: Firdaus, mesin ketik jadul dan puisi yang lahir dari cerita.

Samarinda, infosatu.co – Firdaus, atau Muhammad Akmal Firdaus, lahir di Tanjung Redeb, 16 April 1999. Dengan nama pena Kristal Firdaus, ia memilih jalan sastra yang tidak menunggu panggung.

Teks: Mesih Ketik Jadul

Ia menjemput cerita, mendengarkannya, lalu mengubahnya menjadi puisi di tempat cerita itu diucapkan. Praktik itu ia sebut sebagai ngamen puisi.

Pilihan tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Ide tersebut sebenarnya telah lama berdiam di kepalanya.

Bertahun lalu, ia melihat seorang penulis bernama Theoresia Rutme menulis puisi menggunakan mesin ketik jadul di ruang publik.

Pemandangan itu menetap. Firdaus membawa mesin ketik kakek nya ke Samarinda, namun lama tak pernah digunakannya.

“Ada keinginan, tapi belum ada momennya,” ujarnya.

Momentum itu datang ketika ia aktif berkegiatan di Sastra Kaltim, sebuah ruang berkumpul dan menulis.

Dari percakapan dengan kawan-kawan, ia didorong untuk mencoba ngamen puisi karena praktik tersebut mulai dilakukan secara lebih masif.

Sejak awal tahun ini, Firdaus akhirnya turun ke ruang publik—bukan sebagai penyair yang membacakan karya, melainkan sebagai pendengar.

Latar belakang akademiknya justru memberi jarak yang menarik dengan jalur yang ia pilih.

Firdaus sendiri berasal dari Berau dan merupakan lulusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Mulawarman.

Ia telah menyukai dunia menulis sejak SMA, namun baru benar-benar menulis secara serius pada 2021 saat kuliah.

Dari proses tersebut, karya tertulis pun sempat lahir. Tahun lalu, ia menerbitkan buku puisi berjudul “Menidurkan Bahaya”.

Namun ngamen puisi bukan soal produktivitas karya. Ada dua alasan mendasar yang mendorongnya.

Pertama, ia ingin membuat puisi lebih ramah. Menurut Firdaus, puisi selama ini sering dianggap jauh, berat, dan hanya milik ruang sastra tertentu.

Ia ingin puisi kembali ke manusia—kepada pengalaman sehari-hari, kepada luka yang tidak sempat diceritakan.

Alasan kedua berangkat dari nilai yang lebih personal. “puisi itu murah, mendengarkan pun murah. Dan didengarkan adalah hak setiap jiwa,” ungkapnya.

Karena itu, ia menerapkan sistem bayar seikhlasnya. Tidak ada tarif, tidak ada paksaan.

Dalam praktiknya, Firdaus lebih sering mendengar daripada menulis.

Ia mendengarkan cerita tentang keluarga, kehilangan, hubungan dengan orang tua, kegagalan, dan perjuangan hidup. Ada yang memilih diam. Ada pula yang menangis bersama dengannya.

Beberapa pertemuan meninggalkan jejak yang lebih dalam. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi saat ia ngamen puisi di TVRI. Musik di lokasi cukup keras, tetapi percakapan yang terjadi justru sunyi.

Ia dan orang yang bercerita menangis bersama cukup lama. Puisi yang lahir dari pertemuan itu terasa sangat berat.

Dari situ, ia memahami ritme emosional sebuah pertemuan. Menurut Firdaus, puisi pertama dari sebuah pertemuan hampir selalu berat.

Ia tidak langsung menulis. Ia memilih diam, membayangkan dirinya berada di posisi orang tersebut, dan membiarkan kata-kata datang perlahan.

Ia juga tidak membatasi durasi cerita. Pernah mencoba, tetapi sering kali cerita mengalir lebih lama. Ia membiarkannya. Baginya, mendengar bukan soal efisiensi.

“Dari begitu banyak cerita yang aku dengar, aku jadi belajar bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendirian dalam perasaannya. Cerita-cerita tersebut memiliki kemiripan,” tuturnya.

Dalam mendengar cerita orang lain, ia kerap menemukan bayangan dirinya sendiri. Atau justru sisi yang berlawanan. Dari sanalah empati bekerja.

Persoalan dengan orang tua, luka masa kecil, dan pergulatan hidup menjadi tema yang berulang.

Hal yang paling membuatnya merasa “tepat berada di jalan ini” adalah kepercayaan. Banyak orang datang sebagai penyintas.

Mereka membawa cerita yang telah dilewati, dan memilih duduk, percaya, lalu berbicara.

“Aku senang karena bisa menghadirkan ruang di mana orang percaya dan mau bercerita,” ujarnya.

Kepercayaan itu ia jaga dengan metode yang ia bangun sendiri. Sebelum memulai, Ia selalu bertanya apakah seseorang sudah memiliki cerita atau masih bingung.

Jika bingung, ia menyediakan 73 pertanyaan. Orang tersebut boleh memilih tiga.

Salah satu pertanyaan wajibnya berbunyi: “Jika kesedihan memiliki wujud, benda apa bentuknya?” Karena kesedihan bersifat abstrak, jawabannya selalu berbeda.

Ada yang menyebut kursi karena kesedihan memaksa mereka terus duduk di situ.

Jawaban-jawaban inilah yang menjadi pintu masuk puisi. Semakin terbuka seseorang bercerita, semakin personal puisi yang lahir.

Selain itu, bagi Firdaus, respons orang-orang yang ditemuinya hampir selalu positif. Tidak ada yang secara terang-terangan menolak. Ada yang hanya diam.

Respons yang paling membekas baginya adalah ketika seseorang mengatakan bahwa puisinya membuat mereka merasa dirinya tertulis apa adanya.

Pengalaman paling emosional justru datang dari ruang paling sederhana yang terjadi di sebuah warung, tempat dimana Firdaus sering membeli makanan disana. Firdaus dan seorang ibu pemilik warung tersebut menangis bersama cukup lama.

Ibu tersebut menceritakan keluarganya, orang tuanya, dan perjuangannya dalam membangun usaha.

“Bagi aku, momen itu menegaskan satu hal: puisi bukan soal indah, melainkan soal kejujuran,” ujarnya.

Dari praktik mendengar, ia kembali pada dasar menulis. Ketika ditanya satu hal terpenting bagi siapa pun yang ingin menulis puisi, Firdaus menjawab membaca.

Menurutnya, menulis tanpa membaca adalah mustahil.

Dari kebiasaan membaca itulah, Firdaus menilai proses menulis tidak sekadar soal teknik, tetapi juga tentang kesadaran akan arah dan tanggung jawab karya.

Baginya, tujuan menulis tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh dari perjumpaan dengan banyak bacaan, ruang, dan pengalaman.

Kesadaran tersebut pula yang kemudian membawanya melihat pentingnya ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Firdaus berharap perhatian terhadap literasi dan sastra dapat terus diperkuat pemerintah, khususnya melalui pengelolaan dan pemanfaatan ruang-ruang perpustakaan.

Menurutnya, masih diperlukan upaya bersama untuk membuka ruang yang lebih luas bagi penulis muda, termasuk mereka yang telah menerbitkan karya dalam bentuk buku.

“Saya sering berpikir, kenapa perpustakaan-perpustakaan tidak melacak penulis muda yang ada di Kaltim. Sederhana saja, cukup disediakan satu rak khusus yang memang berisi karya penulis muda Kaltim, supaya karya mereka bisa lebih dikenal banyak orang,” ujar Firdaus.

Selain praktik personal, kerja kolektif juga ia jalani. Firdaus bersama komunitas Amaraa Press menerbitkan zine sastra.

Zine tersebut dibuat ringan, personal, dan membahas satu topik per edisi agar sastra tidak terasa menakutkan.

Dicetak murah, zine menjadi jembatan bagi penulis muda yang kesulitan menerbitkan buku.

Ruang ngamen puisinya pun terus berpindah. Firdaus telah menjalani ngamen puisi di banyak tempat—Tenggarong, Pasar Petang di Ladaya, Jakarta loc dan Kalijaga,  TVRI, konser, hingga ruang pop-up.

Sebagian besar undangan datang dari tawaran, meski ada juga momen ia meminta izin sendiri untuk tampil.

Menutup ceritanya, Firdaus meninggalkan pesan sederhana: jangan takut pada hal yang belum dipahami.

“Ketakutan sering lahir dari jarak dan prasangka. Ruang bisa diciptakan, cerita bisa dibangun, dan dunia bisa ditulis ulang melalui karya,” tuturnya.

Pada akhirnya, ngamen puisi baginya bukan tentang tampil. Ia adalah praktik mendengar dan upaya kecil menjaga satu hak paling dasar manusia: hak untuk didengarkan.

Related posts

Satyalancana untuk Dokter Panuturi, Dua Dekade Menjaga Layanan Kesehatan Masyarakat

Firda

Menjaga Kebenaran di Era Viral, Catatan Wartawan MSI Group dari Jakarta

Andika

Dari Sastra ke Media Sosial, Cerita Dinda Maya Sari Menjalani Proses dan Adaptasi

Andika

You cannot copy content of this page